Angin meniupkan suhu dingin, menyapa permukaan kulitku yang tak tertutupi. Menusuk dengan pelan menembus jaringan epidermis mengusik relung hatiku. Semakin lama mersik itu menggusarkan emosiku.
Aku masih membeku, membiarkan rasa nyeri ini semakin dalam. Mendiamkan segala bentuk anak panah yang menghujam emosiku. Aku… hanya tak tau caranya membalas. Aku… hanya tak tau bagaimana caranya membela.
Pasal satu langkah yang kuambil sama menyakitkan dengan anak panah itu. Langkah kaki pisau itu membelah diriku menjadi diriku yang tidak kukenal. Menceburkan diriku pada diriku yang lain. Membuatku… tak mengenali diriku sendiri.
Menghasilkan api dengan dua batu, seperti mustahil. Kecil dan besar sama saja. Hanya mencari bagian kecil dari risiko terkecil. Hanya mencari pembelaan tanpa bela. Menutupi lingkar kecil pada bayangan.
Biasa bukan karena tak bisa, hanya tak mampu. Tak terlihat jadi pilihan di antara bisikan hati. Kembali hilang di bawah tempurung. Tak terdeteksi jadi langkah yang kuambil. Setidaknya membiarkan anak panah itu melesat melewatiku.
Menjadi biasa bukan seperti aku, melihat yang bisa hanya menyakitkan. Menghindar kembali jadi pilihan langkahku. Akan selalu sama.
—
–15Februari2022

Tinggalkan Balasan