Pernah nggak sih bangun tidur tapi nggak mau bangun? Bukan karena masih ngantuk, tapi ya karena terlalu takut buat ketemu satu masalah yang bikin kalian nggak bisa tidur. Saking takutnya, beberapa orang memilih menangis di gelapnya malam cuma buat membuat tubuh semakin lelah dan akhirnya tertidur.
Terakhir kali merasakan hilang arah seperti ini sekitar tahun 2020, tepatnya menjelang skripsi. Tahun itu berat banget. Nggak mau bangun, nggak mau ketemu orang, dikit-dikit bengong bahkan bisa sampe nangis cuma karena ngerasa useless dan kecewa dengan keputusan yang sudah diperjuangkan beberapa bulan sebelumnya.
Entah ya, merasa useless dan nggak berguna tuh bikin nggak mau bangun. Ngerasa jadi beban orang lain jadi satu hal yang nggak mau siapapun alami. Termasuk juga aku. Tapi akhir tahun ini, tiba-tiba semuanya balik lagi kaya dulu. Keputusan yang keluar bulan lalu, bikin ngerasa nggak berguna, ngerasa bakal jadi beban keluarga lagi, ngerasa masa depan yang sudah aku susun jadi runtuh dan balik nggak jelas.
Seminggu pertama nggak mau bangun, literally setiap hari kaya punya sesi buat nangis. Capek, marah, mau nangis, sampai tiap mau make up ke kantor mesti tahan nangis dulu biar air mata berhenti. Minggu kedua semua sudah mulai terkendali. Tapi sebenernya lebih ke ngisi waktu ngelakuin apapun biar nggak ada waktu kosong yang malah bikin pikiran ke mana-mana. Semakin lama, alam bawah sadar sudah semakin ikhlas dan percaya, semustahil apapun kata orang, yang namanya rezeki nggak akan ketukar.
Tapi lucu ya. Awal tahun gini dapet hal yang bikin semuanya jadi serba salah. Antara bersyukur tapi apa harus ngorbanin pikiran dan mental gue yang udah kacau kaya gini. Banyak hal dalam hidup yang mengharuskan setiap orang untuk memilih bertahan terlalu menyakitkan, atau beranjak tapi nggak tau arah.
Bukan nggak bersyukur, tapi rasa yang menyesakkan, mental, bahkan sampai air mata yang masih ingin menetes jadi tanda bahwa aku ingin beranjak. Sayangnya aku nggak tau mau ke mana. Arah mana yang harus aku pilih. Tujuan mana yang bisa menerimaku. Makin lama ketidakpastian arah bisa buatku gila. Kembali merasakan kalau akhirnya semua nggak bisa kita kontrol sendiri. Kemarin aku pikir semua bisa aku atur, bisa aku kendalikan. Bahkan sempat terlintas sudah terima aja semuanya.
Tapi sayangnya, semua memang nggak bisa berjalan selancar itu. Batu krikil kecil yang aku temukan nyatanya lama-lama jadi menggunung dan berubah jadi batu besar yang siap jatuh dari ketinggian. Ketika membesar itu, aku yang masih di bawah nggak bisa mengendalikan itu. Aku terjerembap dan sulit untuk bangun. Aku nggak bisa bangun dengan dua tanganku sendiri. Aku hanya menahan tangis ketika batu itu membuat tubuhku terluka.
Akhirnya aku belajar kembali. Semua hal harus digantungkan dan dititipkan pada Zat yang lebih besar. Apapun masalahnya semua serahkan pada-Nya dan percayalah Dia nggak akan membuat kita menderita. Karena setelah sakit akan ada hal baik yang datang, Aamiin.
—
-10Jan24

Tinggalkan Balasan