Fiksi Mini – Lelaki Pembawa Tawa

            Dengan semangat bocah lelaki itu mengayuh sepedanya dengan kencang. Senyumnya yang manis tak hilang meski ia tampak kelelahan. Sesampainya di rumah bercat coklat, langsung saja ia taruh sepedanya begitu saja di halaman rumah. Lari dengan kencang menuju belakang rumah untuk menemui sang ibunda.

            “Maaa.. aku keterima, Mah,” ucapnya dengan gembira sambil memeluk ibunya erat. Wanita paruh baya yang ada dipelukanya kaget sekaligus rasa bangga.

            “Alhamdulillah. Mama senang dengarnya. Anak mama emang hebat. Selamat ya, sayang” perempuan itu mencium keseluruh muka anak lelaki satu-satunya. Mulai dari pipi, mata hingga kening sang anak. Tak sadar air mata perempuan itu terjatuh. Setetes lalu menyusul tetesan yang lain menatap anaknya yang masih berusia empat belas tahun tapi begitu semangat untuk meraih cita-citanya.

            Setelah itu, ia kembali memeluk anaknya dengan erat. Sedikit, rasa khawatir itu muncul kala mengingat ia harus meninggalkan anaknya menjemput cita-cita di negeri seberang.

            Bocah laki-laki itu menatap ruang tunggu bandara yang penuh. Dalam hatinya ia bertekat untuk kembali ke tanah kelahirannya ini saat ia sudah sukses, walaupun ia tahu hal itu berat. Berat untuk bocah seusianya, empat belas tahun. Siapa bocah empat belas tahun yang lebih memilih merantau ke negeri seberang daripada belajar dengan baik? Bahkan saat ini, impian yang ingin ia raih belum pasti. Masih butuh perjuangan keras. Tapi ia yakin dengan apa yang dirinya punya, ia akan membuktikan ucapannya.

            Elusan pelan dan lembut ia rasakan saat ibunya menatapnya lalu mengatakan bahwa ia sudah harus pergi. Memejamkan mata pelan, bocah lelaki itu lalu meraih tangan ibunya dan menggandengnya dan berjalan pelan menuju pintu keberangkatan.

            Kini, bocah lelaki itu telah menjelma sebagai sosok lelaki dewasa usia dua puluh tahun yang telah meraih impiannya. Banyak orang yang menyayanginya, banyak orang yang termotivasi oleh keberhasilannya, banyak orang yang menggantungkan kebahagiannya walaupun hanya untuk mendengarkan tawa lelaki itu.

            Akupun salah satu orang itu. Dengan menjalani kehidupan yang kadang terasa berat, hanya dengan mendengar suaranya hal berat itu terasa lebih ringan. Mendengar suara, tawa, dan melihat senyumnya, mengikis sedikit beratnya hari yang kujalani. Dengan kata motivasi yang ia berikan, memberikanku semangat untuk menjalani esok hari.

            Lelaki itu, terasa dekat, dan aku harap ia akan terus bersinar di manapun ia berada. Berharap tak ada kesedihan yang membuat tawanya hilang. Berharap pada waktu untuk terus membuatnya bahagia dan membuatnya makin terbang tinggi.

-2Nov2020



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca