Tama mengerjapkan matanya. Mencoba terbiasa dengan cahaya lampu kamarnya yang masih gelap lalu perlahan mulai mengumpulkan kesadarannya. Setelahnya, sebelum seorang suara teriakan meneriakkan namanya, ia bergegas duduk sebentar dan langsung mengambil ikat rambut yang berada di atas meja belajarnya. Suara kunci kamarnya yang diputar, menandakan ia siap untuk menjalani hari ini #diRumahAja.
Sejujurnya, Tama merupakan tipe orang yang memilih keluar rumah entah ke rumah teman atau ketempat ramai lain saat dirinya sedang tak nyaman di rumah. Namun karena adanya pandemic, mau tidak mau ia harus tetap ada di rumah saat dirinya tak nyaman dengan suasana rumah. Entah karena omongan ibunya, ayahnya ataupun karena adiknya yang menyebalkan.
Seperti hari ini, masih pagi, tapi ia sudah mendapat teriakan dari ibunya. Menyuruhnya bergegas mencuci pakaiannya sendiri yang telah menumpuk selama dua minggu ini. Belum lagi kata-kata yang dikeluarkan ibunya, benar-benar membuat perasaannya terusik. Dibanding-bandingkan, lagi. Entah sudah berapa kali, nampaknya itu jadi senjata ibunya untuk mengusik ketenangannya. Dengan menelan ludah kasar ia langsung ke kamar mandi untuk segera mencuci baju. Berharap telinganya tuli untuk sementara waktu dan tak mendengar ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut ibunya.
Dua jam setelah ia menyelesaikan mencuci bajunya, ia telah rapi dan wangi setelah mandi dan bersiap untuk membuka laptop, ia berencana untuk menonton film yang belum lama ia download namun, lagi-lagi kesabarannya diuji, menuruti panggilan ibunya ia melangkah ke asal suara itu. Ia diminta menyiapkan bahan masakan yang nantinya akan ibunya masak. Sebenarnya ya tinggal membantu saja, sekarang ada beban tak kasat mata yang menghantuinya.
Jika dulu mungkin ia akan biasa saja karena berpikir adiknya masih kecil dan tak bisa membantu pekerjaan rumah, tapi di saat adiknya sudah besar, mengapa hal remeh seperti ini masih dia yang kerjakan. Pekerjaan-pekerjaan kecil yang seharusnya bisa adiknya kerjakan masih dia yang harus kerjakan hanya dengan alasan adiknya sedang belajar. Tak ingat apa, dia dulu juga belajar, dulu juga ia sekolah. Tapi mana pernah ibunya berpikir seperti itu?
Selesai membantu ibunya, ayahnya kini yang memanggilnya. Meminta tolong untuk membantunya memperbaiki keran air yang bocor. Ya sebagai anak perempuan pertama dengan adik yang perempuan juga, mau tidak mau, ia membagi peran antara membantu ibunya di dapur atau pekerjaan rumah lain dan juga membantu ayahnya untuk memperbaiki kerusakan di rumah. Terus, wajar nggak sih jika Tama lelah? Ia ingin sekali ke luar rumah menghilangkan penatnya pekerjaan di rumah. Dosa nggak sih Tama berpikir bahwa ia tak disayang di rumah? Salah nggak sih Tama berpikir ia mendapatkan perlakuan yang beda di rumah? Apa ini konsekuensinya setelah ia dilahirkan? Tama lelah, Tuhan! Tolongin Tama, Tuhan!
—
Durhaka nggak sih si Tama? Yaallah jangan diikutin yak. Tiba-tiba kepikiran buat cerita jahat begini. Maapin aku 😀
—
#Day24 #OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #RamadanDitengahPandemi #30HariRamadhanDalamCerita #bianglalahijrah
—
-17Mei2020

Tinggalkan Balasan