Fiksi Mini – Perasaan yang Tak Terbawa Pergi

“Lebak Bulus-Lebak Bulus”

Seruan itu terus menggema tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Sebuah bus berhenti tak lama setelahnya. Meskipun itu bus yang akan membawaku pulang, nampaknya kakiku masih enggan untuk beranjak.

Langit sore ini begitu indah. Langit biru yang berpendar merah muda, fenomena yang jarang terjadi tapi… langitnya cantik. Sayangnya, meskipun menatap hal yang menawan, perasaanku malah tiba-tiba meredup. Aku seperti dibawa kembali pada tiga tahun lalu. Saat-saat di mana semangat dan ambisisku untuk bertemu dengan salah satu orang yang aku sayang.

Aku… mengusahakan, dan aku berharap. Tapi ternyata, takdir memang punya cara lain untuk buatku patah. Bahkan hingga tiga tahun berlalu, rasanya masih sama. Menyesakkan. Kusentuh pelan dadaku ketika udara mulai sulit kuraih. Makin lama, tenggorokkanku mulai sakit dan tertekan akibat menahan rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak.

“Kenapa pergi?” jadi pertanyaan yang selalu kutanyakan. Entah pada siapa akan kutemukan jawaban ini. Karena nyatanya, hingga saat ini aku masih menunggu jawab yang tak pernah ada.

Saat semua rasanya lebih mudah aku usahakan, kenapa kau memiliih pergi dan menyerah.

Saat semuanya terasa mudah untukku berjuang dan bertemu, kenapa kau memilih pergi dan menyerah.

Selintas, ingatanku kembali pada surat terakhir yang kau berikan. Mungkin kau memang nggak memberitahu alasanmu pergi. Tapi… kenapa surat terakhirmu membuatku jauh lebih sakit dari ini.

Setelah musim dingin yang berlalu, dan musim semi yang akan datang, apakah benar kau akan kembali sekali lagi untukku?

Apakah kau tetap sama bahkan ketika waktu mengikis pertemuan kita?

Apakah benar kau akan datang memelukku saat aku rindu?

Sejauh apapun aku berharap, nyatanya, musim semi tahun ini masih sama. Kau masih pergi dan aku yang kembali pada rasa sedih ini. Kembali berkutat pada pertanyaan tak berujung yang tak terjawab.

Bahkan ketika aku sudah baik-baik saja, saat aku nggak lagi menyalahkan takdir dan orang lain, aku masih terus berandai-andai.

Andaikan kau nggak pergi tahun itu. Andaikan semuanya baik-baik saja. Andaikan kamu nggak menyerah. Kita mungkin bisa bertemukan?

“Lebak Bulus-Lebak Bulus”

Kembali, jurusan bus yang akan membawaku pulang datang. Aku yang termenung tersentak kecil akibat dorongan dari ibu-ibu yang melewatiku. Mengerjap mata pelan, setitik air mata turun lewat sudut mataku. Seraya menyekanya, kulangkahkan kaki memasuki bus.

“Angin musim dingin mungkin membawa semuanya pergi seperti jejak kaki. Saat aku berpacu melewati waktu, melupakanmu, jadi hal terakhir dan itu tidak akan terjadi sampai aku berhenti bernapas. Bahkan ketika seluruh dunia berubah, aku akan tetap sama.

 Namun, saat suatu hari ketika aku merindukanmu. Aku akan memelukmu kembali. Tepat di musim semi kita akan bertemu lagi. Aku akan berdiri di sana pada bulan Maret. Saat musim semi datang sekali lagi.”

-8Februari2025



One response to “Fiksi Mini – Perasaan yang Tak Terbawa Pergi”

  1. ini cerita mirip kejadian ku dulu 😅😅. Apalagi sebelum nikah pernah kos di Bintaro, dan pasti ngelewatin Lebak bulus Krn kantorku di pondok indah. trus ngalamin putus pacaran, sakit banget yg ada, tiap hari ke kantor udh kayak zombie. Pikiran di mana, hati di mana. Kdg nangis dikit pas di bus. Makanya baca ini jadi teringat kejadian lama dulu 😅. Untungnya berakhir happy ending mba. Pada akhirnya kami balikan dan malah nikah sampe skr 😁. Semoga cerita ini kalo memang based on kisah nyata, bisa happy ending juga ya

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca