Insecurity nampaknya menjadi satu hal yang tak bisa dipisahkan dari diri setiap manusia. Sesuai judulnya yang artinya: ‘Insecurity adalah nama tengahku’. Dalam buku setebal kurang lebih 260 halaman, dan bab sebanyak 45 bab ini, penulis yang akrab disapa Alvi sukses membuat pembaca melebur, mengiyakan, dan belajar memahami arti sebuah insecurity. Sebuah kata singkat yang ternyata rumit.
Judul dari setiap bab yang dibawa Alvi menggunakan kata ‘aku’ yang akhirnya membuat pembaca terasa dekat dengan diri sendiri. Seperti layaknya berbicara ‘Aku sama sekali nggak good-looking’, ‘Tapi aku malu, belum bisa membanggakan orang tuaku’, atau ‘Jujur, aku iri dengan pencapaian teman-temanku. Hal itu mugkin sesuai dengan kalimat pertama Alvi dalam buku ini yang tertulis, “Hai, ini aku, your insecurity. Lewat buku ini, kita bisa jadi teman, yuk?”
Beberapa kata-kata ajaib dalam setiap bab pun ditebalkan. Mungkin penulis bermaksud sebagai pengingat dan agaknya terasa seperti kita para pembaca dapat mengerti maksud dari apa yang ingin penulis buku ini sampaikan. Seperti seri ‘Jika Kita’ yang sudah lebih dulu terbit, banyak pelajaran dan kata yang ‘ngena’ dalam setiap tulisan Alvi. Di buku ini, beberapa kata mujarab itu juga terasa menampar, menyadarkan, yang membuat pembaca memahami bagaimana berteman dengan insecurity mereka. Beberapa kutipan mujarab tersebut di antaranya:
- Jika kamu berusaha sungguh-sungguh untuk hal baik yang kamu kejar, penampilan fisik nggak akan jadi hambatan.
- Nilai dirimu nggak bergantung pada validasi eksternal.
- ‘Nggak bisa’ dan ‘bisa’ hanya dipisahkan oleh ‘aku belum mencoba’.
- Kalau kamu mau berkembang, kamu harus mau melewati susah payahnya. Berjam-jam baca, capeknya belajar, pusing karena stuck, tapi terus cari alternatif. Hal-hal baik nggak didapat dari santai-santai.
- Kita nggak bisa membayangkan mimpi besarnya saja. Mimpi kecil juga harus diperhatikan.
- Do something or do nothing.
- Standar hidup kita bukan apa yang orang bilang kepada kita.
- Hal-hal baik butuh waktu.

Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami pesan bahwa omongan orang, tanggapan orang bukan hal yang harus menjadi penghalang untuk meraih apapun impian yang sedang kalian kejar. Satu hal yang ‘ngena’ banget untuk saya adalah pesan-pesan untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah yang coba Alvi sampaikan.
Di saat meraih impian, banyak sekali rintangan, mulai dari omongan orang yang menyakitkan, pencapaian orang lain yang bikin iri, usaha-usaha yang gagal dan terasa lama, keinginan untuk menyerah, perasaaan capek dan lelah, yang selanjutnya malah membuat diri ini mempertanyakan kemampuan diri sendiri, apakah ini sudah benar, apakah aku bisa, apakah ini waktunya aku menyerah?
Insecure hadir bukan untuk membuat kalian akhirnya menyerah, mempertanyakan kemampuan diri sendiri, tetapi ada untuk di’iyakan’, alias penerimaan. Hey! Kalian nggak perlu membuktikan kalian hebat cuma untuk orang lain! Lagi pula, esensi hidup tidak hanya untuk mewujudkan ekspektasi-ekspektasi orang terhadap kita!
Alvi mampu mengemasnya dalam setiap bab yang ada dalam buku ini. Fakta bahwa nilai diri dan standar hidup, bukan bergantung pada orang lain atau eksternal di luar diri sendiri membuat poros insecure mengarah pada internal, diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri. Menurut Alvi, perasaan insecure adalah hal yang normal, yang mungkin saja bisa kembali hadir di masa depan. Tetapi, dengan pengalaman kalian menerima di momen ini, di waktu ini, akan menjadi pelajaran yang berharga kedepannya. Yup! Membaca buku ini menjadi pengalaman dan pelajaran yang bagus untuk berdamai dengan diri sendiri.
Seperti yang saya dapat dari buku ini, “Ya emang kenapa kalau aku jelek? Apa yang lebih buruk dari itu” “Emang kenapa kalau aku gagal? Yang penting aku udah coba yang terbaik kok.” Penerimaan itu memang nggak mudah. Siapa yang akan tahan dengan omongan orang? Siapa yang bisa nyingkirin perasaan iri secepat itu? Bagaimana caranya bodo amat?
Kau tau, jawaban paling masuk akal adalah ketika kita akhirnya memasrahkan semuanya pada Yang Maha Besar. Ada Allah yang akan dengan senantiasa mendengarkan keluhanmu, melihat caramu berdamai, dan mampu menghilangkan perasaan insecure yang kamu rasakan. Pasrahkan semuanya. Kalian nggak sendiri, dan tempat paling aman untuk bercerita, ya sama Allah.
Butuh usaha dan kerja keras. Kalau pun hasilnya gagal, dan membuat kita mendapat cemoohan dari orang, biarkan. Mereka nggak tau bahwa kamu telah berkembang selama proses perjalananmu itu. Kau tau? Kamu hebat bisa bertahan sejauh ini dan terus mencoba berbagai hal untuk berhasil. Kalau kata Alvi dalam buku ini, “Focus on making your art. Focus on processing. Focus on finding new ways.” Karena benar, hal-hal baik itu butuh waktu, asal kalian tidak menyerah!
Jadi ketika suatu saat hal rumit lain datang, perasaan insecure kembali menyelinap, kamu dapat dengan berani dan tangguh untuk berhadapan dengan dia. Your insecurity! Kita hidup bersama diri ini untuk waktu yang lama, dan belajar memahami diri sendiri prosesnya juga hampir seumur hidup. Dikutip dari buku ini, “Butuh waktu selamanya untuk merasa nyaman dengan diri sendiri.” Selamat berproses mengenal diri sendiri, berproses untuk tumbuh, “trying to feel something, trying to be something.”

—
-2Oktober2021


Tinggalkan Balasan