Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada nama tokoh, kejadian, tempat kejadian, ataupun waktu kejadian yang sekiranya sama. Karena mungkin, hal-hal seperti ini pernah terjadi kepada seseorang di luar sana.
Happy reading 😉
—
Senja saat itu ditutup dengan awan kelam. Sesekali terlihat kilatan petir diiringi hentakan gemuruh yang mengalahkan suara bel yang terdengar lima menit yang lalu. Perlahan, rintik hujan malu-malu turun membasahi bumi dan terbang terbawa oleh angin yang berhembus kencang. Beberapa orang berlari – lari dilapangan menuju koridor. Aku masih duduk dikursiku, memandang tetes demi tetes air hujan yang datang bergerombol, menikmati suara riak air yang ditimpa jatuhan tetes hujan tersebut, lalu melebur bersama menjadi sebuah genangan. Jiwa ku seakan ikut melebur bersama angin tampias yang sedikit membasahi wajah. Terlalu lama hati dan pikiranku dibuat tenggelam oleh hujan hingga membuatku lupa bel telah berbunyi. Lalu aku pun tersadar dan mengalihkan pandangan ke penjuru kelas, beberapa orang mulai tampak meninggalkan kelas bersama kelompok mereka.
“Lu mau jemput adek?” Tanya Vita, teman dekatku selama bersekolah disini.
“Iya nih. Pasti mereka sudah ngoceh-ngoceh. Padahal gue juga baru keluar.” Kesal ku jawab sambil memasukkan barang-barangku ke tas merah ku.
“Hahaha. Namanya juga masih kecil, Gi. Sabar aja. Nanti juga ada masanya mereka pulang sendiri” Vita sudah siap pulang dengan jaket ditangannya.
“Hehe. Kalau itu gue tau kali. Udah ahh. Gue duluan ya. Nanti mereka makin bawel.” Menggendong tas, lalu pamit pada Vita.
“Oke. Hati-hati lu. Jangan ngebut-ngebut lagi hujan.”
“Oke. Makasih. Lu juga hati-hati” Lalu Aku meninggalkan Vita dan pergi menjauhi kelas. Mengambil motorku di parkiran sekolah, memakai jas hujan dan mengendarai motor ke sekolah adik ku, Nara dan Naina.
—
Aku mulai memasuki pekarangan sekolah dasar tempat kedua adikku bersekolah. Mataku mengamati keadaan sekolah dan mencari keberadaan adikku.
“KAK GIAAA!” Seru Naina dengan suara cemprengnya. Aku mengendarai motorku dan menuju ke tempat kedua adikku itu.
“Jas hujan kamu mana nai?” Tanya Aku karena hanya Nara yang mengenakan jas hujan sedangkan Naina tidak, masih lengkap dengan baju seragam sekolahnya. Hanya tasnya saja yang di lindungi tas kresek merah.
“Gak tau tuh ka. Kemaren aku bilangin masukin tas tapi gak denger.” Si kakak Nara yang menjawab dengan kesal.
“Gak bawa ka. Ketinggalan. Lagian berat kalau aku bawa.” Naina menjawab pasrah dan menyerahkan tasnya itu untuk ditaruh di sangkutan depan motor beatku.
“Bodo deh. Tar kalau basah gak tanggung jawab. Tas kamu mana ra?” Aku pasrah dan menerima tas tersebut lalu menaruhnya.
“Nih aku pakai. Ketutup sama jas hujan ku.” Ujar Nara senang dan bangga.
“Bagus deh. Cepet naik.” Aku menahan motor saat Naina naik disusul oleh Nara. Aku mulai mengendarai motor menjauhi sekolah adikku dan menyusuri jalan yang akan membawa kami pulang kerumah.
—
Langit sore sudah sejak sejam yang lalu menggelap. Aspal jalanan sudah basah rata terkena hujan. Bahkan sudah jalan yang tergenang air hujan. Suara sholawat yang biasanya terdengar sebelum magrib pun sudah terdengar. Nara dan Naina sedang menonton tv, padahal Ibu sudah daritadi menyuruhnya berhenti atau setidaknya menonton yang pantas ditonton untuk anak seusianya. Ayah pulang dalam keadaan basah, lima belas menit sebelum adzan magrib berkumandang. Selagi ayah bersih-bersih, aku diperintah Ibu untuk menyiapkan nasi dan lauk untuk Ayah makan. Selesai Ayah makan, Nara dan Naina sudah ada di mushola kecil yang sengaja Ayah buat untuk solat berjamaah. Disusul Ibu. Aku sedang haid jadi istirahat. Sebelum mengambil wudhu, Ayah tiba-tiba bertanya dan mengiringku duduk sebelahan di ruang tamu.
“Ka. Kamu mau kuliah dulu atau kerja?” Sedikit bingung karena gak biasanya ayah bertanya. Apalagi aku baru 4 bulan di kelas dua belas.
“Aku mau kuliah dulu yah. Emang kenapa?” Kujawab dengan tegas dan berani.
“Ya gak. Dikantor ayah ada pengurangan pegawai dan ayah termasuk. Dapet dari mana nih uang buat kamu kuliah?” Mendengar suara frustasi ayah membuat mataku tanpa disadari berkaca-kaca.
“Kok gitu? Kenapa ayah?” Kutanya dengan muka yang melihat keatas. Berusaha menahan air mata yang sudah siap meluncur..
“Kebanyakan pegawai. Uang buat ngegajinya gak ada. Ayah kan pegawai tetap. Jadi yang pegawai tetap mau di keluar-keluarin.” Ayah menjawab dengan pandangan yang sama, melihat keatas, langit-langit ruang tamu.
“Ohh. Terus gimana?” Ku Tanya dengan nada lesu. Pikiran ku sudah kemana-mana. Cita-cita, impian, dan keinginanku sudah melayang-layang di kepalaku.
“Ayah nanti mau berjualan. Kamu cari beasiswa. Kaya ayah waktu kuliah dapat beasiswa dua. Jadi kamu gak usah kuliah sambil kerja. Setiap bulan kamu bisa dapat uang tanpa kerja dari beasiswa yang kamu dapet.” Ayah menjawab dan mulai menegakkan tubuh. Menghadapku yang belum sanggup melihat wajah penuh harap ayah.
“Ya. Nanti aku coba cari” Ku beri jawaban tegas. Dan satu beasiswa yang ada dikepala gue. Dan gue harus dapat.
—
Lima bulan sudah berlalu, setelah percakapan ku dengan ayah. Walaupun ucapan ayah itu terus mengahantui pikiran dan membuat ku takut tapi aku harus tetap kuat dan gak boleh putus asa. Dan kini aku hanya bisa berharap kalau semua impian dan cita-cita ku dapat terwujud dan aku bisa kuliah. Amiin.
—
Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Ini hanya sebuah selingan karena finding you belum bisa di update 🙁
-11Mar2016

Tinggalkan Balasan