Penulis. Kata ini punya banyak sekali makna dan arti yang berbeda. Penulis buku, penulis cerpen, penulis konten, penulis puisi, penulis fiksi, penulis non fiksi, bahkan selama pembelajaran aja kita penulis, eh apa yang terakhir masih bisa dinggap penulis? Jadi… penulis itu apa sih?
Dikutip dari quipper.com, penulis memiliki makna setiap orang sebagai pelaku kreatif yang mampu menciptakan suatu karya baik tulisan berupa fiksi (novel, cerpen, puisi) maupun non-fiksi (karya ilmiah, makalah, jurnal, artikel). Nah, penulis itu akan menungkan berbagai ide, gagasan, pikiran, hingga perasaannya dalam bentuk tulisan. Eitss… makanya meskipun tiap hari kamu menuangkan perasaaan lewat tulisan nggak semua hal bisa dianggap sebagai ‘penulis’.
Meskipun keliatannya sebatas buku dan kebutuhan teks aja, penulis tuh sudah masuk ke ranah digital apalagi saat ini kan semua sudah serba digital dan visual ya. Tentunya perkembangan pekerjaan ini juga lebih beragam lagi. Ada juga nih penulis yang terlibat atau menciptakan karya dalam bentuk naskah scenario atau kebutuhan iklan. Tentunya bidangnya akan berbeda, yang satu ini biasanya masuk ke bagian kreatif, marketing, atau sinematografi.
Makanya nggak heran deh, kalo dirunut tuh, kaya banyak banget orang yang kerjanya nulis tapi di bidang yang berbeda-beda. Bahkan ya, adapula jurnalis atau wartawan yang tugasnya menulis, walaupun disebut dengan istilah lain. Saking banyaknya kayanya nggak bakal cukup nih kalo aku cerita di sini. Jadi… aku cuma mau bahas satu pekerjaan yang sedang aku geluti sekarang ini, dan ironi yang saat ini banyak terjadi saat berprofesi sebagai penulis konten atau istilah kerennya content writer.
Biasanya content writer ini bekerja di sebuah perusahaan yang mengembangkan pemasaran secara digital. Istilahnya content writer ini biasa masuk di divisi Marketing atau Kreatif. Nah, berbeda pada media online atau agensi yang jelas-jelas jadi scoop atau layanan jasa yang menawarkan tulisan jadi produknya. Content writer di perusahaan tuh sering kali dipandang sebelah mata. Tau nggak kenapa?
Terutama buat perusahaan yang baru merintis atau industri. Mungkin banyak orang di perusahaan tersebut yang menganggap pekerjaan kita sebelah mata. Apalagi buat orang awam yang nggak paham sama cara kerja profesi ini dan membandingkan dengan apa yang mereka kerjakan. “Bisanya nulis doang,” “Sok sibuk banget,” atau “Nulis doang mah nggak ngehasilin uang”.
Beberapa kalimat seperti itu, atau malah yang lebih parah bisa kamu dengar ketika bekerja di perusahaan produk atau layanan jasa. Rasanya kaya itu tuh jadi satu kesiapan mental yang perlu kamu siapkan jika terjun ke profesi ini. Udah dianggap cuma bisa nulis doang eh sampai akhirnya salah satu momok menakutkan ketika perusahaan nggak lagi fokus ke website. Siap-siap deh dapet surat cinta untuk pemberhentian, huftt
Makanya, kerjaan ini tuh rentan banget lho dianggap remeh atau dilihat sebelah mata sama orang lain. Terutama orang-orang super power alias si paling kerja. Hilih, kaya dia aja yang bisa majuin perusahaan, emang content writer nggak bawa pengaruh ke perusahaan?
Istigfar dah lu pada yang suka anggap remeh kerjaan orang. Astagfirullah.
Haha, udah ya segitu aja curhatan hati ini, semoga kita dijauhkan dari orang-orang dzolim atau si paling kerja. Aamiin.
—
-03Jan24


Tinggalkan Balasan