Hujan turun dengan derasnya. Membasahi jalanan dan gedung-gedung di seberang sekolah ku. Beberapa anak-anak terlihat bermandi hujan. Mereka masih menggunakan seragam sekolah, ku yakin pasti mereka baru pulang. Sambil tertawa seakan hujan adalah sebuah permen yang turun dari langit dengan gratis. Kulihat jam dinding didepan kelas. Masih lima belas menit lagi. Hujan lebih menarik perhatianku ketimbang dengan guru kimia yang menjelaskan tentang molekul. Hujan makin besar, dan mungkin akan membuat jalanan banjir dimana-mana. Hmm.. terkadang aku bertanya pada orang-orang yang memaki karena banjir, namun saat mereka kekeringan mereka memohon agar hujan datang dan menolong mereka. Seandainya hujan adalah seorang manusia mungkin ia akan memaki. Memaki orang-orang yang egois. Hanya ingin kebahagiaan untuk dirinya. Ketika ia datang dan ingin bermain-main dengan lama dan menetap seharian, mereka memaki, meminta hujan untuk berhenti. Tapi saat ia membutuhkan hujan, mereka mengeluh-eluhkan agar ia datang dengan cepat. Kesel dan marah pastinya, tapi itu jika hujan adalah manusia. Nyatanya hujan tetap hujan. Hujan tidak pernah membenci mereka, ia akan tetap turun menurut kodratnya. Tidak peduli pada orang-orang yang berusaha mematahkan harapannya. Harapan untuk tetap turun, untuk tetap membagi kebahagian kepada orang-orang yang menyukainya, walaupun tidak banyak tapi ia tetap turun menurut kodratnya.
Andai hidup ku bisa seperti itu. Terlihat cuek pada orang-orang yang mencoba memainkan emosiku. Tapi nyatanya manusia tetaplah manusia yang punya batas kesabaran. Mempunyai batasan untuk tetap diam dan mendengarkan. Karena saat itu sudah habis, ia akan berusaha menampakkan emosi terpendamnya. Karena mungkin hanya sebagian saja yang masih akan tetap diam meski dia dihujat orang orang banyak. Orang-orang terpilih dan orang-orang yang berusaha untuk terpilih. Dan pada akhirnya, aku hanya akan mendamba hujan. Berharap ada seorang manusia seperti dia. Tanpa kusadari, guru kimia sudah pergi lima menit yang lalu. Kelas pun mulai berisik, dengan suara orang-orang yang mengeluh tentang hujan. Ahh… andai mereka sadar betapa indahnya hujan. Lalu, aku pun beranjak dan berjalan menjauhi kelas. Berjalan untuk menjemput hujan.
—
-15Jan2016

Tinggalkan Balasan