fiksi mini
-
Fiksi Mini – Monolog Satu Sisi
Dua anak manusia itu nampak asik dengan dunianya sendiri. Bersama namun tak terlihat bersama. Perempuan berbaju putih nampak duduk santai tersenyum manis memandang langit yang hari itu cerah berwarna biru dengan hamparan awan putih yang indah. Sedangkan di belakangnya perempuan lain dengan rambut berantakan, kaos hitam lusuh tampak sedang berpikir. Dengan dahi yang berkerut… Continue reading
-
Fiksi Mini – Terlangkahi
Suara ramai langkah kaki yang tiada henti dan teriakan kecil membangunkan Bina pagi ini. Membuka matanya lalu perlahan mencoba terbiasa dengan sedikit cahaya yang masuk lewat celah kecil persegi yang ada tepat di atas pintu kamarnya. Pintu kamarnya diketuk kembali. Merenggangkan badannya lalu meraih jam weker yang ada di samping tempat tidurnya. Jam 4.15. Masih… Continue reading
-
Fiksi Mini – Lelaki Pembawa Tawa
Dengan semangat bocah lelaki itu mengayuh sepedanya dengan kencang. Senyumnya yang manis tak hilang meski ia tampak kelelahan. Sesampainya di rumah bercat coklat, langsung saja ia taruh sepedanya begitu saja di halaman rumah. Lari dengan kencang menuju belakang rumah untuk menemui sang ibunda. “Maaa.. aku keterima, Mah,” ucapnya dengan gembira sambil memeluk ibunya… Continue reading
-
Fiksi Mini – Bukan Barang
Dengan tergesa-gesa, anak perempuan itu berlari dari dapur rumahnya bersiap untuk menyambut orang yang beberapa saat lalu memasuki pekarangan rumah. Dengan senyum yang mengembang sempurna di bibir tipisnya, anak itu menggenggam sebuah cupcake yang telah ia siapkan berdua dengan bundanya. Namun, langkah itu tiba-tiba berhenti dan kue mungil di tangannya meluncur dengan bebas begitu… Continue reading
-
Fiksi Mini – Pikiran Negatif itu Terus Mengakar
Tama termenung di kamarnya. Berbagai pertanyaan menyelinap dalam pikirannya memaksanya untuk bertanya, tapi ia enggan, lebih karena takut akan mendapat jawaban yang tak dia inginkan. Tapi pertanyaan itu selalu berputar-putar dalam kepalanya, setiap hari pertanyaan itu semakin besar, “Apa yang salah dalam dirinya?” atau lebih tepatnya, “Apa yang salah dari dirinya sampai mereka memperlakukan… Continue reading
-
Fiksi Mini – Lelah Ingin Keluar!
Tama mengerjapkan matanya. Mencoba terbiasa dengan cahaya lampu kamarnya yang masih gelap lalu perlahan mulai mengumpulkan kesadarannya. Setelahnya, sebelum seorang suara teriakan meneriakkan namanya, ia bergegas duduk sebentar dan langsung mengambil ikat rambut yang berada di atas meja belajarnya. Suara kunci kamarnya yang diputar, menandakan ia siap untuk menjalani hari ini #diRumahAja. Sejujurnya,… Continue reading
-
Fiksi Mini – Meetup dan Curhat
Siangnya, setelah membayar taksi yang mengantarnya, Rain berjalan pelan menuju sebuah restoran milik salah satu teman sekolahnya, Karin. Saat memasuki restoran, Rain mengingat-ingat bahwa sudah dua bulan ia tak berkunjung, yang itu berarti sudah dua bulan juga ia absen setiap teman-temannya kumpul. Setelah tersenyum singkat kepada pegawai yang menjaga di pintu masuk restoran, ia langsung… Continue reading
