Kata
-
Hanya karena Tak Biasa
Angin meniupkan suhu dingin, menyapa permukaan kulitku yang tak tertutupi. Menusuk dengan pelan menembus jaringan epidermis mengusik relung hatiku. Semakin lama mersik itu menggusarkan emosiku. Aku masih membeku, membiarkan rasa nyeri ini semakin dalam. Mendiamkan segala bentuk anak panah yang menghujam emosiku. Aku… hanya tak tau caranya membalas. Aku… hanya tak tau bagaimana caranya membela.… Continue reading
-
Sebuah Pesan untuk Yang Tersayang
Dear, Yang Tersayang. Apa kabar?Lagi sibuk apa sekarang?Oh ya, gimana, kamu udah selesai berdamai dengan keadaan?Atau malah masih menyesali terlahir jadi anak pertama? Kok nafasnya terengah-engah? Bebannya berat banget ya? Nggak kok, nggak lebay. Apapun jawabannya, tiap orangkan punya kesulitannya masing-masing. Mungkin saat ini kamu emang lagi ada di waktu yang semua terasa sulit. Ekspektasi… Continue reading
-
Terbawa Angin
Seperti matahari yang pergi perlahan saat senja tiba, eksitensimu perlahan pudar. Seiring kepergianku dari bangku sekolah ini, hilang sedikit demi sedikit. Hari-hari terasa sedu. Langkah yang kuambil nampaknya membawamu pergi jauh. Harap seperti selalu, tapi… renggang. Jarak, waktu, kesempatan… tak lagi bersua. Hilangmu mencemaskan. Saat hari bahagiaku tiba… Yang kutunggu tak hadir, Rupanya pembawa ceria… Continue reading
-
Bukan Waktu yang Tepat
Banyak pertanyaan yang datang. Aku tak tau harus menjawab apa. Bukan. Bukan tak tahu, tapi karena memang aku nggak punya jawaban itu. Aku yang masih di sini berharap suatu saat kau akan datang dan kau yang masih di sana yang jelas tahu ada yang menunggu tapi belum bisa menampakkan diri. Tak apa. Hubungan antara perempuan… Continue reading
-
Aku Janji, Ini yang Terakhir!
Saat matahari memancarkan panas sore itu, aku melihatmu lagi. Duduk manis di motor kesayanganmu sambil menenteng kantong plastik berwarna merah muda. Aku tau kok isinya apa. Kamu… menungguku. Dengan berjalan pelan aku menghampirimu. Sampai… aku sadar, kau tak sendiri. Ada seorang wanita berkerudung merah jambu tepat di belakangmu. Duduk manis di belakang jok motormu. Aku… Continue reading
-
Beban dan Ingin Bebas
Dalam kegelapan malam, mataku nyalang terbuka dengan pikiran yang terus berputar bagai kaset kusut yang hampir rusak. Bukan, bukan kegelapan langit malam. Hanya gelapnya kamar berukuran 2×3 meter yang lampunya telah dimatikan. Saat-saat mau tidur semuanya kepala dan pikiranku malah seperti ditekan pada tombol on. Memutar kembali apa yang telah aku lakukan dan yang ingin… Continue reading
