Fiksi Mini – Sebuah Mimpi

Semua telah berganti,
Sejak kau pergi
Semua berubah,
Sejak kau tak terlihat

Mencoba banyak hal
Hanya untuk mengurai rasa
Namun, semua tetap sama
Seperti terakhir berjumpa
 
Memantau kau dari jauh,
Kau yang berjalan dengannya
Tak melihatku,
Sama seperti dahulu
 
Bertanya pada hati,
Mengapa rasa ini tetap sama?
Mengapa relung hati tetap berharap?
Berharap pada-Nya
 
Disetiap sujudku,
Harap akan bertemu kembali
Melepas rindu yang menumpuk
Walau kau dengan dia
Beri aku kesempatan sekali lagi
 
Kan kuucapkan apa yang tertunda
Kan kuceritakan harapan disetiap malam
Agar kau tau,
Masih ada harap kau jawaban dari doa
Masih ada angan kita bersama

Tama menatap nanar layar gadgetnya, seraya terduduk dengan badan yang menyender di tembok kamar kosnya. Ia tak tau bahwa melihat dia, sang lelaki pujaannya, dengan seorang wanita lain akan sesakit ini. Ini semua berubah kala mimpi itu terjadi.

Dua bulan yang lalu, perempuan berusia dua puluh lima tahun itu bermimpi tentang seorang lelaki di masa lalunya. Laki-laki yang dahulu ia puja dari jauh. Sampai dua tahun yang lalu pun begitu. Masih sama, masih memantau dari jauh, walaupun mereka sudah tak pernah bertemu selepas Tama menyelesaikan kuliahnya. Namun, perlahan rasa itu berubah. Ia mulai terbiasa dengan aktivitasnya dan sudah tak ambil pusing dengan apa yang laki-laki itu upload foto di media sosial yang ia ikuti. Lelaki yang sampai saat ini masih bersama dengan wanita lain.

Namun, mimpi dua bulan lalu meluluhlantahkannya. Ia seperti kembali pada usia dua puluh satu tahun. Mencuri-curi pandang pada lelaki yang satu lingkar diskusi dengan dirinya. Mimpi itu seperti membawa harapan baru jika ia bisa bertemu dengan lelaki itu. Memberi angan bahwa ia bisa menggapai lelaki itu. Bahkan ia tak malu meminta pada sang pencipta. Padahal, dahulu ia tak berani.

Sampai hari ini pun begitu. Lelaki itu upload foto bersama perempuan yang lain. Perempuan yang sama dengan perempuan yang dua tahun lalu lelaki itu ajak ke lingkar diskusi. Lingkar diskusi terakhir yang Tama ikuti. Apakah perempuan ini takdir lelaki itu? Apakah ia akan tetap terlihat mengenaskan yang diam-diam menginginkan lelaki itu?

Dengan memejamkan mata, Tama menarik nafas perlahan. Berdiam selama sepuluh menit, ia lalu berdiri dan mulai melangkah menuju kasur. Ia lelah. Ia ingin tidur. Satu harapannya saat ia membuka mata nanti. Perasaan ini hilang. Tenggelam tak berbekas.

#Day6
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

-11Mei2019



7 responses to “Fiksi Mini – Sebuah Mimpi”

  1. Jadi si Tama itu lelaki atau perempuan?

    1. Perempuan dong. Dia kn nangisin laki-laki 😐

  2. Oh iya paham paham…

  3. Dalem ceritanya

    1. Hehe makasih 😊

  4. Hmm, mengikhlaskan itu sulitt

    1. Wkwk emng gitu. Yg baik memang sulit 😅

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca