Beban dan Ingin Bebas

Dalam kegelapan malam, mataku nyalang terbuka dengan pikiran yang terus berputar bagai kaset kusut yang hampir rusak. Bukan, bukan kegelapan langit malam. Hanya gelapnya kamar berukuran 2×3 meter yang lampunya telah dimatikan. Saat-saat mau tidur semuanya kepala dan pikiranku malah seperti ditekan pada tombol on. Memutar kembali apa yang telah aku lakukan dan yang ingin aku lakukan ke depannya. Melihat lagi bagaimana hidupku beberapa hari ini. Monoton!

Aku hanya di rumah. Sesekali berolahraga dan hanya menggulirkan laman sosial media yang makin lama makin terasa mencekik. Bosan sekali. Mau mengerjakan tugas, aku juga bingung tugas kuliah apa yang harus ku selesaikan. Tak ada kerjaan tapi tuntutan banyak sekali. Tanggung jawabku, keinginan orang tua, omongan orang yang tak perlu dimasukin ke hati tapi nyatanya tetap terpikirkan. Ingin rasanya balik ke masa-masa di mana semuanya bebas.

Bebas. Kata itu akhirnya terpikirkan lagi setelah tadi sore aku membaca sebuah cerita di sebuah platform menulis online. Bebas dalam artian pergi. Dalam cerita itu, perempuan yang berstatus mahasiswa akhir berniat untuk pergi selepas ia menunaikan tanggung jawabnya. Tanggung jawab menyelesaikan kuliahnya dan ia akan pergi. Aku…. Terpikirkan kembali. Pada satu masa saat berada di bangku sekolah, aku pernah terpikir untuk pergi. Tapi aku masih di sini. Menjalani hari yang makin lama makin terasa menyakitkan. Apalagi, entah kenapa beberapa bulan terakhir ini seperti aku pendam semua cerita dan perasaanku tanpa bisa berbagi dengan teman atau siapapun itu.

Manusia itu lucu ya. Mereka bilang ingin dimengerti tapi lupa untuk mengerti orang lain. Mereka ingin diperhatikan tapi lupa untuk memperhatikan yang lain. Mereka ingin dibalas dengan baik tapi lupa membalas yang lain. Sayangnya, manusia juga kadang tak tau diri. Orang lain itu juga lupa untuk berbuat baik ke mereka. Akhirnya itu jadi rantai putar yang tak habisnya. Aku pun akhirnya memilih untuk tak berkonfrontasi. Memilih diam dan membiarkan mereka perlahan pergi. Tapi aku lupa. Bahwa dengan perginya mereka malah membuatku makin tersudut dalam pikiran bebas itu. Karena hal itu aku malah berpikir apakah ada yang menangis saat aku pergi? Karena saat ku di sini pun mereka memilih menjauh.

-26Agustus2020



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca