Fiksi Mini – Monolog Satu Sisi

            Dua anak manusia itu nampak asik dengan dunianya sendiri. Bersama namun tak terlihat bersama. Perempuan berbaju putih nampak duduk santai tersenyum manis memandang langit yang hari itu cerah berwarna biru dengan hamparan awan putih yang indah. Sedangkan di belakangnya perempuan lain dengan rambut berantakan, kaos hitam lusuh tampak sedang berpikir. Dengan dahi yang berkerut sesekali bergumam pelan sambil jemari yang terus mengetik di atas papan keyboard.

            “Hidup itu lucu ya?” Perempuan berbaju putih bermonolog masih dengan senyum yang nampak indah dari kedua bibirnya.

            “Dulu, aku begitu takut. Takut pada banyak hal yang belum terjadi. Takut sekaligus khawatir kalau di masa depan aku nggak bisa menghadapi berbagai macam kejadian yang nggak aku duga. Tapi aku bersyukur. Kamu tau nggak kenapa?”

Perempuan yang masih tersenyum itu lalu menoleh kebelakang menatap perempuan yang masih fokus dengan benda elektronik yang ada di depannya. Beberapa detik kemudian, perempuan itu lalu kembali menatap langit sambil bergerak membuka kotak memori yang tersimpan rapi dalam ingatannya. Perlahan mengingat kembali saat-saat jatuh bangun yang terjadi padanya.

            “Karena rasa takut itu tak mematikan langkahku. Aku tetap melangkah meski pelan. Tetap berusaha meski perasaan takut dan khawatir kadang datang mengambil alih. Tapi ada juga saat-saat aku fokus dan hanya melihat apa yang terjadi saat itu. Tak mengambil perasaan terhadap apa yang akan terjadi nanti. Terkadang saking fokusnya aku lupa kalau bisa saja hal-hal tak terduga muncul di masa depan.”

            Lalu perempuan itu menoleh menatap perempuan berbaju hitam yang sudah nampak melonggarkan otot tangannya yang pegal lalu beralih ikut menatap langit seperti dirinya beberapa saat lalu. Ia lalu mengulas senyum lembut dan menatap perempuan yang nampaknya tak bisa melihat dirinya.

            “Makasih ya sudah berjuang sejauh ini. Aku dulu mungkin nggak percaya sama kamu, rasa takut itu membuatku akhirnya nggak percaya kalau kamu bisa melewati ini. Tapi ternyata aku salah. Aku tau kamu bisa, hanya saja kejadian masa lalu membuatku tak yakin padamu. Sekarang aku mau bilang, kamu keren, kamu hebat, dan aku beneran ingin mengucapkan banyak terima kasih padamu.”

            Perempuan itu lalu kembali melihat langit. Dua perempuan yang saling mengenal tapi tak bisa saling melihat. Terlalu kontras, yang satu tersenyum lembut dengan mata yang berkaca-kaca, yang jika ia mengedip akan meluncur air mata dari sudut matanya. Lalu perempuan yang sedang menatap langit dengan berbagai pikiran dan gumaman dalam hatinya. Pandangannya datar, terlihat tenang tapi nyatanya banyak hal yang berputar di atas kepalanya. Berpikir banyak hal tentang masa depan yang harus dia hadapi tapi masih ia takuti. Perempuan yang tersenyum itu kembali bermonolog.

           “Kamu yang tetap berusaha, kamu yang tetap jalan meski perasaan penuh dengan rasa takut dan khawatir, kamu yang bisa bangun dari rasa malas, kamu yang nggak nyerah disaat pikiran untuk menyerah menghantuimu, kamu yang berusaha buat bangkit dan mencari cara buat menyembuhkan dirimu sendiri. Kesendirian yang tak mematahkan langkahmu. Aku harap proses ini bakal membuatku kuat dan tangguh di masa depan. Jangan terlalu banyak khawatir, karena mungkin di masa depan aka nada saatnya seperti proses ini, khawatir cuma ada dipikirannya aja, karena aku tahu, kamu sebenarnya bisa mengatasi itu. Hanya kurang percaya diri dan aku harap kamu bisa membuatmu lebih percaya pada dirimu sendiri. Kau tau? Aku bangga bisa jadi bagian dari dirimu yang lain dan semoga itu cukup untuk meningkatkan rasa percaya dirimu.”

            Lalu, ditemani suara panggilan seseorang, perempuan berbaju hitam itu tersadar dan mulai merapihkan barang bawaannya. Bergegas ia turun dan menemui si pemanggil. Sedangkan perempuan berbaju putih, hanya dapat tersenyum penuh harap padanya dengan mata yang tak lepas mengikuti setiap pergerakannya sampai ia menghilang dari balik tangga, perempuan itu terhempas oleh angin dan menghilang.

-29Mei2021



One response to “Fiksi Mini – Monolog Satu Sisi”

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca