Siapa di sini yang mau hidupnya tenang?
Kayanya kalau ditanya kaya gitu semua orang berlomba ingin unjuk tangan dan bilang “Saya-saya-saya”. Tapi… yang namanya hidup kadang kala nggak semua hal berjalan seperti yang kita mau. Banyak hal yang maunya ini malah jadinya itu, bukan karena berusaha, tapi mungkin emang jalannya kaya gitu.
Belakangan dengan banyaknya riweh suara yang hadir di kepala akhirnya aku bertemu dengan satu video di tiktok tentang Ruang Tenang by Sanustra. Dari video itu akhirnya aku pindah ke Instagram dan menemukan channel di komunitas di whatsapp.
Sekitar bulan Juni aku ingin datang ke event offline mereka yang ada di SCBD. Tapi karena nggak kebagian slot jadi nggak bisa. Yaudh akhirnya nggak jadi dan cuma mantengin grup aja. Nah, lupa sih tepatnya kapan, entah awal bulan atau akhir bulan kemarin ada broadcast di grup tentang Malam Jum’at Tenang. Langsung nggak pakai lama daftar acara itu.
So, aku bakal cerita sedikit tentang Malam Jum’at Tenang ini dan apa aja yang aku rasain sebelum dan setelah acara ini.
Sekilas tentang Ruang Tenang by Sanustra
Sanustra atau juga dikenal dengan Sadar Nusantara ini merupakan sebuah gerakan yang akan mengajak kalian menjelajahi, menghubungkan, dan menemukan kembali diri kamu yang sebenarnya. Meskipun namanya nusantara yang mungkin banyak ngira berhubungan dengan tanah air, tapi di sini tujuan gerakan ini untuk mengingatkan kembali dan mengangkat rasa memiliki, kebanggaan, dan persatuan di antara orang-orang dengan latar belakang yang berbeda.
Nah, Sanustra ini menghadirkan Ruang Tenang yang digagas oleh Yusuf Dharmawan atau yang akrab dipanggil Mas Iyus. Awalnya Ruang Tenang ini hadir dari duka yang dirasakan beliau saat pandemi Covid-19. Saat pandemi itu, ia kehilangan pekerjaan yang dulunya dia pikir akan terus dia lakukan sampai nanti dan juga kehilangan orang tua.
Ruang Tenang by Sanustra ini menjadi instalasi seni yang dibuat untuk mengoneksikan alam, manusia, dan Tuhan sebagai sang pencipta. Harapannya orang akan lebih mengenal kekayaan Nusantara melalui instalasi seni berbasis ecowellness dengan nama Ruang Tenang. Dengan memasuki Ruang Tenang ini, manusakan lebih terkoneksi dengan alam dan akan mencapai Kesehatan dan kesejahteraan yang optimal.
Baca juga: Belajar Berdamai dengan Insecurity dan Penerimaan Terbaik dari Buku ‘Insecurity is My Middle Name’
Malam Jum’at Tenang
Sebelum acara mulai, aku nggak punya ekspektasi yang tinggi tentang zoom malam itu. Hanya ingin tau lebih dekat dengan Ruang Tenang ini. Aku cuma hadir dan berniat hanya ingin mendengarkan. Setiap orang yang hadir saat itu aku rasa punya problem yang beda-beda. Semua punya masalah yang akhirnya membuat kita sama-sama ingin hadir di Malam Jum’at Tenang hari itu.
Sejujurnya kondisiku belakangan lagi baik-baik aja meskipun ya mungkin agak rapuh kali disenggol dikit hahaha tapi so far aman-aman aja. Di fliyer tertera hanya 45 menit saja. Tapi ternyata lebih lama dari itu. Sekitar hamper 2 jam aku mengikuti zoom itu sebagai pendengar.
Iya saat itu aku cuma denger aja. Nggak dipanggil dan nggak mengajukan diri buat cerita. Tapi itu akhirnya jadi pengingat buatku. Banyak yang bikin aku sadar kalau mungkin aku datang memang tujuannya untuk itu.
Kalau mau tenang, katanya harus ada ketidaktenangan. Hadirnya ketidaktenangan itu, bisa jadi karena kita yang terlalu memikirkan masa depan dan terlalu berlarut di masa lalu. Kita jadi kurang menghargai apa yang terjadi sekarang. Padahal ya masa sekarang lah yang harus dijalanin dengan baik.
Tapi bukan berarti kita nggak bisa merencanakan. Apalagi buat kalian tipe F yang perencana pasti akan sangat bingung ketika dihadapkan pada ketidakpastian. Boleh kok berencana, asal ada syaratnya guys. Kita jangan terlalu dekat dengan rencana itu. Ketika kita terlalu melekat, maka ketika itu nantinya gagal kita akan sangat kecewa dan menyesal.
Meskipun proses hidup itu fitrahnya mengikuti intuisi hati, maka kita perlu mengatur hati kita biar ketika gagal kita tau harus apa tanpa perlu jatuh terlalu dalam. Karena dibandingkan terlalu larut dalam masa lalu yang gagal, kita perlu melihat kehidupan kita saat ini.
Biar lebih paham maka kamu perlu cari apa sih makna hidupmu. Apa yang kamu cari? Kekayaan, jabatan, hubungan, atau apapun itu yang bikin kamu bahagia. Nggak jarang kamu perlu melepas idealnya bahagia buat dapat bahagia yang sejati. Kata Mas Iyus, kebagaiaan yang sejati adalah ketika membantu orang. Awalnya aku nggak suka dengan kalimat itu, tapi setelah sesi meditasi selesai, aku percaya kalau itu jawabannya.
Misalnya ketika kamu ingin pergi keluar negeri, karena kamu pikir kamu akan bahagia. Tapi ternyata nggak dikasih itu tapi kamu dikasih jalan-jalan bareng teman di kota kamu sekarang. Bahagia juga nggak? Bahagia pasti meskipun dengan bahagia yang lain.
Saat zoom meeting itu, aku ngerasa kaya, masalahku pelik tapi orang lain juga punya masalah yang nggak jauh besar. Setiap kita melewati jalan yang berbeda untuk mencari ketenangan itu. Lewat Malam Jum’at Tenang ini, diakhir sesi kita bermeditasi dan berbicara dengan inner child masing-masing.
Setiap orang diminta buat ambil dan pegang foto masa kecil atau barang yang berhubungan dengan masa kecil terutama usia 0-8 tahun. Katanya umur segitu, kebenaran yang kita percayai masih terbawa oleh kebenaran dari orang tua, kakek-nenek, atau orang sekitar. Belum ada kebenaran versi kita.
Dengan ditemani suara laut, gemericik air, dan burung yang bersiul. Aku kembali bertemu dengan anak kecil yang fotonya ku genggam. Dia si anak kecil kerudung pink itu yang akhirnya berhasil aku kasih tau kalau hidupnya sekarang aman-aman aja bersamaku. Jalan yang sudah kita lewati terlalu jauh dan panjang, tapi kerennya kita berdua tetap hidup dan ada di sini.
Kalau sebelum sesi pembahasan tentang kebahagiaan yang sejati. Mungkin jawabannya adalah aku sendiri. Aku yang bahagia ada disekitar orang-orang yang aku sayang. Jika beberapa tahun ini aku memberi lewat finansial, sekarang aku memberi dengan kehadiranku yang utuh.
Itu juga kali ya fungsinya meditasi ini, buat nyadarin betapa pentingnya kita buat orang lain. Biar nggak lagi kepikiran mau pergi atau mau mati ketika dihadapkan masalah. Iya meskipun mungkin hadirnya nggak banyak membantu, tapi padahal cuma fisiknya, ibaratnya tubuhnya masih terlihat udah sebuah anugerah buat orang sekitarnya. Jadi, jangan pernah kepikiran buat pergi lagi ya. Kamu worth itu buat orang yang kamu sayang 😊
Meskipun aku nggak nangis setelah selesai sesi, tapi aku jadi agak bingung awalnya sampai mungkin hampir semua yang ikut nggak bisa ngomong ketika ditanya rasanya gimana. Banyak juga yang kesel ketika melihat masa kecilnya, ada juga yang jadi kasian. But, for me, aku malah bersyukur bisa ketemu sama versi kecilku yang nggak bisa apa-apa taunya main aja tapi jadi anugerah buat orang tuaku.
Anak pertama, pengalaman pertama, banyak hal pertama yang dilalui orang tuaku ketika memiliki aku. Ketika aku lahir, mungkin aku jadi kebahagiaan mereka. Dua orang kekasih yang akhirnya menikah lalu mendapatkan aku sebagai anaknya. Mereka pertama kali menjalankan peran orang tua, dan aku juga pertama kali menjalankan peran menjadi anak. Anak pertama pula.
Meskipun Pundak berat banget, tapi, semoga jalan kedepannya makin bersinar dan berkah. Aamiin.
Itulah kegiatanku Malam Jum’at Tenang kemarin. Bersyukur bisa dapetin kesempatan ini karena ternyata banyak juga yang mau ikut tapi aku menang war hahaha. Alhamdulillah. So, yang mau ikutin kegiatan ini bisa langsung ke Instagram Ruang Tenang by Sanustra.
—
–17Ags2024


Tinggalkan Balasan