Fiksi Mini – Meetup dan Curhat

           Siangnya, setelah membayar taksi yang mengantarnya, Rain berjalan pelan menuju sebuah restoran milik salah satu teman sekolahnya, Karin. Saat memasuki restoran, Rain mengingat-ingat bahwa sudah dua bulan ia tak berkunjung, yang itu berarti sudah dua bulan juga ia absen setiap teman-temannya kumpul. Setelah tersenyum singkat kepada pegawai yang menjaga di pintu masuk restoran, ia langsung mengedarkan pandangan mencari teman-temannya.

Baca Selengkapnya di: Cerpen – Aneh, Kita Bahkan Tidak Pernah Dekat (Karin)

           Sejujurnya, Rain selalu merasa tenang dan nyaman dengan restoran milik Karin ini. Dengan konsep desain interior yang apik dan foto-foto klasik, pengunjung akan sangat menikmati makanan khas Jawa maupun Modern yang resepnya didapat langsung dari hasil hobi sang pemilik.

           Di pojok restoran, juga terdapat buku-buku yang disediakan untuk dinikmati sambil menunggu pesanan diantar, itu juga yang dulu menjadi bahan ejekan-nya dengan Devi saat pertama kali datang ke restoran ini. Rain dan temannya yang lain sangat tahu, Karin dan buku tidak pernah bersahabat. Wanita itu memang tidak suka baca. Lalu dengan alasan untuk membuat anaknya hobi baca, buku-buku itu pun hadir. Berharap anaknya kelak tidak seperti mamanya yang baru baca satu halaman sudah mengantuk.

Baca Selengkapnya di: Cerpen – Berbagi Hal yang Tak Ingin Dibagi (Devi)

           “Rain,” teriak seseorang menyadarkan Rain. Rain mengedarkan pandangan mencari siapa yang memanggilnya. Di depan rak-rak buku terlihat seorang perempuan melambaikan tangan kepadanya. Rain pun bergegas menghampiri perempuan yang berteriak tadi, temannya yang lain, Bina.

           “Ayuk kita sambit, ini dia artis kita yang syuperr sibuukk,” Bina lalu bertepuk tangan menyambut Rain yang berjalan ke arahnya. Satu temannya yang lain, yang sudah ada dimeja itu, Gia, menatap dengan senyum kecil yang kontras sekali dengan Bina yang heboh.

           “Gilss, sibuk banget ya, sampai baru nongol sekarang?” Bina kembali bertanya dengan bibir merah menyalanya. Bibirnya memang selalu on point. Memutar mata melihat sambutan Bina, ia memeluk kedua temannya itu bergantian.

           Masih dengan senyum kecil, Gia lalu menunjuk bangku di depannya, menyuruh Rain duduk, “Biasalah. Kaya nggak tau aja. Lagi musim kawin gini, mana sempat gue pulang.”

           Rain lalu tersenyum melihat Gia lalu berkerut. Dia merasa ada yang aneh dengan senyuman temannya itu. Ia merasa senyum Gia yang sekarang tak berubah dengan yang terakhir mereka bertemu, dua bulan lalu. Gia memang tersenyum tapi terselip sebuah kesedihan di senyumannya itu.

           Rain lalu mengalihkan pandangan dengan melihat Bina yang berada di samping Gia, “Makin gila ya, Bin?” ia mencebik merespon kelakuan heboh Bina.

           “Jangan salah. Itu nama tengah gue,” Bina berujar bangga. Rain yang mendengar hanya mendengus, lalu menatap Gia yang tengah melamun dan bertanya, “Eh, kenapa lu, Gi? Diem-diem aja. Nggak suka gue dateng nih?”

           Rain yang tidak mendapat respon lalu menatap lurus Gia yang masih belum sadar juga. Bina yang di samping Gia lalu menyenggol lengan Gia kasar sampai perempuan itu tersadar, “Ckck. Ngelamun mulu lu. Mikirin apa sih? Hutang lu numpuk hah?” Bina berdecak kesal setelah melihat Gia sudah kembali dari pikiran antah berantahnya tadi, “Itu Rain tanya.”

           “Ah ya. Kenapa?” Gia bertanya kembali karena merasa tidak mendengar pertanyaan Rain diikuti dengan gerakannya meminum air berwarna jingga yang ada dalam gelas di depannya.

           Rain memutar mata, rasanya ia malas mengulang kembali pertanyaannya tadi, “Lu kenapa heh?”

           “Gue? Nggak apa-apa kok. Emang yang lu lihat gue kenapa?” Rain mungkin akan percaya dengan apa yang Gia katakan tapi mata Gia mengucapkan sebaliknya. Rain bisa lihat bahwa Gia sedang tidak baik-baik saja.

           Ia lalu melihat kearah Bina dan bertanya lewat tatapannya. Bina yang merasa ditanya berbicara tanpa suara dan berkata “Yang dulu,” dan Rain hanya menganggukkan kepala, tanda mengerti.

           “Karin mana nih? Kok nggak keliatan?” Tanya Rain yang juga memperhatikan suasana restoran seraya mencari Karin, ia berpikir mungkin ia akan menemukan Karin lewat matanya. 

           “Masih di dalam daritadi belum keluar. Nggak tau lagi apa. Gue sih udah suruh si Anis manggil dia,” Bina menyebut salah satu pegawai Karin dengan mata yang menatap ke arah layar handphone di genggamannya.

           Rain lalu menganggukkan kepala, tanda mengerti, “Sayang banget ya kurang satu,” Rain berucap menyesalkan absennya Devi pada acara kumpul mereka siang ini. 

           “Yang penting kan kumpul, Rai. Ya, semoga aja kumpul berikutnya dia bisa ikut,” Gia tersenyum meyakinkan.

           “Nah itu, poinnya. Lu pesen aja dulu, Rai.” Bina kembali bersuara. Setelahnya Rain memanggil pelayan kafe dan memesan minum.

Baca Selengkapnya di: Cerpen – Pertemuan itu Menuju Akhir (Bina)

           ***

           “Eh, itu Karin,” Bina menunjuk pada seorang wanita berkerudung merah yang baru keluar dari sebuah ruangan di belakangnya.

           “Weitss, datang juga, Rai,” Karin lalu duduk di bangku kosong di samping Rain. Rain lalu mengangguk dengan senyum lebar dan memeluk temannya itu. Setelahnya, Rain lalu melirik ke arah Gia yang tiba-tiba berdiri.

           “Gue ke toilet dulu,” ucap Gia lalu berjalan meninggalkan mereka bertiga yang menatapnya sedih. Entah, Rain bingung harus bagaimana dengan temannya itu.

           “Sebenernya gue mau cerita, eh Gia nya ke toilet. Yaudah tunggu dia balik dulu deh.” Karin berujar tiba-tiba.

           “Zulfa mana, Rin?” Bina lalu menanyakan keberadaan anak Karin.

           Jangan berpikir bahwa mereka berempat masih single. Kedua temannya, Karin dan Gia memang sudah berkeluarga. Malah, Karin yang menikah paling awal di antara mereka juga sudah mempunyai satu orang anak. Sedangkan Gia masih menunggu kabar bahagia itu datang, dan Rain berharap itu secepatnya. Lalu, ada Bina yang masih betah main-main dan dirinya sendiri yang masih ragu untuk menikah. Untuk Devi, temannya yang nggak ikut kumpul, sudah ada pacar, sih, tapi belum ada tanda-tanda dia mau menikah.

           Karin menatap Bina lalu menjawab, “Zulfa ada kok. Di dalam tapi, lagi tidur.”

           Rain lalu menatap kedua temannya itu bergantian, “Gia masih kelihatan sama kaya yang terakhir gue ikut ngumpul. Belum selesai juga masalahnya dia?” Rain lalu mengernyit bingung, “Di grup nggak ada omongan kirain udah selesai.”

           Bina yang mendengar lalu mendengus kesal seraya meraih gelas yang ada di depannya. Setelah menegak sedikit minuman itu, ia menunjuk Karin bermaksud menyuruhnya menjelaskan pada Rain, “Waktu terakhir kita bicarain di grup itu, kan dua hari abis itu kita kumpul. Nah si Gia bilang nggak usah ngomongin masalah dia di grup. Jadi kita ya diam aja. Kalau dia mau cerita juga nanti dia ngomong kok. Kaya gitu aja kan dia biasanya,” Karin menjelaskan.

           “Kalau kata gue ya, dia itu terlalu nething sama suaminya sendiri,” ucap Bina tiba-tiba.

           “Entahlah, dia kenapa bisa kaya gitu, gue juga nggak paham. Lagian kalau gue liat Pandu bukan tipe cowok yang bakal ninggalin Gia pas dia lagi terpuruk. Bahkan, Pandu juga keliatan sayang banget sama Gia. Nggak mungkin lah dia ninggalin Gia cuma karena belum ada anak,” Karin mengutarakan pendapatnya.

           “Iya sih. Gue juga berpikir gitu,” Rain mengangguk kepala menyetujui pendapat Karin, “Perlu gak sih kita ketemu Pandu?” Tanya Rain ragu pada Karin.

           “Nggak usah,” ujar Bina lantang. Membuat Rain langsung beralih menatapnya, “Udah deh. Nggak usah terlalu ikut campur masalah keluarga Gia. Maksud gue gini. Dia kaya gitu ya karena pikirannya dia sendiri. Kalau pun emang mau bantu nggak perlu libatin Pandu,” ucap Bina menambahkan.

           “Gue setuju sih sama Bina. Walaupun kita temannya, kita juga kan nggak ada hak buat ikut campur masalah rumah tangga Gia. Nggak enak juga nanti sama Pandunya,” Karin mengangguk membenarkan.

           “Lagian ya, Rai, menurut gue nih, dia itu kan baru nikah ya. Yaudah sih nikmatin dulu aja gitu berdua sama Pandu, lagi kenapa ngebet banget mau punya anak sih,” Bina berujar gemas, “Kan juga nggak semua pasangan baru abis nikah langsung dapat anak kaya Karin. Kita sebagai teman ya doain aja, semoga Gia…” ucapan Bina berhenti kala sosok Gia mulai mendekat ke arah meja tempat mereka duduk.Rain dan dua sahabatnya yang melihat Gia pura-pura menyibukkan diri masing-masing seolah tidak ada pembicaraan selama Gia ke toilet.

Baca Selengkapnya di: Cerpen – Waktu Berlalu, Aku Tetap Tinggal (Gia)

           Saat Gia sudah duduk di depan Rain, Karin lalu menatap ketiga temannya itu, “Oh ya, gue mau cerita,” mereka pun melihat dan fokus dengan apa yang akan dibicarakan oleh Karin.

           “Jadi gini, beberapa hari yang lalu, gue nggak sengaja liat pop-up pesan chat di handphone-nya Aga. Isinya tuh ajakan buat ketemu. Awalnya gue coba berpikir positif, mungkin itu temen kerjanya yang mau ketemu dan saat itu gue juga pikir itu laki-laki walaupun nomernya belum disimpan Aga.

           Terus, baru tiga hari yang lalu masuk chat lagi dari nomer yang sama ke nomernya Aga. Saat itu, Aga lagi mandi mau berangkat ke kantor, jadi gue iseng liat profil picture-nya, dan ternyata itu perempuan. Chatnya tuh isinya ucapan makasih buat semalem. Maksudnya apa coba? Mana bisa gue nggak curiga kalau semalam itu Aga emang lembur dari kantor,” cerita Karin menggebu-gebu. Rain yang berada di sampingnya mencoba meredakan emosinya dengan mengusap pelan bahu perempuan itu.

           “Lu udah tanya si Aga?” Bina menanggapi.

           “Udah. Setiap hari gue tanya mulu sama dia. Jawabannya juga sama,  dia bilang katanya handphone-nya dipinjem sama temennya, dan perempuan itu menganggap nomer Aga itu nomer temannya itu. Sampai sekarang pun gue masih gak percaya sama alasan dia. Gue tau banget dia bohong,” Karin lalu meraih gelas minum Rain dan meminum air itu cepat, “Akhirnya gue nekat buat ikutin dia kerja kemaren. Eh, gue malah ketauan dan dia malah balik marah ke gue. Gue yang seharusnya marah di sini. Kenapa dia ikutan marah gitu. Ketauan banget pasti dia lagi nyembunyiin sesuatu dari gue,” lanjut Karin dengan emosi.

           Gia merapihkan anak rambutnya lalu menyelipkan di belakang telinga seraya berujar pelan, “Rin. Bukannya dulu lu yang ngajarin gue buat percaya sama suami sendiri?”

           Rain yang mendengar setuju dan membenarkan.

           Karin yang mendengar mendengus marah, “Beda, Gi. Ini tuh beda kasusnya. Kalau Pandu selingkuh lu pasti gak akan bisa setenang itu, kan?” pertanyaan Karin bagai boomerang untuk Gia.

           Gia yang mendengar langsung tertunduk lesu dan Bina yang melihatnya hanya berdecak kesal dengan sifat Karin yang bicara tanpa rem saat marah. “Eh tapikan orang marah dikuasai setan. Mana ngerti dia bener atau salah,” batin Bina membenarkan.

           “Gini ya, Rin. Yang dibilang Gia ada benernya kok. Lu harus percaya sama Aga, dan marahnya Aga bisa jadi ya karena merasa lu nggak percaya sama dia sampai lu harus buntutin dia gitu. Coba bicarain berdua pas kalian udah tenang,” Rain mencoba menengahi.

           “Tapi, Rai. Gimana mau ngobrol serius kalau dia tuh selalu sibuk sama kantornya. Entah beneran ngantor apa bukan,” Karin mendengus kesal.

           “Gue si sependapat sama Rain,” Bina lalu menghempaskan badan ke sandaran kursi kasar, “Udah deh. Lu mending turunin dulu emosi lu. Gua yakin deh kayanya Aga males ngomong sama lu karena lu nya juga masih emosi gini,” Bina juga terbawa ikutan kesal.

           Gia yang mendengar hanya mengangguk kepala, “Udahan ah. Udah jam segini juga. Bosen gue dengerin problem ibu-ibu muda ini,” Bina berkata malas dan langsung berdiri berniat pergi.

           “Mau kemana lu?” tanya Rain cepat.

“Gue ada janji sama someone gue,” Bina berucap dengan cengiran nakal khasnya.

           “Anjir, ini belum selesai,” Rain berucap kesal melihat Bina yang sudah selesai membereskan barangnya.

           “Ckck. Lu aja dulu lah nasihatin, tar kalau udah dingin baru giliran gue,” Bina lalu memeluk sahabatnya bergantian dan berjalan menjauhi ketiga temannya. Rain yang melihat hanya menggelengkan kepala beberapa kali. Karin yang mendengar hanya mendengus kesal dengan Bina. Ya Karin dan Bina memang suka berantem gitu. Rain dan Gia sudah maklum.

           “Udah ya, Rin. Lu kontrol dulu emosi lu. Nanti kalau udah dingin baru deh lu rancang waktu yang tepat buat bicara yang serius sama Aga. Gue yakin kok Aga nggak seperti yang lu tuduh. Yakan, Gi?” ucap Rain meminta bantuan Gia. Gia yang mendengar hanya menganggukkan kepala dan membuat poni yang menutupi jidatnya bergerak lucu.

Baca Selengkapnya di: Cerpen – Benang Merah Tersembunyi (Rain)

#Day22 #OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #RamadanDitengahPandemi #30HariRamadhanDalamCerita #bianglalahijrah

-15Mei2020



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca