Tama termenung di kamarnya. Berbagai pertanyaan menyelinap dalam pikirannya memaksanya untuk bertanya, tapi ia enggan, lebih karena takut akan mendapat jawaban yang tak dia inginkan. Tapi pertanyaan itu selalu berputar-putar dalam kepalanya, setiap hari pertanyaan itu semakin besar, “Apa yang salah dalam dirinya?” atau lebih tepatnya, “Apa yang salah dari dirinya sampai mereka memperlakukan dia seperti itu?”
Seperti bukan teman dekat yang harus diprioritaskan, seperti orang asing, seperti dirinya tak pantas untuk mendapat perhatian lebih dari mereka. Tama merasa ia seperti tak mengenal teman-temannya itu. Apalagi setelah hari kelulusan itu yang membuat mereka jarang bertemu. Saat ia mengirimkan pesan, pesan itu akan dibalas esok atau bahkan tidak sama sekali, bahkan beberapa kali hanya begitu saja tanpa balasan. Padahal ia butuh sekali jawaban itu.
Hal lain lagi ketika Tama merasa ingin bercerita di grup yang telah mereka buat, tapi setelah merasa respon yang tak diharapkan, lagi-lagi ia mengurungkan diri untuk bercerita. Padahal kepalanya sudah mau meledak ingin cerita. Akhirnya ya, seperti yang dirinya tahu, ia hanya mampu bercerita seorang diri di buku diary yang setia menemaninya atau pada boneka kesayanganya. Ya walaupun sama-sama tak mendapat respon apapun.
Perasaan negatif Tama kian menjadi saat dirinya melihat ada seorang teman yang selalu mendapat respon cepat kala ingin bercerita. Sudah jelas, rendah dirinya semakin menjadi. Merasa mungkin dirinya juga jarang respon, atau responnya tak diharapkan, atau mungkin ia malah juga sering mengabaikan pesan dari teman-temannya? Atau memang pada dasarnya, kita nggak boleh bergantung pada manusia? Ahh, Tama lelah.
—
Gara-gara baca twitt orang di twitter jadi deh tulisan ini, hem… rada gimana gitu nggak sih tulisannya?
—
-2Juni2020

Tinggalkan Balasan