Saat matahari memancarkan panas sore itu, aku melihatmu lagi. Duduk manis di motor kesayanganmu sambil menenteng kantong plastik berwarna merah muda. Aku tau kok isinya apa. Kamu… menungguku. Dengan berjalan pelan aku menghampirimu. Sampai… aku sadar, kau tak sendiri. Ada seorang wanita berkerudung merah jambu tepat di belakangmu. Duduk manis di belakang jok motormu. Aku kenal wanita itu. Dia… wanitamu kan?
Aku hanya ingin bertemu setelah… Emh.. empat tahun? atau lima tahun mungkin. Tapi aku lupa bahwa dari sejak kita berpisah di hari pelepasan masa abu-abu itu kamu mungkin tak mengenalku. Berpisah antara kita mungkin hanya ada di kamusku. Karena berpisah dalam kamusmu yaitu berpisah dari wanitamu, bukan aku. Siapa aku? Tak berharga untukmu.
Sinar matahari yang menyilaukan membuatku susah melihatmu. Tapi aku ingin melihatmu, mungkin untuk yan terakhir kali? Berbincang sebentar sambil aku tak sadar memperhatikan jaketmu. Jaket yang sampai sekarang aku pertanyakan, mengapa kamu punya jaket yang sama persis seperti jaket angkatanku saat putih biru padahal kita baru bertemu saat masa putih abu?
Tapi, aku terlalu takut untuk bertanya kembali. Lepas urusanku denganmu yang kubuat-buat agar terlihat memiliki urusan, aku berbalik dan tak menunggumu pergi. Aku takut tak bisa melepasmu. Aku sadar diri. Tapi, entah mengapa susah sekali untuk melupakanmu. Sekali lagi, maafkan aku. Aku janji, ini terakhir kali. Walaupun sesak menghimpit dada, aku berhenti.
—
-19September2020

Tinggalkan Balasan