Senja saat itu ditutup dengan awan kelam. Sesekali terlihat kilatan petir diiringi bentakan gemuruh yang mengalahkan suara bel yang terdengar lima menit yang lalu. Perlahan, rintik hujan malu-malu turun membasahi bumi dan terbang terbawa oleh angin yang berhembus kencang. Beberapa orang berseragam putih-abu berlari dari teras sekolah, melintasi lapangan dengan terburu-buru menuju tempat parkir.
Perempuan itu masih di sana, duduk di ruang kelasnya yang tepat menghadap gerbang sekolah, memandang tetes demi tetes air hujan yang datang bergerombol, menikmati suara riak air yang ditimpa jatuhan tetes hujan tersebut, lalu melebur bersama menjadi sebuah genangan. Jiwanya seakan ikut melebur bersama angin tampias yang sedikit membasahi jendela di sampingnya.
Terlalu lama hati dan pikirannya dibuat tenggelam oleh hujan hingga membuatnya lupa bel telah berbunyi. Lalu tiba-tiba perempuan bernama Tami itu tersadar dan mengalihkan pandangannya ke penjuru kelas, beberapa orang mulai tampak meninggalkan kelas bersama kelompok mereka.
“Lu gak pulang, Ta?” tanya Vita, teman dekatnya selama ia bersekolah di sini.
Sambil menatap Vita yang telah menenteng tas sekolahnya, perempuan itu menjawab, “Nanti aja. Gue masih mau di sini. Nggak bawa jas hujan juga. Lu udah mau pulang? Nggak nunggu hujan reda dulu?”
“Gue dijemput abang gue pakai mobil, paling lari aja dari sini ke mobil. Gampahlah ntar,” jawab Vita.
Mendengar jawaban Vita, Tami jadi mengingat bahwa dirinya selalu membawa payung di tasnya walaupun ia menggunakan motor untuk pergi ke sekolah, “Oh gitu, gue ada payung nih, mau pakai payung gue?”
“Nggak usah, Tam, nih gue tutupin kepala pakai sweter aja,” jawab Vita lalu mengangkat sweter yang ada di tangannya, “Eh gue duluan ya, takut abang gue kelamaan nunggu.”
“Oh iya, yaudah hati-hati larinya, kalau kepeleset teriak ya,” canda Tami.
“Nggaklah, anjir. Lu juga hati-hati ya nunggu hujannya, tar kalau ada yang ganggu terus orangnya nggak napak berarti setan,” Vita terkekeh kecil lalu berlalu meninggalkan Tami yang melotot kesal karena ditakut-takuti. Setelah Vita keluar, keadaan kelas telah kosong. Rupanya teman-temannya sudah lebih dulu keluar dari kelas entah sejak kapan. Ia tak tau. Ia tak peduli.
Tami memasukkan buku sejarah-pelajaran terakhir di kelas- ke dalam tas punggungnya, mengambil ponsel, namun saat akan membuka sebuah pesan, Ratih, ketua kelasnya datang dengan tergesa-gesa, bahkan hampir terpeleset karena sepatunya yang mungkin licin.
Masih dengan napas yang memburu karena berlari, Ratih memegang lengannya seraya berucap, “Huhh.. huuhh.. Tam lu ditungguin di Aula sekarang, G.E.C.E!”
Tami yang bingung dari awal kedatangan perempuan berjilbab putih itu, tambah bingung dengan perintah dadakan yang ia terima, “Hahh?? Ngapain??”
Setelah napasnya kembali teratur, Ratih menurunkan tangannya dari lengan Tami, “Lu lupa?? Lu kan gue pilih jadi perwakilan kelas untuk panitia buku tahunan sekolah,” Perempuan itu berucap dengan mata membelalak.
“Anjir, gue lupa, Tih. Isfa udah di sana?” ucap Tami dengan tatapan takut melihat Ratih.
“Udahlah, dari tadi. Kirain gue lu nyusul, udah gue sms juga, nggak dibales-bales. Udah lima belas menit rapat jalan, masih belum muncul-muncul, ya gue izin aja ke toilet biar bisa manggil lu,” jelas Ratih seraya menarik lengan Tami.
“Ini juga gue baru mau buka hp. Sorry ya, Tih.” ucap Tami menyesal seraya pasrah ditarik-tarik oleh ketua kelasnya itu.
“Yaudah iya. Gece ayokk, jalannya jangan kaya siput, ih!” Ratih mengomel sepanjang perjalanan mereka ke Aula.
Sambil menghela napas pasrah, Tami melihat pergelangan tangan kirinya yang tidak ditarik Ratih, di sana terpasang sebuah jam tangan pemberian ibunya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke enam belas. Saat akan menuruni anak tangga, Tami memegang tangan Ratih yang menariknya, “Tih, lepas dulu ini. Tar jatuh nih, licin lantainya.”
Ratih lalu melepaskan tangannya dari lengan Tami dan mereka berjalan menuruni anak tangga. Tami berjalan dengan pelan dan hati-hati meskipun beberapa kali dilihatnya Ratih sesekali menengok kebelakang memastikan dirinya jalan dengan cepat. Namun, Tami tetap pada pendiriannya berjalan dengan pelan, bukan karena apa, ia hanya tidak mau tergelincir dan membuat dirinya ditertawakan oleh beberapa siswa yang masih menunggu hujan reda di koridor sekolah.
Mereka akhirnya sampai di depan aula. Dari luar terdengar suara yang cukup ramai. Dahinya berkerut, bertanya pada dirinya sendiri. Mengapa rapat seberisik ini?
Sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kusut dan menyisir rambutnya yang berantakan dengan tangan karena tertiup angin, Tami bertanya pada Ratih, “Kok berisik, Tih? Udah mulai belum sih?”
Sambil menghela napas sabar, perempuan di depannya itu membalikkan badan menghadap Tami, “Udah, Utami. Mungkin lagi debat kali, kan hari ini jadwalnya bikin susunan panitia.” Perempuan berjilbab itu langsung kembali menghadap ke pintu aula dan membuka pintu dengan perlahan.
Setelah Ratih masuk dengan cepat, Tami merasakan separuh anggota tubuhnya terkena tiupan sejuk dari AC ruangan. Bergerak pelan, perempuan itu lalu mengikuti Ratih yang menuju kursi di pojok ruangan. Di sana sudah ada Isfa yang juga perwakilan kelas, dan ada beberapa anak kelas sebelah yang ia kenal. Menghela napas pelan perempuan itu lalu duduk di kursi kosong tepat di sebelah Ratih. Andaikan ia bisa menolah saat dipaksa jadi perwakilan kelas, sekarang mungkin ia lagi mandi hujan untuk pulang ke rumah. Sayang sekali!
===
Flashback…
Dengan pakaian rapi, berseragam putih-putih, Tami keluar kamarnya sambil menenteng tas sekolahnya di pundak kanannya, dan sebuah kunci motor di tangan kirinya. Sesaat setelah melewati kamar adiknya, ia baru ingat hari ini ia harus mengantar adiknya sekolah karena abang kesayangannya lagi dinas. Setelah melihat jam di pergelangan tangan kirinya, jam 6.00, ia menghela napas pelan agar suasana hatinya tetap baik di senin pagi yang cukup cerah ini, ia lalu mengetuk pintu kamar adiknya itu.
Sekali, dua kali, tiga kali, sampai ketukan yang keenam adiknya belum membuka pintu kamarnya. Padahal mulai dari ketukan ketiga, ia telah menambah kekuatan alias menggedor kasar pintu kamar itu. Dengan mood yang sudah terbang bebas ia menendang pintu kamar adiknya, berniat kembali menendang, pintu itu akhirnya terbuka memperlihatkan adiknya yang menguap dengan mata yang masih setengah terbuka.
“ANJIRRR!!! BARU BANGUN!” teriak Tami dengan cepat melihat kembali jam di tangan kirinya, jam 6.15, dalam hati ia berujar, “Bangke, alamat telat ini mah.”
Dengan suara kencang ia berteriak sambil mendorong adiknya untuk kembali masuk ke kamar, “Gece!! Gue telat ini!”
“Cepetan ambil handuk. Nggak lama ya, lima menit aja mandinya!” ucapnya lagi lalu melihat isi kamar adiknya yang berantakan sekali.
Dilihatnya adiknya itu sudah mengambil handuk lalu berujar santai, “Kak, lu bantuin gue siapin buku ya, tuh yang di atas meja semuanya masukin tas gue.”
Lantas, Tami langsung melotot menatap adiknya galak, “YAUDAH GECE ASTAGA!”
Setelah adiknya itu keluar kamar dan melangkah ke kamar mandi yang berada di samping kamarnya, ia lalu menuju meja belajar adiknya. Sambil bersungut-sungut ia memasukkan buku pejaran adiknya itu ke dalam tas yang sebelumnya ia ambil di dekat kolong kasur adiknya itu. Tak lama terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat.
“Tam, adik kamu mana? Belum siap-siap berangkat? Udah jam segini tuh.” tanya orang itu yang tak lain adalah mamanya.
“Aku udah rapi dari tadi. Wira yang baru bangun, kalau nggak digedor-gedor pintu kamarnya kayanya nggak bakal bangun,” jawab Tami kesal lalu meletakkan tas yang sudah penuh dengan buku itu ke atas tempat tidur adiknya.
Tak lama terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, kedua perempuan itu serempak melihat ke arah adiknya yang memasuki kamar, “Udah sana, gue mau pakai baju.”
“Jangan lama ya, lima menit.” ucap Tami lalu melangkah keluar menyusul mamanya yang sudah lebih dulu keluar.
“Udah kamu makan dulu aja, sambil nunggu Wira siap-siap,” ucap mama lalu berjalan menuju ruang makan yang diikuti oleh Tami.
===
Sesampainya di sekolah, dilihatnya sebuah barisan panjang di depan gerbang sekolahnya. Setelah menaruh motornya di tempat parkir, ia lantas menuju barisan tersebut dan ikut baris di barisan belakang. Ya jelas, ia telat, Banget!
Ingin mengetahui ada berapa barisan, Tami iseng menengok dan berjinjit untuk melihat ia berada di barisan ke berapa, dalam hati ia berhitung, “Satu… dua, tiga … empat, lima… enam… tujuh, delapan. Anjir, banyak juga ya”
Tapi selain jumlah barisan yang banyak, setelah menyisir orang-orang yang telat ia melihat orang-orang yang biasa ia temui dikelas, alias, kayanya kelasnya yang paling banyak telat hari ini, di barisan kedua ia juga melihat Ratih yang merupakan ketua kelasnya juga ikutan telat, “Ada apa ya hari ini?”
Setelah mendapat nasihat dari Ketua Kesiswaan dan guru piket, siswa-siswi yang telat diperbolehkan masuk setelah menulis keterlambatan mereka di buku dosa alias buku merah. Tami yang berada di barisan belakang mau tak mau harus menunggu lebih lama dan menyaksikan beberapa temannya, lari-lari menuju kelas mereka.
Setelah diperbolehkan masuk, berbeda dari teman-temannya yang lain ia memilih berjalan santai menuju kelasnya yang berada di lantai dua sebelah kanan gedung sekolahnya. Pikirnya, “Gue udah telat, yaudah telat masuk ke kelas juga bukan masalah.”
Sesampainya di kelas, ia sedikit bersyukur karena guru yang akan mengajar pada jam pertama ini belum nampak. Melangkah pelan ia menuju ke kursinya yang berada di baris ketiga tepat disamping jendela. Namun, baru melewati meja Ratih yang berada di baris pertama, perempuan berkerudung itu langsung menodongnya dengan perintah yang membuatnya mengerutkan alis bingung.
“Lu jadi perwakilan kelas buat panitia BTS ya, Tam.” ucap Ratih tiba-tiba.
“Apa-apaan, nih? Kok main nunjuk gitu aja. Nggak ada nanya dulu,” ucap Tami heran lalu melanjutkan langkahnya ke kursinya, di sana sudah ada Vita yang menatap kedua orang itu bergantian.
“Gue udah daftarin nama lu. Tiba-tiba aja pas tadi gue ditanya gue inget lu sama Isfa, jadi gue daftarin nama lu berdua. Isfa juga nggak masalah kok,” ucap Ratih yang sudah berdiri di samping mejanya.
“Ya itukan Isfa, gue keberatan, Tih. Males, ah. Lagian nggak guna juga gue di sana.” ucapnya menatap Ratih dengan tatapan memohon supaya ketua kelasnya itu mengetahui bagaimana nggak minatnya ia buat ikut acara sekolah itu.
“Yaaa, nanti pas pemilihin susunan panitia lu pilih mau jadi apa, kan nggak sendiri juga, Tam. Udah pokoknya lu gue udah daftarin, tar kontak lu gue kasih ke ketua BTS nya, biar dimasukin ke grup.” ucap Ratih kesal lalu berbalik ke arah mejanya. Tami yang melihat perempuan itu melengos pergi langsung melotot tak percaya.
“Nggak jelas banget, tiba-tiba nyuruh gitu aja.” Tami menggerutu kesal dan tak lama guru agama yang mengajar jam pertama masuk ke kelas.
===
Tak lama setelah Tami duduk, seorang siswa laki-laki yang berada di depan Aula menatap ke arahnya, lebih tepatnya ke arah dirinya dan Ratih, “Rat, lu mau masuk tim yang mana? Sama itu yang samping lu siapa namanya? Mau masuk tim yang mana?”
Ratih yang sedang berbicara dengan Isfa langsung menoleh ketika namanya dipanggil, “Emang ketua kelas bisa milih, Run? Bukannya jadi koordinator kelas ya? itu koodinator kelas masih kosong?”
Lelaki yang Tami ketahui bernama Arun itu berdecak pasrah harus menjelaskan kembali, “Makanya jangan ngobrol aja, neng Ratih. Tadi tuh ketua kelas udah pada maju buat bahas perihal koordinator kelas, dan sepakat buat ngebebasin mereka milih apa. Koordinator kelas juga bisa diisi sama perwakilan kelas yang lain.”
“Oh gitu, yaudah. Oh ya, ini Tami, tadi dia telat datangnya.” ucap Ratih memperkenalkan Tami. Tak heran bila beberapa temannya tidak mengetahui namanya. Ia bisa dibilang sebagai siswi yang malas untuk ikut kegiatan sekolah. Tak seperti Ratih yang memang juga aktif di Osis atau Isfa yang merupakan anggota eskul teater yang sudah diketahui banyak orang, terutama siswa laki-laki.
“Lu mau masuk tim mana, Tam?” tanya Ratih tanpa mengalihkan perhatiannya dari papan tulis, ia juga nampaknya sedang memikirkan akan masuk tim mana.
Tami yang sedari tadi hanya menyaksikan kedua orang itu berbicara langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan Aula dan melihat tulisan-tulisan yang ada di papan tulis itu. Saat sedang membaca susunan panitia dan mempertimbangkan akan masuk tim yang mana, tiba-tiba sebelah kanan papan tulis tertutup oleh tubuh siswa laki-laki yang tiba-tiba berdiri, membuatnya tak bisa melihat tulisan di bagian tersebut.
“Eh itu apa sebelah kanan?” tanya Tami menunjuk bagian yang tertutup. Arun yang melihat langsung menggeplak kepala siswa laki-laki itu.
“Anjing! Kenapa sih, Run?” tanya lelaki itu kesal sambil mengusap-usap pelan kepalanya yang sakit.
“Awas, bang! Itu orang mau lihat jangan ditutupin.” Balas Arun yang menunjuk ke arah Tami.
Laki-laki yang hanya ia ketahui mukanya karena beberapa kali papasan di kantin atau lorong sekolah, namun tidak diketahui namanya melihat kearahnya. Dengan bersungut-sungut kesal laki-laki itu berjalan ke arah lain yang tak menutupin papan tulis, “Yaudah sih biasa aja, nggak usah pake geplak segala. Lama-lama tangan lu ringan banget, Run.”
Tami lalu kembali mempertimbangkan akan masuk tim mana. Dilihatnya, Isfa temannya itu sudah memilih tim Kreatif. Dalam hati ia berujar,“Gue nggak mungkin ikut tim itu, bisa-bisa mendidih kepala gue mikirin ide. Masuk yang mana ya?”
Tiba-tiba Ratih yang di sebelahnya, mengangkat tangan lalu berujar, “Gue koordinator kelas aja dah.” Setelahnya perempuan itu menyengir.
“Udah ketebak banget emang. Lu mah nggak mau ribet,” ucap Arun yang memang juga akrab dengan Ratih karena sama-sama satu eskul, eskul Basket.
“Iyalah, kalau ada yang gampang kenapa harus yang susah?” ucap Ratih santai lalu menoleh ke arahnya, “Lu yang mana, Tam? Jangan lama pliss,”
Setelah mempertimbangkan, akhirnya Tami berujar, “Gue tim property aja deh.”
Sebenarnya alasan kenapa ia memilih tim itu karena pikirnya ia bisa kalau hanya menyiapkan barang-barang atau mengangkut barang-barang yang dibutuhkan tanpa harus ribet mikir ide yang memang susah sekali ia lakukan.
“Serius? Yakin? Berat loh itu,” tanya Arun meyakinkannya yang dibalas Tami dengan mengerutkan dahi.
“Berat kenapa? Yang penting bukan mikirin ide atau yang ribet-ribet nggak masalah kok buat gue, lagian itu kayanya cewenya baru satu jadi gue volunteer biar cewenya ada dua. Kesetaraan,” ucap Tami sambil menyengir tak berdosa. Dilihatnya, Ratih yang mendengus geli dan Arun yang memutar bola matanya malas. Sedangkan tanpa mereka berdua sadari, Tami melihat laki-laki yang tadi menutupi papan tulis juga ikut mendengus geli.
“Yaudah. Jangan nyesel ya,” ucap Arun lalu menulis kedua nama itu di posisi yang mereka inginkan.
Ratih tiba-tiba saja permisi berjalan menuju depan Aula dan berbicara pada salah satu anak Osis yang Tami ketahui, sedangkan cowo yang tak ia ketahui namanya berjalan menuju belakang Aula dan berujar pelan saat melewatinya, “Kesetaraan? Let me see!”
===
Ini tuh sebenernya projek bareng nadia, tapi ya gue duluan aja yang mulai buat part pertemuan ini. Projeknya dari pas kelas 12 dan baru selesai part awal sekarang, lama banget ya? Iya emang, ini aja baru dibuka lagi gara-gara nggak sengaja bilang ke Nadia kalau draf dikitnya masih ada di folder laptop gue. So, kalau mau ditunggu ya tunggu kalau nggak yaudah sampai sini aja. Jangan sampai penasaran pokoknya hehe
Sejujurnya gue bingung mau ngasih judulnya apa, ini cerbung, cerpen atau fiksi biasa, cuma ya karena dari awal cerita selintas begini gue kasih tag cerpen jadi yan gue tulis begitu walaupun keknya lebih cocok jadi cerbung, iya nggak sih? Apa cerpen?
—
-3Juni2020

Tinggalkan Balasan