fiksi mini angst
-
Fiksi Mini – Perasaan yang Tak Terbawa Pergi

“Lebak Bulus-Lebak Bulus” Seruan itu terus menggema tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Sebuah bus berhenti tak lama setelahnya. Meskipun itu bus yang akan membawaku pulang, nampaknya kakiku masih enggan untuk beranjak. Langit sore ini begitu indah. Langit biru yang berpendar merah muda, fenomena yang jarang terjadi tapi… langitnya cantik. Sayangnya, meskipun menatap hal yang… Continue reading
-
Rasa yang Berbeda
Kamu tau apa yg lucu? Berada di sini tapi dengan suasana yang berbeda. Rasanya seperti bukan seperti ini, bukan yang ini yang aku cari. Bukan seperti ini yang ku ingin. Aku hampir pada titik akhir dengan semuanya. Keseruan ini nyatanya cuma di awal. Berada di pertemuan awal-awal yang membuatku penasaran. Memang ya, semua memang tak… Continue reading
-
Fiksi Mini – Monolog Satu Sisi
Dua anak manusia itu nampak asik dengan dunianya sendiri. Bersama namun tak terlihat bersama. Perempuan berbaju putih nampak duduk santai tersenyum manis memandang langit yang hari itu cerah berwarna biru dengan hamparan awan putih yang indah. Sedangkan di belakangnya perempuan lain dengan rambut berantakan, kaos hitam lusuh tampak sedang berpikir. Dengan dahi yang berkerut… Continue reading
-
Tentang Kita yang Tak Mengerti Makna Kompromi
Jujur, sejak pernah mengalami perasaan ini, aku tak ingin kembali merasakan perasaan ini. Perasaan menyedihkan. Ingin meminta ruang dan waktu tapi tak ingin terlihat mengemis kala tak ada sapa yang berbalik. Nyatanya, manusia memang nggak bisa bergantung sama manusia lain walaupun ada istilah manusia nggak bisa hidup tanpa manusia lain. Kontradiktif. Saat tanganku terulur dan… Continue reading
-
Fiksi Mini – Terlangkahi
Suara ramai langkah kaki yang tiada henti dan teriakan kecil membangunkan Bina pagi ini. Membuka matanya lalu perlahan mencoba terbiasa dengan sedikit cahaya yang masuk lewat celah kecil persegi yang ada tepat di atas pintu kamarnya. Pintu kamarnya diketuk kembali. Merenggangkan badannya lalu meraih jam weker yang ada di samping tempat tidurnya. Jam 4.15. Masih… Continue reading
-
Fiksi Mini – Lelaki Pembawa Tawa
Dengan semangat bocah lelaki itu mengayuh sepedanya dengan kencang. Senyumnya yang manis tak hilang meski ia tampak kelelahan. Sesampainya di rumah bercat coklat, langsung saja ia taruh sepedanya begitu saja di halaman rumah. Lari dengan kencang menuju belakang rumah untuk menemui sang ibunda. “Maaa.. aku keterima, Mah,” ucapnya dengan gembira sambil memeluk ibunya… Continue reading
-
Fiksi Mini – Bukan Barang
Dengan tergesa-gesa, anak perempuan itu berlari dari dapur rumahnya bersiap untuk menyambut orang yang beberapa saat lalu memasuki pekarangan rumah. Dengan senyum yang mengembang sempurna di bibir tipisnya, anak itu menggenggam sebuah cupcake yang telah ia siapkan berdua dengan bundanya. Namun, langkah itu tiba-tiba berhenti dan kue mungil di tangannya meluncur dengan bebas begitu… Continue reading
