Resensi Novel – Gandamayu: Perempuan dalam Dominasi Pria yang Sulit Dibantahkan

Gandamayu merupakan sepenggal kisah dalam cerita Mahabharata. Bercerita tentang Sahadewa, putra bungsu pandawa yang berhasil meruwat Dewi Durga yang tak lain adalah Dewi Uma. Sebelumnya, di bagian pengantar novel ini, penulis menjelaskan apa itu ruwatan. Ruwatan bagi sebagian orang Bali dan Jawa merupakan satu jalan spiritual dengan pengharapan terlahir kembali menjadi manusia baru yang jauh memiliki kualitas hidup dalam segala sisi.

Dewa Siwa yang merupakan suami Dewi Uma berniat untuk menguji kesetiaan Dewi Uma. Ia berpura-pura sakit dan meminta Dewi Uma untuk turun ke bumi dan mencari susu dari sapi putih seorang gembala. Setelah menemukannya, gembala tersebut yang tak lain adalah Dewa Siwa dalam wujud yang lain menginginkan Dewi Uma untuk tidur bersamanya dan ia akan memberikan berapa pun susu yang Dewi Uma inginkan. Dewi Uma pun menyetujuinya karena ia ingin menyembuhkan suaminya.

Sekembalinya ia ke kahyangan, Dewi Uma justru mendapatkan kutukan dari Dewa Siwa. Dewa Siwa mengatakan bahwa Dewi Uma telah mengkhianatinya. Dewi Uma pun dikutuk menjadi Dewi Durga dan menjadi penguasa di Setra Gandamayu. Disana, ia akan tinggal bersama dengan Kalika, raksasa besar yang akan menjadi pelayannya. Dewi Uma yang tidak dapat melawan akhirnya harus menjalani kutukannya menjadi Dewi Durga yang kejam, menakutkan, dan pemangsa manusia.

Setelah dua belas tahun hidup di Setra Gandamayu yang bau dan menyeramkan dengan berbagai sisa tulang belulang manusia, akhirnya tibalah saatnya untuk Sahadewa meruwat Dewi Durga. Dewi Durga meminta Kalika untuk merasuki Kunti, Ibu Pandawa, untuk membawa Sahadewa ke Setra Gandamayu sebagai jaminanan Pandawa harus menang dalam perang besar yang akan terjadi antara Pandawa dan Korawa. Sahadewa yang tidak tau cara meruwat Dewi Durga bertemu dengan Dewa Siwa. Dewa Siwa lalu membantu Sahadewa untuk meruwat Dewi Durga.

Akhirnya dengan sajen yang diberikan oleh Dewa Siwa, Sahadewa pun berhasil meruwat Dewi Durga. Dewi Durga pun kembali menjadi Dewi Uma yang cantik. Sahadewa yang berhasil meruwat Dewi Durga diberi nama Sudamala dan ditunjukkan jodohnya oleh Dewi Uma sebagai hadiah terima kasih telah meruwatnya. Gandamayu pun berubah bukan lagi tempat yang menyeramkan, namun sudah ditumbuhi beraneka warna bunga yang cantik dan harum.

Penulis novel ini, Putu Fajar Arcana, yang biasa disapa Can, tak pernah berpikir bahwa perjalannya dengan sang bapak akan menjadi sebuah novel. Bapaknya merupakan orang yang dikenal sangat piawai menembang. Ia sering mendapat undangan dan kebetulan tema yang sering ia bawakan adalah kisah ruwatan Dewi Durga oleh Sudamala. Penulis biasa ikut dibonceng dengan sepeda menuju tempat undangan dan sering kali tertidur kala malam telah larut dan bapaknya masih terus menembang sampai pagi. Dalam novel ini pun, Penulis juga menyisipkan kisahnya bersama sang bapak seperti diawal Bab Kutukan ia bercerita tentang profil sang bapak. Membuat pembaca seakan merasakan ikut didongengi oleh orang yang dicinta. Sebelum terbitnya novel ini, beberapa cerpen dan puisi yang dibuatnya sudah pernah diterbitkan dan memenangkan beberapa penghargaan.

Alur dari novel ini diawali dengan alur maju yaitu ketika pertemuan pertama Sahadewa dengan Kalika, raksasa besar yang hidup bersama dengan Dewi Durga. Kalika dikutuk setelah ia membunuh suami dan 34 lelaki lainnya. Setelah itu, barulah pertemuan pertama antara Sahadewa dengan Dewi Durga. Kemudian cerita beralur mundur ketika Dewi Durga yang masih menjadi Dewi Uma diuji kesetiaanya oleh Dewa Siwa. Melihat keseluruhan dalam novel ini, alur dalam novel ini dibuat maju-mundur. Membuat pembaca dibuat penasaran seperti apa kisah sebelumnya atau kisah selanjutnya.

Penulis novel ini berhasil menafsirkan kehidupan Dewi Uma. Sosok perempuan yang meskipun ia seorang dewi, hidupnya tidak akan lepas dari sosok laki-laki yang merupakan suaminya sendiri. Perjalanan hidup Dewi Uma yang dibayang-bayangi oleh sosok suaminya membuatnya merasa bahwa dominasi pria sulit dibantahkan. Keadaan itulah yang akhirnya membuat perempuan sulit bahkan tidak dapat “menjadi” apalagi “memiliki” dirinya sendiri.

Selain itu, masalah utama tentang ujian kesetiaan yang diberikan oleh Dewa Siwa kepada Dewi Uma juga menyadarkan kita satu hal. Kutukan yang dijalani oleh Dewi Uma merupakan bukti bahwa sedalam apapun cinta dan kesetiaannya pada laki-laki, mereka akan tetap harus menguji kesetiaan itu. Dan pertanyaannya, mengapa hanya perempuan yang menjalani uji kesetiaan itu? Pada akhirnya Dewi Uma menyadari tentang nilai-nilai luhur perempuan yang tinggal di Kahyangan. Nilai-nilai luhur yang selalu didesakkan kepada kaum wanita tak lebih dari sekedar klaim bahwa laki-laki tidak ingin otoritasnya dikalahkan oleh seorang perempuan.

Dalam novel ini, penulis mampu menggambarkan tentang perang antara Pandawa dan Korawa dan Setra Gandamayu dengan baik. Penulis juga cukup mengerti dengan memberikan sentuhan gambar ilustrasi yang menarik diawal setiap babnya. Beberapa kata yang awam diketahui oleh orang banyak pun diberi garis-miring dan diberikan artinya baik di dalam tanda-kurung maupun tidak. Namun, saya masih menemukan beberapa kata yang mungkin lupa diberi arti oleh penulis, seperti kata yadnya, bromocorah, tumpek wayang, dan telik sendi. Selain itu, saya juga menemukan beberapa kesalahan penulisan kata “dan” yang berada di depan kalimat dan seharusnya dihindari.

Selebihnya, Novel Gandamayu ini baik dan bagus untuk dibaca. Lewat latar belakang kisah Mahabharata yang epik, penulis mampu memberikan sentuhan nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil pelajarannya untuk para pembaca. Lewat novel ini, kita akan belajar tentang perjuangan perempuan dalam melawan dominasi laki-laki tanpa mengecilkan peran laki-laki itu sendiri. Kehidupan Dewi Uma yang selalu dibayang-bayangi oleh sosok Dewa Siwa, memberikan satu lagi pertanyaan simpatik tentang peranan perempuan.

Identitas Buku:

  • Judul Buku : Gandamayu
  • Penulis Buku : Putu Fajar Arcana
  • Penerbit : Penerbit Buku Kompas
  • Terbit di : Jakarta
  • Tahun Terbit : 2012
  • Jumlah Halaman : 190 hlm
  • ISBN : 978-979-709-622-9


4 responses to “Resensi Novel – Gandamayu: Perempuan dalam Dominasi Pria yang Sulit Dibantahkan”

  1. Avatar Ovy Hayatudin

    Tulisan menarik. Saya punya pertanyaan, jika Shiwa dalam wujudnya sebagai gembala menginginkan persetubuhan, kenapa pula Dewi Uma yang harus disalahkan? Tidakkah penulis berpikir bahwa superioritas lelaki dalam hal ini memang keterlaluan? Menguji kesetiaan perempuannya sedangkan ia sendiri memilih untuk tidak setia?!

    1. Kalau menurut saya, dalam buku itu menggambarkan kalau seorang dewa tidak dapat salah gitu mba. Makanya dia melakukan itu, si dewi uma juga pun akhirnya pergi karena merasa sakit hati terhadap perlakuan sang dewa.

      1. Avatar Ovy Hayatudin

        Betul, Dewa dalam gambaran ini (saya pake sudut pandang budaya ya hehe) merupakan representatif dari lelaki pada umumnya yang sangat mengagungkan partiarki, dan Dewi Uma merepresentasikan gambaran perempuan abad 21 yang paham kesetaraan gender dan konsep feminisme (terlepas dari ia pergi karena sakit hati atau apapun itu), ia sadar bahwa perpisahan adalah bentuk perlawanan terakhir dalam sebuah sistem yang salah.
        Waduuuh, jauh banget ya bahasnya 😁😁😁

        1. Wah aku gk berpikir sejauh itu. Hehe.

          Tapi klo aku baca emang iya ya. Tanpa sadar memberikan pesan itu. Aku malah berpikir itu kan cerita fiktif dahulu ya, berlatar belakang mahabrata tp mempresentasikan yg jaman sekarangg hehehe. Seperti dibuat seperti sindiran hehehe.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca