Suara ramai langkah kaki yang tiada henti dan teriakan kecil membangunkan Bina pagi ini. Membuka matanya lalu perlahan mencoba terbiasa dengan sedikit cahaya yang masuk lewat celah kecil persegi yang ada tepat di atas pintu kamarnya. Pintu kamarnya diketuk kembali. Merenggangkan badannya lalu meraih jam weker yang ada di samping tempat tidurnya. Jam 4.15. Masih terlalu pagi untuk bangun di hari libur. Tapi ia memang harus bangun. Setelah menekan sakelar lampu agar kamarnya kembali terang, perempuan itu duduk sebentar sebelum berdoa untuk memulai hari ini. Berharap semuanya berjalan dengan lancar. Dan tak ada air mata penyesalan.
–
Setelah memakai baju seragam yang diberikan oleh adiknya, ia melangkah keluar kamar menuju tempat adiknya dirias. Sambil sesekali merapihkan rambutnya, ia memperhatikan adiknya yang tengah dirias dan sudah mengenakan kebaya untuk akad pagi ini. Adiknya berlum menyadari kedatangannya karena sedang dirias di bagian mata. Masih memperhatikan, tiba-tiba adiknya membuka mata dan langsung bersibobrok dengan mata Bina. Senyum hangat ia lemparkan untuk adik satu-satunya yang ia punya.
“Ka Bina udah cantik aja,” ucap adiknya yang masih menatap Bina lewat kaca rias yang ada di depan perempuan itu.
“Ahh. Kamu juga nanti jadi cantik kalau udah selesai dirias. Btw, kenapa gue dikasih seragam yang warnanya beda dari yang lain?” ucap Bina. Ia masih tidak mengerti mengapa hanya ia yang mendapatkan warna berbeda. Ibunya berwarna biru, saudara-saudara yang lain warna kuning, dan tidak ada yang menggunakan seragam berwarna dusty pink seperti yang ia pakai.
“Kan kakak special jadi aku kasih warna yang special juga buat kakak,” ucap adiknya, Jila, sambil melihat kakaknya. Ada sedikit nada sedih yang masuk ke dalam telinga Bina. Seketika Bina langsung terdiam dan menatap adiknya datar. Dia tidak mau dikasihanin.
“Udah berapa kali sih, gue bilang. Dari awal lu pacaran sama Rion juga kalau emang dia jodoh lu dan lu mau nikah duluan, it’s okey. Nggak perlu merasa bersalah karena udah ngelangkahin gue,” ucap Bina lalu berjalan lebih dekat untuk menepuk punggung adiknya. Ia tak ingin menangis sedih hari ini.
“Ya, tapi tetap aja nggak enak,” ucap Jila pelan.
Bina diam sambil masih tetap mengusap lembut penggung adiknya dan memberikan senyum lembut sambil berkata “Nggak apa-apa, Jil.”. Ia alihkan perhatiannya melihat perias yang masih tetap merias Jila saat mereka sedang berbicara tadi. Setelah beberapa saat, ia dipanggil sang ibu di luar. Ia pun pamit dan mengusap pelan kepala adiknya itu.
–
Suara hening menanti prosesi akad nikah yang akan berlangsung beberapa saat lagi. Ruangan itu penuh namun mereka semua seperti sepakat untuk diam untuk lebih khusyuk mendengarkan prosesi ini. Bina yang daritadi menemani adiknya di ruang sebelah lantas menyingkap sedikit kain yang membatasi dua ruangan itu untuk melihat prosesi akad nikah yang sebentar lagi akan berlangsung. Dilihatnya sang ayah sudah berjabat tangan dengan pacar adiknya yang sebentar lagi akan berubah menjadi suami adiknya itu. Dengan satu tarikan napas, proses itu berlangsung dengan cepat. Tanpa sadar setetes air mata jatuh di sudut mata Bina melihatnya. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya untuk melihat adiknya menikah dengan keadaan dirinya yang masih sendiri. Mengusap pelan sudut matanya, ia berbalik dan menghampir sang adik untuk memeluknya erat. Tak dipungkiri hatinya sesak, air mata sudah tergenang di matanya yang siap jatuh kala ia menutup mata. Tapi ia juga bahagia melihat adiknya yang sudah memiliki penjaga yang akan melindungi adiknya itu. Tak lama, sepupunya datang untuk mengabarkan kalau Jila sudah bisa keluar dan menemui suaminya. Setelah memastikan tak ada air mata yang akan keluar, dan menunggu Jila dirapihkan makeupnya karena sempat menangis, Bina lalu menggandeng Jila untuk menemui suaminya.
–
Setelah menyerahkan Jila ke Rion, Bina langsung melarikan diri ke kursi yang berada di ujung ruangan. Seperti sebelumnya, jika memang bisa menghindar, ia ingin sekali pergi dari sini. Nyatanya, ia tak bisa. Ini hari bahagia adiknya, tak etis rasanya jika kakak satu-satunya malah menghilang hanya karena sakit hati dilangkahi sang adik. Tapi, bagaimana, perasaan ini menyesakkan. Bagaimana caranya ia harus kuat di saat hampir semua teman dan bahkan sekarang adiknya telah menikah sedangkan dirinya saja tak tau di mana jodohnya, seperti apa dia atau di mana dia sekarang?
Tapi, ya lagi-lagi hanya dirinya sendiri yang bisa menyemangati dirinya ini. Seperti dulu ketika ia jatuh kali ini saat ia jatuh lagi ia harus tetap berdiri sendiri. Bahagia dalam hidup nggak hanya didapat dari menikahkan? Karena sejatinya, menurut salah satu postingan di sosial media yang pernah ia temui, nikah itu seperti memilih masalah. Dengan siapa kamu ingin menyelesaikan masalah dan berbagi masalah, dan masalah apa yang kamu bisa hadapi? Ia bisa bahagia dengan apa yang ia punya terlepas mungkin akan tetap ada beberapa orang yang menilai itu tak berharga tanpa adanya pendamping. Tapi, apakah hidup harus terus mendengarkan omongan orang yang bahkan nanti nggak peduli ketika kita ditimpa masalah dalam pernikahan. “Semua tentang diri kamu sendiri, Bin. Tak perlu pusingkan yang lain.”
—
-19Jan2021

Tinggalkan Balasan