Cerpen – Waktu Berlalu, Aku Tetap Tinggal

           Mereka berjalan dengan santai tanpa adanya percakapan. Seolah tau bahwa tempat ini memang seharusnya tenang dari kebisingan. Setelah manaruh tas di tempat yang telah disediakan, mereka berjalan menuju lift yang berada di samping tangga darurat.

            “Lantai empat kan?” Tanya gadis berkerudung abu-abu, Gia.

            Seseorang di sampingnya mengangguk, “Iya.”

           Setelah lift itu berhenti dan pintunya terbuka, mereka memasuki lift berbarengan dengan beberapa orang yang sebelumnya berada di belakang mereka. Sesampainya di lantai empat, mereka membagi tugas untuk mencari buku referensi sesuai tema yang akan mereka presentasikan minggu depan.

           ===

           Lelaki ini duduk santai memainkan gawai di antara kerumunan orang yang terlihat ramai. Orang-orang itu seperti terbagi, ada yang membicarakan tentang acara yang akan mereka laksanakan atau berteriak memanggil teman-temannya yang masih berada di luar ruangan untuk masuk karena rapat akan segera dimulai. Setelah suasana kondusif dan semua teman-temannya sudah berada di ruang sekretariat himpunan mahasiswa, gawai yang berada di tangannya bergetar. Satu pesan masuk yang ketika ia membukanya senyumnya langsung merekah.

           Tiba-tiba, Bara merasakan lengan kanannya disenggol oleh temannya, “Kenapa sih, Jak?”

           Jaka, yang tadi menyenggol Bara lalu menunjuk ke depan dengan kepalanya. Bara lalu mengalihkan perhatian, lalu melihat apa yang ditunjukkan Jaka, “Udah mulai, ngechat Seffa nya nanti aja.” Bara langsung mendengus kesal lalu mulai memperhatikan Oka yang sedang berbicara di depan. 

           ===

           Sambil sesekali menyampirkan ransel di tangan kanannya, lelaki itu berjalan cepat menuju fakultas sebelah. Sesekali ia tersenyum kecil mengingat siapa orang yang akan bertemu dengannya. Setelah melintasi sebuah taman dan berada di gedung fakultas MIPA, Bara lalu mengedarkan pandangannya ke berbagai arah. Sesuai pesan yang diterimanya, orang yang akan ditemuinya itu mengatakan sudah berada di selasar gedung fakultasnya. Seketika wajahnya tersenyum lebar kala melihat punggung seorang perempuan berkerudung biru dongker. Tak salah lagi, itu pasti Seffa.

           “Ahh, sudah berapa lama ya, nggak ketemu dia,” ucap Bara pelan sambil berjalan ke arah perempuan itu.

           Sesampainya di belakang perempuan itu, Bara mengucapkan salam dan membuat Seffa yang saat ini sedang bersama ketiga temannya kompak menoleh. Ketiga wanita itu menjawab salam serempak. Senyum lebar juga nampaknya tak luput dari wajahnya perempuan berlesung pipi itu.

           Setelah mengambil tempat duduk tak jauh dari ketiga perempuan itu, Bara menerunkan tasnya ke lantai, “Maaf, udah lama nunggu ya?”

           “Nggak kok. Aku juga sekalian lagi bahas laporan kemarin,” jawab Seffa dengan suara lembutnya. Kedua temannya, Mira dan Dea terlihat senggol-senggolan dan dengan senyum tak enak, mereka berdua pamit meninggalkan dua sejoli yang sudah lama tak bertemu itu.

           “Gimana kalau kita makan siang dulu, sekalian ngobrolnya sambil makan aja. Kamu belum makan kan?” tanya Bara sambil mengedarkan pandangannya memperhatikan suasana di sekitarnya. Tak jauh dari sana, ada beberapa orang yang nampaknya lagi mengadakan lingkar diskusi, lalu ada sekitar empat orang perempuan yang sedang mengobrol, dan tiga orang perempuan lain yang nampaknya sedang mengerjakan tugas karena salah satunya sedang menggunakan laptop.

           “Boleh-boleh, aku juga lapar nih. Udah waktunya makan siang juga, ke Warung Benjo aja gimana, Bar?” Seffa menyarankan sebuah warung makan yang tak jauh dari kampus mereka. Lelaki itu mengangguk setuju. Setelah merapihkan barang bawaan mereka, mereka meninggalkan selasar itu. Tanpa sadar, sepasang mata yang dari tadi tengah memperhatikan mereka menatap kepergian mereka dengan sendu.

           ===

           “Eh, Gi, lu liatin siapa?” perempuan itu menyenggol bahu temannya yang sedang berhadapan dengan laptop, nampak tengah berpikir namun matanya sesekali mencuri pandang melihat ke arah depan. Ke arah seorang laki-laki dan perempuan berkerudung biru dongker.

           “Ah, ya, kenapa, Ti?” jawab perempuan bernama Gia itu lalu menoleh melihat Tita yang berada di sebelah kirinya. Sedangkan Jenny yang berada di sebelah kanannya nampak menoleh sebentar namun kembali membaca sebuah buku yang berhasil ia temukan di perpustakaan sebagai referensi untuk presentasi minggu depan.

           “Lu dari tadi ngeliatin siapa? Seffa?” tanya Tita menyebut salah satu teman sekelas mereka yang duduk tak jauh dari mereka.

           “Seffa? Nggak lah, ngapain ngeliatin dia. Gue lagi mikir aja ini.” Gia mengelak dan pura-pura memasang wajah berpikir seolah memang ia sebelumnya juga sedang berpikir.

           “Ya nggak tau. Soalnya gue dari tadi bertanya-tanya, itu pacarnya Seffa yang katanya anak fakultas sebelah bukan sih? Kok gue baru liat ya. Jarang berduaan yang di kampus?” tanya Tita pelan agar suaranya tidak terdengar sampai ke orang yang ia bicarakan. Perempuan itu nampaknya mulai melupakan tugas mereka untuk diskusi tentang tema yang akan mereka presentasikan dan juga membuat power point. Jenny lalu menoleh pada Tita dan mulai mencari orang yang Tita maksud.

           Sambil memberi tanda pada akhir bacaannya, Jenny menoleh pada Tita dan berucap pelan, “Emang Seffa punya pacar?”

           “Ah lu ketinggalan info. Udah mau setahun kayanya. Cuma emang diam-diam pacarannya, nggak kaya yang lain, yang ke mana-mana berdua.” Ucap Tita masih seperti berbisik.

           “Eh, Jen, jangan diliatin terus! Tar ketauan kalau kita lagi liatin dia,” seru Tita menoleh pada Jenny.

           “Ah iya, Ta.” Jenny lalu pura-pura menatap Tita dna Gia bergantian, “Cowoknya lumayan, tapi gue rada kaget, lho. Kirain seorang Seffa nggak mau pacaran, maunya langsung nikah gitu atau ya taaruf.”

           “Nggak tau juga sih, ya luarnya kaya gitu belum tentu prinsipnya kaya gitu juga kan? Atau jangan-jangan mereka udah taaruf makanya jarang berduaan?” tanya Tita penasaran menatap kedua temannya bergantian. Jenny menganggukkan kepala beberapa kali, sedangkan Gia masih asik berselancar di internet mencari bahan presentasi sambil mendengarkan temannya bergosip.

           “Bisa jadi sih. Tapi entahlah, kalaupun emang sudah taaruf malah bagus dong berarti rapi kuliah lansung nikah kan?” tanya Jenny sambil cekikikan dan dibalasa hal yang sama oleh Tita. “Tapi ya cowoknya lumayan ya. Nggak cakep banget sih, tapi manis iya nggak?” Jenny bertanya lagi yang ditanggapi anggukan kepala dengan semangat oleh Tita.

           Gia yang berada di tengah antara kedua temannya itu mulai jengah. Apalagi nampaknya teman-temannya ini mulai beralih dari Seffa ke laki-laki yang katanya pacaranya Seffa, “Eh udah-udah lanjutin nih ngerjainnya. Gue kan nggak bisa lama-lama,” ucap Gia. Tak lama setelah mereka kembali fokus mengerjakan tugas, kedua orang yang dibicarakan itu mulai meninggalkan selasar gedung fakultasnya.

           Tidak ada yang tau memang, bahkan kedua temannya yang berada di kiri dan kanannya. Bahwa sebenarnya, Gia mengenal laki-laki itu. Mereka nggak dekat, mungkin laki-laki itu juga tidak tau pernah bertemu dengannya, tapi yang pasti, Gia mengenal baik laki-laki itu, bahkan sampai tanggal lahir lelaki itu.

           ===

           6 tahun yang lalu…

           Suasana ramai terlihat di depan gerbang sekolah salah satu SMA di Jakarta. Gia yang saat ini ditugaskan untuk menjadi perwakilan kelasnya, tampak baru sampai dan memarkirkan motornya tak jauh dari keramaian itu. Sambil menenteng helm dan kunci motornya ia berjalan menuju Hana yang duduk di samping pagar sekolah mereka dengan beberapa orang yang Gia ketahui berasal dari kelas sebelah.

           Hari ini akan ada seminar di salah satu gedung di daerah Senayan. Sesuai perintah dari kesiswaan, perwakilan sekolah untuk seminar ini diambil dari perwakilan setiap kelas 10 saja. Setiap kelas mengirimkan dua perwakilannya untuk mengikuti seminar itu. Kelasnya, 10 IPS-2, diwakili oleh Gia dan Hana. Sesampainya di depan Hana, Gia langsung memberikan senyum pada perempuan itu.

           “Nanti gue bareng lu ya, Gi? Nggak bisa bawa motor,” ucap Hana.

           “Iya, Han. Nggak apa-apa kok. Kan emang seharusnya berdua-berdua kan.” ucap Gia lalu melihat ke arah motor yang sudah terparkir. Ada enam motor, seharusnya ada delapan motor karena kelas sepuluh itu delapan kelas, empat kelas IPA, empat kelas IPS.

           “Iya emang berdua-berdua, tapi dua lagi kayanya belum datang,” ucap Hana yang diangguki setuju oleh Gia.

           Tak lama berbarengan dengan dua orang guru yang baru saja keluar dari gedung sekolahnya, dua motor yang mereka tunggu akhirnya sampai. Dua guru itu yang baru saja selesai rapat meminta tolong untuk mengantarkan mereka ke depan gang untuk nantinya akan naik mobil angkot. Salah satu guru itu menunjuk salah satu dari dua laki-laki yang baru datang, dan diangguki setuju oleh laki-laki itu. Sedangkan yang salah satu lagi beralasan mau mengambil barang yang ketinggalan di loker sekolah.

           Tiba-tiba saja, guru yang belum dapat tumpangan itu menunjuk Gia yang memang dari tadi hanya melihat kejadian itu dalam diam. Perempuan itu nampak terkejut lalu setelah mendengar apa yang guru itu minta, ia akhirnya setuju. Sambil melirik sebentar ke arah lelaki yang akan mengantar salah satu guru itu, Gia berjalan mengambil motornya.

           Gia dan laki-laki yang tidak ia ketahui namanya dan dari kelas apa itu akhirnya mengantar dua guru yang ingin naik Angkot di gang depan sekolah. Tak ada perbincangan karena ia merasa sungkan dan belum pernah diajarkan oleh guru yang diboncengnya. Namun, pikirannya mengarah pada pemuda yang membawa motor di depannya. Entah mengapa ia merasa ada magnet yang menarik perhatiannya. Melafalkan jenis motor dan plat nomor lelaki itu sampai akhirnya dua motor itu tiba di depan gang sekolah.

           Setelah berpamitan dan memberi salam kepada dua guru yang diantarnya, Gia kembali ke sekolah dengan lagi-lagi lelaki itu yang berada di depannya. Sekali lelaki itu menoleh ke belakang, mungkin untuk memastikannya masih ada di belakang. Kalau Gia pikir, “Memangnya gue mau ke mana sampai diliatin gitu?”

           Tapi yang pasti, hari itu, Gia mengalami apa yang namanya suka pada pandangan pertama. Bahkan diacara seminar itu, ia tampak sesekali melihat dan mencuri pandang ke tempat laki-laki itu duduk. Mulai saat itu, masa abu-abunya dimulai dengan menatap dan mencari tahu laki-laki itu. Namun, dirinya begitu pengecut. Ia tak berani berkenalan, hanya sesekali pernah mengunjungi kelas laki-laki itu yang ternyata berbeda jurusan dengannya.

           ===

           Sampai akhirnya, di tahun ketiga kuliahnya ini, ia merasakan penyesalan karena tak sempat berkenalan dengan lelaki itu. Lelaki yang telah menjalin kasih selama tiga tahun dengan wanita yang Gia kenal. Seffa, teman sekelas lelaki itu waktu kelas 10. Nyatanya, rumor dan gosip yang waktu iti ia dengar saat kelas 11 benar adanya. Namun nampaknya lelaki itu baru berani mengungkapkan perasaanya saat awal kuliah. Terbukti, tiga tahun yang lalu, beberapa kali Gia melihat postingan laki-laki itu bersama wanitanya. Saat itulah, Gia juga tau bahwa mungkin harapannya untuk bisa berkenalan hilang. Tapi, perasaan itu tak hilang, masih ada, dan diam-diam berharap bahwa mungkin Bara dan Seffa tidak berjodoh. Jahat tapi bagaimana menghilangkan perasaan yang telah mendekam selama hampir enam tahun lamanya?

#Day3 #OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #RamadanDitengahPandemi #30HariRamadhanDalamCerita #bianglalahijrah

-26April2020



3 responses to “Cerpen – Waktu Berlalu, Aku Tetap Tinggal”

  1. Kerenn ceritanyaaa… Semangat menuliskan cerita lainnya yaa

    1. iya ka. terima kasih banyak 🙂

  2. […] Selengkapnya di: Cerpen – Waktu Berlalu, Aku Tetap Tinggal […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca