Gadis cantik berkerudung pink terlihat sedang memangku kertas-kertas dengan beberapa coretan. Sesekali melihat ke arah gedung tinggi di depannya. Gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain. Gadis itu sedang menunggu seseorang yang ada di dalam gedung tersebut. Ia melihat dan membaca kertas-kertas yang ada digenggamannya dan sesekali terlihat mengkerutkan kening. Tak lama datang seorang lelaki dengan ransel hitam yang ditaruh di pundak kanannya.
“Hai.” Lelaki tersebut, Malik tersenyum kearah perempuan di depannya, lalu mengambil duduk disamping perempuan itu, Bina.
“Hai. Jadi pergi sekarang?” Bina balas tersenyum lalu merapikan kertas-kertasnya. Setelahnya Bina memfokuskan pandangannya pada lelaki disampingnya.
“Jadi. Oh ya, gimana sama skripsi kamu?” Malik balik menatapnya.
“Ya gitu. Masih banyak yang perlu diperbaiki,” jawabnya dan mengansurkan kertas tersebut agar Malik dapat melihatnya. Malik tersenyum lalu memperbaiki duduknya.
“Yaudah. Diperbaiki dong, dosen pembimbing pasti bener kan? Yuk langsung jalan.” Malik berucap lalu berdiri. Bersiap untuk pergi ketempat yang akan mereka tuju.
“Iya itu udah pasti, nggak usah ditanya. Ayuklah,” ucap Bina. Lalu mereka mulai berjalan menyusuri jalan menuju parkiran.
===
Mereka -Malik dan Bina- menyusuri sebuah pusat perbelanjaan di kota Solo. Sesekali mereka terlihat sedang berbicara atau tertawa bersama. Mereka menaiki escalator menuju lantai 2, tempat toko buku berada. Mereka pun berjalan menuju toko buku tersebut.
“Aku mau cari buku dulu di sana. Nanti kalau kamu sudah selesai tunggu di deket kasir aja ya.” Malik menunjuk ke arah buku-buku dengan tulisan desain dan segala macam tentang seni.
“Oke. Yaudah sana. Aku mau cari buku juga di sana.” Bina menunjuk rak-rak buku yang ada di sebelah kanan nya. Lalu setelah Malik pergi ke rak buku yang ia tuju, Bina pun berjalan ke arah kanannya. Buku-buku tentang sejarah.
===
-BINA POV-
Aku mengenal Malik saat ada kuliah umum universitas. Dia dengan gagahnya mengenalkan diri disaat orang lain dalam ruangan kuliah yang berisik dan suara orang tertawa atau mengobrol. Jujur sih… aku sempet kaget. Pada saat itu, aku sedang melihat grup angkatan SMA yang lagi bicara tentang apa tapi temen sekelasku saat kelas dua belas malah tidak nyambung dan jadi olok-olokan seangkatan yang lagi online.
Tiba-tiba ada sebuah tangan terulur di depanku. Saat aku mendongak, ku lihat seorang laki-laki dengan kemeja merah maroon tersenyum menampilkan lesung pipi yang cuma ada satu di pipi kanannya. Manis. Satu kata itu yang pertama terlintas dalam pikiranku. Eh… tapi dia mau apa ya? Mungkin dia mengerti maksud kerutan di dahiku lalu dia mengucapkan namanya dengan senyum yang masih mengembang. Aku mungkin tersihir atau insting detektif ku bilang bahwa dia orang baik, aku membalas jabat tangannya dan mengucapkan namaku.
Lalu beberapa detik ia pun melepaskan genggamannya. Dengan masih tersenyum ia duduk di sampingku. Aku pun hanya memperhatikannya. Saat ia mulai mengeluarkan sebuah buku gambar dan mulai asik menggambar entah apa, aku baru bisa mengalihkan pandanganku. Aku ingin bertanya “Tadi itu untuk apa?” Namun aku urungkan karena tidak ingin mengganggunya. Aku pun mulai membaca buku yang aku bawa. Menghabiskan waktu menunggu dosen datang.
Baca selengkapnya di: Cerpen – Perkenalan Singkat
Setelah itu kami mulai deket. Dengan dia yang meminta nomer handphone ku berdalih untuk bertanya mengenai tugas yang diberikan dosen kuliah itu. Dan sampai saat ini aku tak tau apa maksud dia mengajakku berkenalan secara langsung.
“Mau makan di mana?” tanya Malik menyadarkan ku. Setelah membayar buku, kami berjalan menuju area foudcourt di lantai dasar gedung ini.
“Nggak tau, aku ngikut aja deh. Beli buku sih cuma dua tapi tebelnya ngalahin tiga buku sejarah aku.” Sudah paham aku sama kelakuannya. Berteman hampir empat tahun sudah membuatku mengenal dia dengan cukup baik. Malik hanya tertawa pelan menanggapi ucapanku.
“Yaudah. Ayam kentacki aja ya?” tawarnya lalu mengajakku berjalan menuju restoran junk food dengan tagline “jagonya ayam”. Seperti biasa kami membagi tugas. Kali ini aku yang mencari meja dan dia yang memesan.
-BINA POV END-
===
Malik menyebutkan menu yang ia pesan dan menunggu kasir tersebut menyiapkan menu tersebut. Setelah kasir tersebut memberikan uang kembalian dan nampan berisi menu tadi, ia pun berjalan dan mulai memindai di mana Bina mendapatkan tempat untuk mereka. Setelah melihat Bina dengan kepala menunduk menatap layar ponsel ia pun berjalan mendekati meja tersebut. Setelah membagi makanan tersebut, mereka makan dalam diam. Hanya suara ramai di sekitarnya yang terdengar menghilangkan sunyi di antara mereka.
“Mal, gimana sama rencana kamu buat ke Jogja setelah wisuda? Jadi?” tanya Bina setelah ia selesai mencuci tangan di wastafel resto.
“InsyaAllah jadi, Na. Oh ya, kamu gimana? Balik dong ke Jakarta? Atau ke Bandung?” Malik menatap Bina dengan sesekali menyedot minumannya.
“Kayanya bakal balik ke Jakarta deh. Nggak memungkinkan juga buat ke Bandung. Kalo kamu ke Jogja, pisah dong kita?” Bina berucap sedih. Pikirannya melayang-layang mengingat kebersamaan mereka. ”Ahh. Nggak nyangka akan secepat ini,” batinnya.
“Ya mau gimana lagi? Tapi kan kita masih bisa berkabar atau bisa ketemu sebulan sekali atau ya atur aja nanti gimana enaknya. Kita kan emang punya bidang yang beda, Na.” Malik menatap Bina dengan lembut. Seolah berkata “Kalau jodoh kita pasti akan bertemu lagi. Dalam ikatan yang lebih tinggi dari ini,” batinnya.
“Hemm… aku pasti bakal kangen banget sama Solo. Sama kamu juga.” Bina mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Berusaha menutupi kesedihannya walaupun percuma. Malik sudah hapal dengan nada suara Bina. Mereka saling mengenal satu sama lain dengan baik.
“Aku juga bakal kangen sama kamu. Udah ahh, kok jadi sedih-sedihan gini. Pulang yuk, atau masih mau jalan lagi?” Malik mengalihkan perhatian Bina. Mencoba menghilangkan sedih Bina. Walaupun kadang dia bingung sendiri cara menghilangkan sedihnya Bina kalau-kalau sampai ke level tidak mau bicara dengannya. Malik beranjak merapikan bawaannya.
“Pulang aja deh. Aku cape.” Bina juga merapikan bawaannya dan mereka beranjak pergi.
===
Auditorium kampus nampak ramai dengan orang yang berlalu lalang. Beberapa dari mereka terlihat memakai kebaya dan jas. Kebaya pink soft dengan hiasan bunga-bunga terlihat pas ditubuhnya yang ramping. Kepalanya pun ditutup hijab perpaduan pink dan biru yang menambah aura kecantikannya. Ia berdiri bersama beberapa temannya dengan pakaian kebaya yang berbeda-beda. Begitupun dengan Malik. Ia nampak gagah dengan kemeja biru dongker dan tak lupa ditutup oleh balutan jas berwarna hitam yang rapi dan bersih. Tak lama terdengar suara pemberitahuan bahwa acara akan dimulai. Mereka menempati kursi-kursi yang sudah ditentukan.
Menjelang zuhur, acara yang dimulai tepat jam tujuh tadi selesai. Para tamu undangan, masing-masing mulai berfoto dan menyerahkan bucket bunga yang dipesan khusus untuk teman atau keluarganya yang hari ini wisuda. Malik yang saat itu sedang bersama kedua orang tua dan adiknya pamit sebentar untuk menemui Bina. Sedangkan Bina yang sedang berfoto dengan teman-temannya yang belum wisuda nampak memberikan senyum saat tau Malik menatapnya dan berjalan mendekatinya.
“Hai… selamat ya, Na. Bangga aku sama kamu. Kapan balik ke Jakarta?” Malik bertanya sesaat setelah Bina pamit dan menarik Malik menjauh dari teman dan orang tuanya.
“Selamat juga ya, Mal. Kamu nggak ngasih bunga atau apa gitu?” Bina mencebik cemberut melihat Malik tidak membawa bunga.
“Pengen banget apa aku kasih bunga?” tanya Malik menatapnya dengan senyum lembut. Menatap perempuan yang cuma dengan tawanya membuat hatinya bergetar. Namun, sampai saat ini ia tak berani mengungkapkannya. Ia takut perempuan ini akan menjauhinya bila tau ia menyimpan perasaan lain. Perasaan yang pada awalnya ia pungkiri. Tapi, ia janji akan memberi tahu tentang perasaannya.
“Pengen lah. Kamu kan nggak pernah ngasih. Sekali-kali kasih bunga kek.” Bina masih kesal. Lalu dengan tiba-tiba Malik berbalik mendekati sebuah guci yang diatasnya terdapat rangkaian bunga. Terlihat memetik satu tangkai lalu berbalik dan mendekati Bina.
“Ini bunga cantik untuk putri yang cantik.” ucap Malik membungkukan badan sedikit dan menundukkan kepala serta tangan yang memberikan setangkai bunga mawar. Persis seperti pangeran-pangeran dalam novel dongeng. Bina yang melihatnya hanya mampu terbengong-bengong. Tidak menyangka Malik akan menuruti keinginannya, padahal tadi ia hanya ingin menggoda Malik.
“Aaaa… makasih Malik.” ucap Bina setelah tersadar. Mengambil bunga tersebut dan tersenyum lembut ke arah Malik yang sudah berdiri.
“Ya. Sama-sama Bina.”
“Jadi, kapan balik ke Jakarta?” Malik berucap lagi setelah mengusap pelan kepala Bina.
“Lusa. Kamu kapan pulang?” Bina bertanya dengan sesekali memutar-mutar tangkai bunga yang ada ditangannya.
“Mungkin dua atau tiga hari setelah kamu pulang. Mau ada project kecil dulu disini.”
“Ohh. Okee.” Bina manggut-manggut mengerti. Sesekali tersenyum saat melihat orang yang ia kenal.
“Yaudah. Aku balik kesana deh ya, Na.” Malik pamit dan tanpa menunggu jawaban Bina seperti biasa ia beranjak dan mulai pergi menghilang ditelan keramaian.
Bina lalu berjalan dengan pikiran menerawang jauh, berjalan mendekati tempat sebelum ia menyeret Malik tadi.
===
Suasana Stasiun Balapan Solo terdengar ramai oleh lalu lalang orang dan suara kereta yang berhenti untuk menurunkan dan menaiki penumpang. Setelah acara wisuda ia tak bertemu Malik lagi. Jujur ia sempat bertanya ke beberapa temen Malik, namun mereka semua bilang tidak tau. Dan di sini lah dia. Menunggu kereta dan… menunggu Malik. Berharap Malik datang dan memberikan salam perpisahan. Salam yang akan ia bawa sampai Jakarta.
Tak lama terdengar pemberitahuan bahwa kereta yang akan membawanya pulang akan tiba di stasiun. Beberapa menit setelah pemberitahuan, kereta pun mulai terlihat dan berhenti. Bina pun melangkah mendekati pintu kereta yang tak jauh dari tempat duduknya tadi. Namun, saat ia akan masuk lengannya ditarik keluar oleh seseorang. Saat ia berbalik dan menatap orang tersebut yang tak lain adalah Malik. Lelaki itu masih menarik tangannya sampai menjauhi pintu kereta.
“Malik?” Tanya Bina kaget.
“Ya. Sorry nih. Aku baru dateng. Untung aja nggak telat. Oh ya tunggu.” Perintah Malik. Lalu ia mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya. Saat ia sudah menemukan benda yang terbungkus map coklat ia mengansurkan ke hadapan Bina.
“Nih apa?” Bina membolak-balik map tersebut. Saat ingin membukanya tangannya ditahan oleh Malik.
“Ehh… jangan dibuka sekarang. Nanti aja kalau udah sampai Jakarta.” Malik menarik tangannya lalu beralih mengusap kepala Bina dengan lembut. Tersenyum lembut yang dibales Bina dengan senyum manis. Tiba-tiba Malik menarik Bina dan memeluknya. Sesekali mencium kepala Bina yang tertutup pashmina hitam. Bina yang shock hanya bisa diam mematung. Mencoba mendiamkan jantungnya yang mulai berdetak kala Malik memeluknya.
Setelah tersadar ia pun membalas pelukan Malik. Berpelukan dalam diam. Mencoba menyimpan wangi tubuh Malik untuk ia bawa ke Jakarta. Mereka mencoba memahami perasaan masing-masing dalam pelukan yang berlangsung lama sampai suara pemberitahuan memecahkan kesunyian di antara mereka. Malik melepaskan Bina dengan senyum yang masih mengembang.
“Oke. Aku udah dipanggil. Sukses ya, Mal. Kalau mau ke Jakarta kabarin aja.” Bina mulai melangkah mendekati pintu kereta. Namun baru dua langkah Malik berucap dan membuatnya terdiam.
“I love you, Bina” Bina membalikkan badan dan mendapati Malik masih tersenyum seperti sebelumnya. Bina merasa dunianya terhenti dalam satu detik setelah Malik mengatakannya. Ia merasa bahwa apa yang ia alami selama ini tak salah. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Namun, mengapa Malik baru mengatakannya sekarang? Setelah kurang lebih empat tahun kebersamaan mereka.
“Makasih Malik… makasih untuk ucapan kamu barusan, tapi aku… aku…” Bina bingung harus menjawab apa. Disisi lain ia ingin membalas pernyataan Malik, namun disisi lain ini terlalu mendadak.
“Gak perlu di jawab, Na. Nanti kalau kita berjodoh aku pastikan kamu akan menjawab pernyataanku tadi.” Malik berucap dengan tersenyum lalu dengan kepalanya ia memberitahu bahwa kereta akan jalan. Bina yang tersadar lalu buru-buru berlari mendekati pintu kereta. Saat ia sudah sampai ia pun melambaikan ke arah Malik yang masih menatapnya.
“Dah… Malik. Aku tunggu di Jakarta,” Teriak Bina lalu saat kereta mulai menutup pintu ia pun masuk dan mencari tempat duduk yang telah ia pesan.
“Aku akan tunggu kamu di Jakarta, Malik. Dan aku akan jawab pernyataanmu.” batinnya
Malik melihat kereta yang membawa Bina dengan lesu. Bina tidak membalas pernyataan cintanya. Apa selama ini ia hanya terlalu percaya diri bahwa Bina memiliki perasaan yang sama? Gadis itu memang menunggu kedatangannya di Jakarta. Tapi apakah jawaban yang ia harapkan akan datang saat ia ke Jakarta? Atau itu hanya ajakan biasa antar teman yang tinggal beda kota?
—
#Day5 #OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #RamadanDitengahPandemi #30HariRamadhanDalamCerita #bianglalahijrah
—
-28April2020

Tinggalkan Balasan