Edisi Mengecat Kamar Sendiri

            Hampir dua bulan di rumah, dan hampir dua minggu nggak menyentuh proposal rasanya banyak sekali cerita yang ingin dibagi. Namun, aku ambil satu cerita yang ingin sekali aku bagi karena ini pertama kalinya buatku. Jadi sebelumnya, aku berbagi kamar dengan kedua adikku. Namun, saat kelas dua SMK atau saat awal kuliah, aku lupa kapan tepatnya, aku pindah ke kamar lain dan akhirnya merasakan punya kamar sendiri. Tapi dari sejak aku pindah, dinding kamarku tetap seperti saat aku dan keluargaku pertama kali pindah ke rumah ini, warna putih. Kamar yang sebelumnya berisi tiga orang kini hanya ditempat oleh kedua adikku.

            Nah, beberapa hari sebelum puasa, ayah yang kerja WFH dan rada santai berniat mengecat ulang seluruh dinding rumah. Mendengar itu, aku dan adikku langsung menyuarakan warna cat yang kami mau untuk kamarku dan kedua adikku itu. Aku memilih pink sedangkan untuk kedua adikku sepakat memilih warna biru. Tapi, sebelumnya ayah udah memberitahu bahwa ayah sendiri yang akan mengecat seluruh rumah tanpa bantuan tukang. Ayah mengecat bagian atas, balkon rumah, sebelum puasa, sedangkan mulai dari teras suasanya sudah masuk bulan puasa yang bisa dibayangkan capeknya kaya apa 😀

            Seharusnya udah bisa ketebak apa yang aku lakuin. Yups, aku bantuin ayah ngecat ketimbang ngerjain proposal. Serius, sebagai anak pertama perempuan dan punya dua adik perempuan juga, sering ngerasa ayah kesepian, kaya nggak punya teman buat cerita atau bantu-bantu kalau harus membereskan kerusakan yang ada di rumah. Selagi, adik pertamaku juga nggak mau ikut bantu, dan lebih memilih bantu mama masak, jadi dengan dalih iseng aku bantu ayah mengecat bersama adik keduaku yang ikut-ikutan mau bantu ayah juga. Nggak setiap hari memang, karena setelah nyoba sekali, ternyata pegal juga tangannya. Haha…

            Lalu, akhirnya hari di mana kamarku dicat tiba. Adikku yang ingin kamarnya bercat biru tiba-tiba berubah pikiran jadi berwarna pink, akhirnya cat yang khusus buat kamarku dibagi dua. Sudah jelas nggak akan cukup karena kamar kedua adikku lebih besar dari kamarku. Akhirnya dengan ide yang langsung muncul dan kasian warna biru yang tak terpakai aku memutuskan untuk mengecat kamarku dua warna. Dua sisi berwana biru, dua sisi lagi pakai sisa cat pink bekas kamar adikku. Aku pikir akan menyenangkan, ternyata itu hanya awalnya doang. Akhir-akhirnya, aku kecapaian karena mengecat empat sisi sendiri. Dibantu ayah sih yang mengecat bagian atas dengan tangga, aku nggak berani hehe.

           Tapi, sejujurnya, rumah udah berasa seperti kue bolu. Teras warna kuning, ruang tamu dan ruang makan warna hijau, dapur warna biru, kamar mandi warna pink, kamar mama-ayah warna kuning, kamar adik warna pink, kamar ku pink-biru, dan lorong samping tetap warna putih -_-        

           Tapi walaupun capek, sejujurnya hasilnya memuaskan. Kamar berasa lebih lega, ya ini sebenarnya karena aku juga merubah tampilan kamar sih. Cuma yang jelas kaya ngasih suasana baru aja di tengah perintah #diRumahAja.

           Apa cerita #diRumahaja versimu?

#Day18 #OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #RamadanDitengahPandemi #30HariRamadhanDalamCerita #bianglalahijrah

-11Mei2020



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca