Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada nama tokoh, kejadian, tempat kejadian, ataupun waktu kejadian yang sekiranya sama. Karena mungkin, hal-hal seperti ini pernah terjadi kepada seseorang di luar sana.
—
Pernah gak kalian berpikir tentang suatu hal, tapi setelah itu, ya kira-kira sehari atau dua hari setelahnya kalian menganggap itu sebuah pikiran konyol?
Beberapa hari yang lalu, seseorang baru aja mengalami hal yang seperti itu. Sebut saja namanya Nara. Sesaat setelah ia dapat kabar tentang teman yang akan dilamar, ia langsung terpikir tentang pernikahan. Entah kenapa Nara yang jarang sekali membicarakan tentang pernikahan terpikir akan hal itu.
Wajar sih ya, karena teman Nara yang akan dilamar itu adalah teman dekatnya sejak mereka kecil. Ia mulai memikirkan tentang nikah sama siapa, mau nikah umur berapa, tapi sih poin pertama yang sangat mengganggunya.
Ya wong dia belum ada calon. Sekarang juga masih kuliah. “Boro-boro mikirin jodoh, tugas kuliah aja seabrek gitu,” katanya seraya melirik meja belajarnya yang berantakan.
Merasa tak ada gairah untuk menyelesaikan tugas dan pikiran tentang nikah yang terus muter-muter di kepalanya, ia pun berbaring di tempat tidur.
Siapa ya jodoh gue? Apakah gue kenal sama jodoh gue? Jodoh itu dicari atau ditunggu ya? “Ishh gimana sih ini,” ucapnya kesal.
Jodoh pastinya berkaitan dengan seseorang atau katakanlah laki-laki yang akan menemani hidupnya. Tapi karena satu hal ia malah berpikir bahwa dengan adanya laki-laki dalam hidupnya malah membuatnya tidak bebas. “kan gue masih mau jalan-jalan,” pikirnya.
Belum lagi Nara terpikir tentang umurnya. Umurnya sekarang sudah dua puluh tahun. Temannya sudah banyak yang nikah. “Harus ya nikah muda gini?,” tanya Nara entah pada siapa. Mungkin pada penunggu kamar kosnya.
Perempuan itu berpikir bahwa ia akan menikah nanti saat umurnya dua puluh lima tahun. Tentunya setelah ia lulus kuliah dan dapat kerjaan. Paling penting sih menurutnya bisa bantu keuangan di keluarganya. “Lagian mau nikah sekarang kan gak ada duit? Ya toh?” tanyanya lagi.
Terus sekarang Nara mesti apa? Mengacak rambut kesal ia pun mengambil gadget yang ada di meja belajarnya dengan kasar, ya anggap aja merampas. Ia pun mulai membuka instagram. Berpikir mungkin ini bisa membuat pikirannya tentang nikah hilang, sampai ia pun ketiduran dengan gadget di tangannya.
—
Malam hari setelahnya saat sedang melihat story instagram temannya ia menemukan sebuah foto yang direpost.

Ia pun berseru senang dan menyetujui kata-kata yang ada di foto tersebut. “Nah ini. Bener banget nih foto,” ucapnya gembira dengan bibir yang melengkung lebar.
Setelah membaca caption foto, ia pun akhirnya tercerahkan. Pikiran tentang nikahnya hilang, dan bahkan ia berpikir kemarin itu suatu pikiran konyol. Nikah bukan hanya tentang calonnya siapa tapi butuh banyak kesiapan. Mental, kontrol emosi dan UANG!! Tapi ya tidak bisa dipungkiri bahwa menurutnya uang bisa aja dicari kalau memang ada niat dan memang berjodoh. Tapi kan butuh waktu? Iya kan??
Intinya sih. Dari kejadian ini, dia sadar bahwa menikah muda itu bukan pilihan semua orang. Terserah atau mungkin banyak temannya yang sudah nikah. Tapi menikah nanti juga bukan suatu masalah. Karena bedanya gini, jika mungkin temannya berpikir dengan menikah akan bahagia, ia pun juga berpikir dengan banyak mengunjungi tempat baru akan mendatangkan kebahagian.
btw, setelah lelah dengan pikiran tentang nikah, ia jadi pengen potong rambut nih? Model apa ya?
—
13Jan2019


Tinggalkan Balasan