Suara kaki yang beradu dengan lantai terdengar sangat cepat di sebuah koridor sekolah. Kaki yang berasal dari seorang perempuan yang hari itu rambutnya di kuncir kuda terus berlari menuju halaman belakang sekolah. Koridor itu nampak sepi, karena beberapa kelas diminta berkumpul di aula sekolah. Sesampainya di halaman belakang sekolah yang juga nampak sepi, perempuan itu menyandarkan badannya ke tembol dan menghela nafas panjang. Menghilangkan rasa sesak di dada dan berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata. Setelah tenang, remaja perempuan itu luruh ke lantai dan berjongkok masih dengan menyandarkan diri di tembok. Pelan-pelan kilas memori yang terjadi beberapa hari lalu bermunculan dalam pikirannya. Menjambak rambutnya pelan, berharap memori itu hilang, namun nampaknya malah menjadi menguat.
===
2 bulan yang lalu, di rumah yang biasanya tenang dan penuh canda…
Suara orang bertengkar dan benda-benda yang jatuh terdengar saat ia turun dari angkot dan mulai berjalan menuju rumah tempat ia tinggal bersama kedua orang tua dan adik laki-lakinya. Ia melangkahkan kaki pelan menuju rumah yang mengeluarkan suara itu dan melihat beberapa tetangga juga mulai keluar memeriksa lebih dekat apa yang terjadi. Mengetahui salah satu anggota rumah itu baru datang, tetangga itu beralih melihat ke arah anak perempuan yang juga nampak hati-hati dan takut secara bersamaan.
“Dev, baru balik sekolah kamu?” tanya Mpo Mira yang merupakan tetangga beda tiga pintu dari rumahnya.
“Hah? Iya, Mpo.” Perempuan bernama Devi itu nampak bengong sebentar dan berusaha terlihat tenang walaupun orang-orang di sana sudah bisa melihat bagaimana raut wajah ketakutan miliknya.
Perlahan perempuan yang masih mengenakan seragam abu-abu itu membuka gerbang rumahnya. Bunyi berderet yang berasal dari gerbang, nampaknya membuat orang yang sedang bertengkar itu sadar. Terasa hening kala ia mulai memasuki rumah dan membuka pintu rumah yang memang tidak tertutup. Mengambil nafas pelan dan menghembuskannya, ia mulai memberi salam pada orang yang berada di rumah. Perempuan itu lalu duduk dan membuka sepatu sekolahnya. Suara gaduh yang ia dengar tadi sudah hilang, sunyi dan tenang seperti tidak ada kejadian apapun.
Setelah meletakkan sepatu di rak sepatu yang ada di depan rumahnya, ia melihat hanya ada dua sepatu di sana selain sepatunya. Menapaki pelan lantai yang tiba-tiba saja terasa lebih dingin dari biasanya perempuan itu terkaget kala wajah ayahnya muncul dari balik pintu. Laki-laki yang ia kagumi itu nampak melihatnya sebentar sebelum akhirnya melangkah pergi dengan cepat. Rupanya pertengkaran itu terjadi saat ayahnya masih mengenakan seragam kerja dan tanpa melepas sepatunya. Bunyi gerbang yang ditutup kencang lagi-lagi mengagetkannya.
Melangkah pelan ke dalam rumah, ia tak melihat keberadaan ibunya. Ia hanya melihat beberapa benda yang tergeletak sembarang di lantai. Masih menenteng tas sekolah, perempuan itu berniat langsung menuju kamarnya, sebelum mungkin nanti ia akan membereskan kekacauan yang tidak ia ketahui ini. Namun, baru tiga langkah ia menuju kamarnya, suara serak perempuan yang ia sayangi memanggilnya.
“Dev, kamu ganti baju dulu ya. Makan sorenya udah ibu siapin,” ucap ibunya lalu wanita setengah baya itu mulai mengambil barang-barang yang berserakan di lantai. “Oh, ya. Nanti jangan lupa panggil Varo juga ya buat makan. Daritadi dia nggak keluar kamar,” setelah berkata itu ibu yang sedang memegang galon air kosong beranjang ke dapur mungkin untuk menaruhnya kembali di sana. Devi hanya mengangguk pelan dan berjalan menuju kamarnya.
===
Dua hari setelah kejadian itu…
Devi bersama tiga temannya berjalan melangkah keluar sekolah sore itu. Sambil sesekali mengobrol, langkah Devi terhenti kala melihat mobil ayahnya yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolahnya. Laki-laki itu terlihat seperti mencari orang. Setelah menangkap keberadaannya, laki-laki yang sudah dua hari tidak pulang itu melambaikan tangan kepadanya.
“Kenapa, Dev?” tanya Zila karena melihat Devi yang berhenti berjalan. Zila dan juga teman Devi yang lain melihat ke mana arah pandang perempuan itu.
“Itu ayah lu kan, Dev?” tanya Nilam dan diangguki oleh dua orang lainnya. “Tumben lu di jemput?” tanyanya lagi.
Devi yang mendengar itu hanya menundukkan kepala dan mengambil nafas pelan, “Iya gue dijemput. Gue duluan ya,” pamit Devi kepada tiga temannya. Perempuan yang hari itu membiarkan rambutnya tergerai berjalan pelan ke arah ayahnya.
Sesampainya di sana, Devi langsung memberi salam dan mengulurkan tangan meminta tangan ayahnya untuk ia salim. Berpura-pura tak pernah ada pertengkaran di rumahnya, remaja perempuan itu berujar, “Ayah udah lama nunggu Devi?”
Laki-laki paruh baya itu mengelus pelan punggung akan pertamanya, sebelum menjawab, “Belum kok. Kamu baik-baik aja kan?”
Devi refleks mendengus kala mendengar pertanyaan ayahnya. Pertanyaan ambigu yang seharusnya ayahnya sudah tau jawabnnya. Sejak ayah dan ibunya bertengkar ia bahkan tak yakin bahwa ia baik-baik saja walaupun terlihat dari luar tampaknya ia baik-baik saja.
“Iya baik, yah. Ayah udah dua hari nggak pulang.” ucap Devi dengan maksud bertanya ke mana ayahnya setelah pertengkaran dengan ibunya.
Lelaki di sampingnya nampak menghembuskan nafas pelan lalu menjawab pelan dengan menatap langsung ke mata anaknya yang tampak marah, “Nanti setelah ini ayah mau cerita sama Devi, kamu mau kan dengerin cerita ayah?”
Devi membalas pertanyaan ayahnya dengan mengangguk pelan. Ayahnya lalu membuka pintu yang berada di sebelah kursi kemudi dan menyuruhnya untuk masuk. Setelah mengitari mobil, ayahnya lalu duduk di kursi kemudi. Mereka meninggalkan sekolah dengan pikiran Devi yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan besar ke mana mereka akan pergi dan apa yang akan ayahnya ceritakan.
===
Saat ini, tepatnya sepuluh menit yang lalu, di sebuah aula sekolah…
Seluruh siswa kelas dua belas diminta untuk berkumpul di aula sekolah karena pihak sekolah ingin memberitahu beberapa hal tentang pelaksanaan ujian. Devi, Zila, dan Nilam nampak berjalan pelan bersama gerombolan kelas mereka. Saat akan memasuki aula, ia tak sengaja bertatapan dengan seorang siswi perempuan berkerudung dari kelas lain yang memberikan senyum singkat seolah mereka akrab. Tapi, Devi tak membalas senyum itu. Seolah memang hanya ingin tersenyum tanpa minta balas, perempuan berkerudung itu langsung masuk ke aula tanpa melihat Devi lagi.
“Lu kenal sama Hayi?” tanya Zila yang melihat kejadian itu.
“Nggak tau,” ucap Devi tidak jelas yang membuat Zila bingung. Nilam yang mendengar hanya mengerutkan kening.
“Kenapa emangnya, Zil?” tanya Nilam menatap ke arah Zila di sebelah kirinya.
Sebelum menjawab pertanyaan Nilam, mereka bertiga memasuki aula dan mencari kursi yang kosong. Sayangnya, kursi kosong itu berada dekat sekali dengan orang yang mereka bicarakan. Hanya berjarak satu kursi yang telah diisi oleh temannya Hayi.
“Tadi gue liat si Hayi senyum gitu ke Devi,” bisik Zila ke Nila yang berada di sebelah kanannya. Devi nampak tak peduli walaupun kepalanya sudah berisi adegan percakapan dengan ayahnya beberapa bulan yang lalu. Mereka lalu mengambil duduk di kursi itu, Zila duduk di samping temannya Hayi yang diikuti oleh Nilam dan Devi. Seolah tak kuat lagi, Devi yang sudah duduk di bangku tiba-tiba berdiri.
“Gue mau ke toilet dulu,” ucapnya lalu berjalan dengan tergesa ke luar aula.
===
Beberapa bulan yang lalu di sebuah warung soto lamongan…
Setelah memakan seporsi nasi dengan soto lamongan favoritnya, Devi menatap sang ayah yang sedari tadi hanya menatapnya. Lelaki kesangannya itu hanya memesan jus jeruk tanpa makanan. Setelah menyingkirkan piring dan mangkuk bekas ia makan ke sebelah kirinya, Devi bersiap mendengar cerita ayahnya.
“Jadi, ayah mau cerita apa?” tanyanya dengan kedua tangan yang meremas satu sama lain di bawah meja.
“Kamu ingat nggak, teman kamu yang waktu kecil sering main di rumah lama kita?” tanya Ayah. Mendengar pertanyaan ayahnya, remaja perempuan itu memutar ulang kenangan masa kecilnya di rumah lamanya yang ada di Bogor. Terlintas sebuah kenangan saat ia bermain masak-masakan bersama anak perempuan lain yang ia ketahui tinggal di depan rumahnya.
“Iya ingat, tapi aku lupa muka dan namanya, kenapa emangnya yah?” tanya Devi sambil membalas tatapan lembut ayahnya.
“Jadi, dia ini yatim, ayahnya udah lama meninggal. Setelah ayahnya meninggal, mereka mutusin buat ke Jakarta. Kamu tau kan, ayah dekat dengan ayahnya itu? Pas tau mereka mau pindah ke Jakarta, ayah bantuin ngurus semuanya, nyariin mereka tempat tinggal, sampai bantu biaya kehidupan mereka. Awalnya cuma ngasih uang jajan tambahan buat anak itu, tapi udah beberapa bulan ini ibunya sakit dan nggak bisa kerja lagi,” Devi melihat ayahnya menghembuskan nafas pelan lalu menunduk, “Ayah jadi terlalu banyak membantu, sampai biaya kehidupan mereka berdua dan akhirnya itu ketahuan sama ibu kamu.” Lelaki di depannya menganggkat kepala menatap dirinya dengan sendu.
“Terus?” tanya Devi lagi.
“Ibu kamu yang memang udah curiga setahun belakangan ini akhirnya marah. Puncaknya, ya yang waktu kamu pulang sekolah, dua hari yang lalu. Menurut kamu, ayah salah nggak bantu keluarga teman ayah yang kesusahan?” tanya ayahnya meminta pendapat.
“Nggak tau. Tapi ibu sepertinya nggak setuju. Ibu marah.” ucapnya menatap ayahnya yang menggeleng kasar.
“Nggak, Dev. Ibu nggak marah, ibu cuma kecewa sama ayah karena ayah nggak jujur. Ayah percaya kok ibu kamu baik, masa ayah bantu orang yang kesusahan marah,” ucap ayahnya sambil melihat ke arah lain lalu tiba-tiba melihatnya kembali dengan tangan yang disatukan seperti memohon, “Devi bantu ayah mau? Bantu ayah baikan sama ibu ya, Nak?”
Devi berpikir sekilas lalu bertanya, “Aku bantu gimana?”
“Ayah tanya dulu, Devi mau kan berbagi dengan orang lain?” tanya ayahnya.
Perempuan itu mengernyitkan dahi dan menjawab, “Membantu maksudnya?” Devi meminum es tehnya sedikit sambil berpikir, bagaimana mungkin ayahnya nyuruh dirinya berbagi ‘ayahnya’, saat ia hanya terbiasa berbagi dengan adik dan ibunya? “Mau kok, tapi gimana caranya bikin ibu nggak marah sama ayah?”
Ayahnya tersenyum senang, lalu menjawab, “Itu urusan ayah nanti, yang jelas, kamu udah mau membantu ayah senang.”
Setelah itu, ayahnya meminta ia untuk menghabiskan minumnya sebelum akhirnya beranjak dari warung soto itu.
“Ayah, siapa nama perempuan yang teman aku main itu? Aku boleh tau kan?” tanya Devi tiba-tiba setelah membuka pintu mobil.
Ayah yang juga sudah membuka pintu mobil menjawab, “Namanya Hayi, dia juga ayah sekolahin di sekolah yang sama kaya kamu.”
Devi lalu mengingat-ingat teman-teman sekolahnya yang memiliki nama itu. Tiba-tiba dalam ingatnnya, sebuah wajah teman seangkatannya muncul.
“Kalau nggak salah kalian seangkatan deh.” ucap ayahnya sebelum masuk ke dalam mobil yang diikutin oleh Devi dengan pikiran yang masih rumit.
===
Saat ini, tepat di belakang sekolah…
Ucapan ibunya tiba-tiba terlintas kala ia tak sengaja dengar pembicaraan kedua orang tuanya semalam.
“Aku nggak masalah kamu mau bagi-bagi uangmu. Tapi yang jadi masalahku di sini, kamu mulai lupa sama anak kamu. Kamu lupa harus datang dukung Tio yang lomba futsal. Kamu lupa Devi juga udah kelas dua belas dan mungkin dia butuh les, tapi kamu malah memberi les ke anak orang. Sebenarnya, yang anak kandung kamu yang mana? Aku jadi sangsi, Hayi itu anak Firman atau anak kamu!” ucap ibunya dengan nada tinggi yang dibalas hal yang sama oleh ayahnya.
“Jaga omongan kamu! Dan jangan naikin suara kamu di depan aku. Aku nggak mau ngurus ya kalau anak-anak dengar omongan kamu. Aku tegasin lagi, Hayi itu anak Firman! Aku cuma bantu karena aku punya hutang budi dengan Firman.” ucap ayahnya lalu tak lama terdengar suara pintu tertutup.
Ia pikir semuanya sudah membaik setelah tak pernah lagi melihat kedua orang tuanya bertengkar. Namun, ternyata kemarahan itu hanya diam di tempat. Perempuan itu nampak mencerna apa yang terjadi pada keluarga. Nampaknya, ibunya berhasil menutup rasa curiga itu dengan baik. Karena ia sendiri merasa ibunya baik-baik saja. Ibunya juga nampaknya sudah mengikhlaskan kebohongan ayahnya, walaupun mungkin kecewa masih menetap.
Kejadian ini nampaknya akan merubah segala pandangannya. Nyatanya memang membantu dan membagi tak selamanya baik. Entah, rumus membagi dan membantu yang baik seperti sudah hilang dalam pikiran Devi. Ajaran kebaikan yang diberikan ibunya seperti hilang dan yang ada malah amarah dan dendam yang meradang dalam hatinya. Ia ikhlas tapi nyatanya tak semudah yang ia pikirkan, terutama setelah mendengar ucapan ibunya semalam.
Membantu memang hal baik, seperti yang ibunya ajarkan. Tapi, jika diselimuti kebohongan apakah itu tetap menjadi hal baik? Dan, apakah ia memang harus berbagi hal yang tak ingin ia bagi mulai saat ini?
—
#Day7 #OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #RamadanDitengahPandemi #30HariRamadhanDalamCerita #bianglalahijrah
—
-30April2020

Tinggalkan Balasan