Cerpen – Benang Merah Tersembunyi

           Gadis itu masih berkutat di depan laptop putih yang setia menemaninya. Tanpa tahu bahwa matahari telah terbenam dengan sempurna beberapa saat lalu. Hari yang mendung kini tengah memasuki malam yang indah dengan suasana sejuk sehabis hujan. Ditambah dengan ramainya suasana Kota Kembang memasuki hari libur. Bukan sebuah kesalahan, kalau orang ibu kota berkunjung ke kota ini. Menghilangkan penat dengan menikmati udara yang sejuk dan damai setelah lima hari bekerja.

           Itulah salah satu alasan gadis itu berada di Kota Kembang nan sejuk ini. Memilih mengawali karir bisnisnya di kota ini, Kota Bandung. Kota yang sejak dulu ia impikan. Kota yang akan melihat betapa bangganya ia akan semua impian dan cita-cita yang ia wujudkan di sini.

           Sesekali Rain menghela nafas berat sambil meminum kopi yang telah ia buat sebelumnya. Saat pintu kerjanya terbuka pun, ia masih dengan serius menatap layar laptopnya.

            “Permisi, Kak Rain,” sesaat pintu terbuka nampaklah seorang gadis, Nina namanya.

            “Iya. Kenapa, Nin?” Rain lalu menjawab tanpa melirik ke orang yang menyapanya.

            “Ini ka, aku mau izin pulang duluan,” Nina berucap dengan hati-hati. Ia begitu karena merasa bahwa atasan sekaligus orang yang sudah ia anggap kakak ini sedang serius dan tidak mau diganggu.

            “Ohh, iya Nin, kamu pulang duluan aja nggak apa-apa,” Rain lalu mengalihkan pandangannya dan tersenyum melihat Nina, “Hati-hati ya, Nin.”

           Setelah dijawab dengan anggukan kepala dan mengucap salam, gadis yang sudah menemaninya setahun lamanya itu kembali menutup pintu ruangan ini.

           Ia dan Nina bertemu saat dirinya sedang mengerjakan skripsi di sebuah café kecil tak jauh dari kampusnya. Nina yang hanya lulusan SMA bekerja sebagai pelayan di café tersebut. Namun, saat hari mulai gelap dan café sudah ingin tutup Nina manyapanya dan iseng bertanya tentang dunia kuliah hingga berakhir dengan obrolan panjang. Mulai dari situlah ia pun jadi berteman akrab dengan Nina. Sampai pada saat ia membuka bisnis wedding organizer, ia pun meminta Nina untuk menjadi sekretaris dan membantu di wedding organizer yang ia kelola ini.

                ===

           Langit malam. Matahari mulai menghilang dari peradabannya. Manusia pun sudah kembali ke rumah masing-masing. Mengistirahatkan badan setelah seharian melakukan banyak aktivitas. Ruangan yang telah disekat menurut bagiannya pun sudah gelap. Namun, di tengah ruangan, terlihat sebuah cahaya dari komputer yang sedang dimainkan. Tiba-tiba, aroma kopi pun tercium ke seluruh ruangan.

           Seseorang datang dengan secangkir kopi di tangannya. Berjalan mendekati komputer tersebut. Ia lalu meletakkan cangkir kopi yang dibawanya ke atas meja, hingga terdengar suara benturan cangkir dan meja kaca tempat ia meletakkannya. Orang itu Rad. Menarik kursi dan melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan sebelum membuat kopi. Terdengar beberapa kali suara mouse dan keyboard yang ditekan. Setengah jam kemudian, dari arah pintu masuk ruangan datanglah seseorang.

           “Rad?” tanya orang itu yang tak lain, Halim, “Lu masih di sini? Kirain udah pulang,” setibanya Halim di samping meja Rad, ia lalu memperhatikan apa yang ada dalam layar komputer dan mencari tahu apa yang dilakukan temannya ini. “Lagi ngedit toh rupanya,” batinnya.

           “Lu liat lah. Gue masih di sini berarti gue belum pulang,” Rad berucap kesal karena merasa terganggu. Ia lalu menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi, menatap Halim yang berjalan menjauh.

           “Nyantai lah,” Halim lalu berjalan keseberang meja Rad. Berjalan ke mejanya yang tepat di samping meja Rad. Mencari sesuatu dalam laci mejanya dan kembali ke hadapan Rad, “Lu masih lama? Gue udah mau pulang nih.”

           “Sedikit lagi. Lu kalau mau pulang duluan aja,” Rad berkata seraya mengusap wajahnya. Lalu meraih gelas yang dibawanya dan menegak kopinya yang sudah mulai dingin.

           “Oh yaudah kalau gitu. Gue duluan ya. Lu jangan malem-malem. Inget! Masih ada hari esok. Gue cabut, bro,” ucap Halim lalu berjalan keluar ruangan meninggalkan Rad.

           Halim yang teringat sesuatu pun berbalik dan menatap Rad, “Oh ya Rad. Tadi gue ketemu Om Rizky dia minta tolong lu buat bantu dia di film barunya.”

           Halim lalu menunjuknya, “Oh ya, satu lagi, Yuna juga nanyain lu mulu ke gue,” ucap Halim lagi sebelum ia bener-benar pergi meninggalkan Rad sendiri bersama secangkir kopi yang hampir habis dan layar komputer yang menyala.

===

           Sore ini, Rad berjalan memasuki rumah yang sudah lama tak ia kunjungi. Rumah masa kecilnya yang selalu ia rindukan dan tak lupa wanita tua yang ada di dalamnya. Walaupun begitu, beberapa bulan terakhir ia tidak lagi merasakan rindu kepada rumah ini melainkan ingin sekali pergi jauh dari rumah ini. Alasannya simple, karena wanita di dalam rumah ini memaksanya untuk menikah. Setelah memberi salam ia mencari sang omah ke belakang rumah, tempat biasa omah menghabiskan waktu sorenya.

           “Omah! Rad datang nih,” Rad berseru ringan setelah ia mencium punggung tangan Omah.

           Omah langsung memeluk Rad, “Dasar anak nakal! Akhirnya ke sini juga kamu,” ucap omah tepat di telinga Rad yang masih dalam pelukannya. Selang beberapa menit omah baru melepaskan pelukannya itu.

           “Kemana aja kamu? Baru inget sama omah,” omah berucap kesal pada cucunya yang sudah berada di sampingnya. Rad yang ditanya begitu pun hanya mengeluarkan cengiran bersalahnya.

           “Maaf ya, Omah. Rad baru abis liburan kemarin itu,” Rad lalu menjulurkan tangannya ingin mengambil kue sagu keju yang ada di meja di depan mereka.

           Omah yang melihat tangan cucunya langsung mencubit punggung tangan Rad seperti memindahkan suatu kotoran. Rad yang dicubit oleh omah hanya meringis kesakitan.

           “Ya ampun, Omah. Nggak boleh banget Rad minta. Cuma satu doang sih,” Rad berucap kesal sambil mengusap-usap punggung tangannya yang memerah akibat cubitan sang omah.

           “Bukan pelit. Kamu itu jorok banget, sih. Kalau dari mana-mana itu cuci tangan dulu. Jangan langsung ambil makanan,” omah mulai menasihati Rad.

           “Iya, iya,” Rad berucap malas, “Yaudah, Rad mau bikin kopi dulu deh. Nanti Rad kesini lagi. Tunggu ya, Omah,” ucap Rad lalu meninggalkan omah dan pergi ke dalam rumah.

           Setiap ke rumah omah, Rad memang lebih sering membuat minuman sendiri walaupun ia bisa dibilang tamu. Omah tinggal bersama tantenya yang biasa ia panggil Teteh. Setiap hari kerja seperti hari ini, tantenya memang sedang bekerja pada sebuah percetakan milik keluarganya.

           Selang beberapa menit, Rad kembali dengan secangkir kopi di tangannya. Ia lalu mengambil duduk di tempat yang tadi ia tempati sebelum membuat kopi. Omah lalu melirik Rad sepersekian detik lalu kembali melihat pemandangan hijau dan asri yang berada di depannya itu.

           “Kamu nginep ya, Rad?” omah memang bertanya, tapi bagi Rad itu lebih cocok disebut sebagai sebuah pernyataan daripada sebuah pertanyaan. Karena bagaimana pun ia menolak untuk menginap ia pasti akan kalah dan berakhir dengan ia yang menginap di rumah ini.

           Rad lalu menyeruput kopi yang tadi ia buat sendiri sebelum berujar, “Iya, Omah.” Setelah itu, Rad kembali menatap omahnya, “Udah sore gini. Teteh kok belum pulang ya, Omah?”

            “Nggak tau, mungkin ada janji sama orang di sana. Kalau pulang telat sih bilangnya gitu sama omah,” jawab Omah tanpa mengalihkan pandangannya dari langit sore yang indah.

            Rad mengangguk, “Kalau gitu, Rad ke sana boleh, omah? Mau liat-liat. Sekalian jemput.”

            “Yaudah. Sana,” omah lalu mengalihkan pandangannya dan menatap Rad tajam, “Oh ya, nanti malam omah mau ngomong sama kamu,” ucap omah tegas.

           Rad yang ditatap begitu salah tingkah tidak tau harus membalas apa. Ia kikuk dan takut dalam waktu yang bersamaan. Lucu sebenarnya. Rad yang sudah tua masih saja takut dengan sang omah. Bahkan dirinya hanya diam saat omah berbicara tegas seperti itu. Padahal Omah tidak memarahinya, tapi entah kenapa aura omah saat sedang berbicara tegas mengingatkan Rad ketika dulu kecil ia dimarahi kala membuat nangis teman perempuannya.

            “Iya, omah. Rad berangkat ya,” ucap Rad akhirnya dan ia langsung mencium punggung tangan omah dan berlalu pergi setelah mengucapkan salam.

===

           “Sore, Teh Isya,” sapa Rain dengan senyum di wajah ketika ia sudah berada di dalam sebuah percetakan yang ia kunjungi. Ia menyapa seorang wanita paruh baya yang sedang mengetik sesuatu di layar komputernya. Wanita itu lalu mendongak dari layar komputer lalu tersenyum menatapnya.

           Percetakan ini merupakan percetakan langganan Rain Organizer. Ia tahu percetakan ini saat ia masih duduk di bangku kuliah semester akhir. Jadi saat itu, ia akan mencetak poster yang baru ia selesaikan pada jam sepuluh malem. Lalu, ia keliling dengan motornya mencari percetakan yang masih buka disekitar tempat kosannya dan satu-satunya yang buka pada malem itu hanya di percetakan ini.

           Di dalamnya pun hanya ada seorang wanita paruh baya yang sedang beres-beres hendak menutup percetakannya. Namun, Rain menjelaskan keadaan yang mendadak, dan Teh Isya, begitu ia menyebut namanya dengan berbaik hati mengundur waktu pulangnya dan melayani Rain dengan senang hati.

           Teh Isya merupakan janda tanpa anak. Suaminya meninggal saat dua tahun usia pernikahannya. Usianya pun tak beda jauh dengan usia ibu Rain. Sekarang Teh Isya tinggal berdua dengan ibunya. Rain pernah sekali berkunjung ke sana saat ia ingin mengambil hasil cetakan undangan kliennya yang ternyata dibawa pulang oleh Teh Isya. Rain dikenalkan oleh Umi Dea, begitu panggilan untuk ibu Teh Isya yang masih bugar walaupun sudah mulai menua. Umi Dea mengingatkannya pada sosok nenek yang sudah lama ia rindukan.

           “Eh, iya. Sore Rai. Duduk dulu, duduk,” Teh Isya mempersilahkan Rain untuk duduk di bangku yang ada di sampingnya dan menatapnya dengan senyum lembut.

           “Iya, Teh. Makasih,” Rain tersenyum kecil.

           “Eh iya Rai, untung kamu ke sini. Tadi ada 200 pieces yang ketinggalan. Bang Syahrul tadi buru-buru kelihatannya,” Teh Isya berucap semangat dengan memegang tangan Rain pelan.

           “Oh gitu? Wah kenapa ya? Yaudah nanti biar aku bawa aja, Teh,” ucap Rain bingung,

           Teh Isya menganggukan kepala, “Sebentar Teteh ambil dulu, ya. Kamu tunggu sini aja dulu, tadi di bawa masuk lagi.”

           Teh Isya langsung berjalan ke arah ruangan yang ada diujung ruangan ini dan menghilang dibalik pintu tersebut.

           Rain memperhatikan beberapa karyawan yang sedang mendesain pesanan pelanggan yang tersisa sore ini. Ada juga yang lagi beres-beres hendak pulang. Beberapa dari mereka yang mengenal Rain, karena seringnya ia bolak-balik percetakan ini, menyapa gadis itu dengan ramah.

           Tak lama, Teh Isya kembali dengan setumpuk undangan berwarna ungu di tangannya. Ia terlihat kesusahan membawanya dan Rain yang melihatnya langsung berjalan menghampiri Teh Isya dan mengambil alih sebagian undangan tersebut.

           “Makasih, sayang,” ucap Teh Isya dengan lembut.

           “Iya, Teh,” Rain lalu berjalan mendekati meja yang ada di samping kirinya lalu meletakkan undangan itu ke atasnya.

           “Ini udah pas berati kan ya. Jumlahnya 1000 kan, Teh? Nggak ada yang ketinggalan lagi kan?” Rain memastikan lalu melihat ke tumpukan undangan yang berada di depannya.

           “Udah kok, Rai. Kali ini pas, Nggak ketinggalan,” Teh Isya meyakinkan, “Oh ya, kamu mau minum apa? Di sini ada air putih doang sih, kalau mau minum teteh suruh beli di depan,” tanya Teh Isya pada Rain yang sudah kembali duduk di tempatnya.

           “Ehh. Nggak usah, Teh. Air putih juga nggak apa-apa, kok,” Rain lalu tersenyum kecil.

           Teh Isya lalu menyuruh seorang karyawannya yang ada di sana untuk mengambil air putih.

           “Kemarin kata Chika kamu balik?” tanya Teh Isya.

           “Iya, Teh. Sudah lama juga nggak balik. Hehe.”

           Rain lalu terkekeh kecil yang dibalas senyum maklum oleh Teh Isya.

           “Umi Dea gimana kabarnya, Teh?” Rain lalu menyebut nama ibu Teh Isya yang sudah lama tak bertemu dengannya, “Sehat kan, Teh?”

           “Umi sehat kok. Seperti biasa aja, Rai. Ini di rumah lagi nunggu cucu kesayangannya mau pulang,” cerita Teh Isya.

           “Oh gitu,…” ucapan Rain terpotong kala gadget yang ada digenggamannya bergetar, “Sebentar ya, Teh.”

           Teh Isya lalu mengangguk dan beralih ke karyawannya yang meminta izin pulang. Setelah melihat pop-up pesan yang berasal dari Nina, Rain lalu membuka pesan itu dan membacanya. Pesan itu menanyakan posisi Rain dan mengabarkan kalau dirinya sudah ditunggu oleh orang-orang di kantornya.

           “Teh. Kayanya aku nggak bisa lebih lama deh. Ini Nina sudah ngabarin, di kantor sudah kumpul, mau rapat,” ucap Rain tiba-tiba.

           “Eh, yaudah kalau gitu. Nanti lain kali kalau ke sini saat luang, Rai. Biar ngobrolnya makin lama,” Teh Isya lalu berdiri yang diikuti oleh Rain, “Ayo teteh antar sekalian teteh bantuin naikin undangannya ke motormu.”

           “Maaf ya, Teh. Nanti Rain ke sini lagi deh,” Rain lalu berjalan mendahului Teh Isya setelah mengambil undangan tersebut. Teh Isya dilihatnya ditahan oleh seorang karyawan yang ingin pulang. Ia berniat menunggunya di motornya saja.

           Saat ia kesusahan untuk membuka pintu tiba-tiba pintu itu terbuka. Menampilkan laki-laki dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung ke atas. Rain yang masih memeluk kardus berisi undangan tak dapat melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Laki-laki yang dilihatnya itu akhirnya membantu Rain dengan menjaga pintu tetap terbuka sampai Rain keluar. Rain pun mengucapkan terima kasih masih dengan tanpa menatap laki-laki itu. Teh Isya muncul tidak lama setelah ia berada di samping motornya.

           “Yaudah, Teh. Makasih ya. Rain pamit,” ucap Rain setelah menstarter motornya.

           “Iya. Hati-Hati di jalan, ya,” Setelah memberi salam, Rain pergi meninggalkan Teh Isya.

#Day13 #OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #RamadanDitengahPandemi #30HariRamadhanDalamCerita #bianglalahijrah

-6Mei2020



One response to “Cerpen – Benang Merah Tersembunyi”

  1. […] Selengkapnya di: Cerpen – Benang Merah Tersembunyi […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca