Langkah kaki itu berjalan pelan. Satu persatu setiap langkah yang ia ambil, ada sebuah langkah penuh antisipasi dan kehati-hatian. Berharap tak menimbulkan suara berlebih yang dapat mengganggu orang sekitar yang tampak mengerjakan pekerjaan mereka. Ringan terdengar pelan gesekan antara alas sepatu dengan tanah yang ia pijak, ia edarkan pandangan ke sekitarnya yang penuh. Mulai menyocokkan, harus kemana lagi ia melangkah. Sesekali ia turunkan pandangan menatap kertas berbentuk persegi panjang dengan banyak goresan garis yang mengisinya.
Naik-turun, kepala itu bergerak intens memastikan bahwa langkah selanjutnya yang ia ambil sesuai dengan arahan peta yang ia bawa. Senyum indah terukir kala akhirnya ia menumukan tujuan akhirnya. Lurus melewati sebuah pohon cemara, ada sebuah gang sempit yang bisa ia tuju untuk melihat apa yang ia cari. Berjalan pelan, ia tak sadar bahwa… setelah melewati pohon cemara, ada sepasang langkah kaki terseok yang mengikutinya. Dalam sebuah jalan lurus sempit yang hanya dapat di isi satu orang, ia menoleh. Merasakan ada langkah kaki lain yang berjalan memasuki tempat itu. Kosong tak ada siapapun, tapi aneh. Ia melihat sebuah jejak kaki di sebelah jejak kakinya. Itu bukan punyanya, dan itu berantakan.
Menyingkirkan perasaan anehnya, ia terus berjalan masih dengan penuh keyakinan ada orang lain yang mengikuti langkahnya. Di ujung jalan, terlihat sebuah istana megah yang ia cari. Terlihat mengkilau dengan cahaya lampu yang menghiasinya. Ia memantapkan langkahnya. Semakin yakin bahwa inilah tujuannya berjalan sejauh ini dari desa tempat tinggalnya. Pergi dari teman-temannya yang berada di desa. Karena ia tau, setelah ia memasuki istana itu, akan ada yang berubah. Entah dirinya atau temannya.
Lima langkah sebelum ia menapak di teras istana itu, langkah kaki yang mengikutinya sudah tak terdengar. Ia berjalan sendiri sekarang. Tapi… kenapa ia mendengar riuh suara ribut di telinganya. Suara itu… suara itu tampak tak suka dengan hadirnya ia di sini. Menyuruhnya berhenti. Dan kenapa… suara itu seperti suara salah satu temannya di desa? Beberapa detik ia mulai mencerna. Mencari jawaban dari suara-suara yang mulai menganggunya. Sekedipan mata, ia akhirnya mengerti. Temannya itu, teman yang hilang beberapa hari sebelum perjalanannya ke sini. Apa suara itu pertanda yang menegaskan ada yang tak suka dengan apa yang ingin ia lakukan?
Mengambil napas pelan, ia mulai memantapkan niatnya lagi. Mengambil lima langkah untuk berada di teras istana yang ia impikan. Setelah berada di tempat yang ia tuju ia tersenyum dan membalik badannya. Saat itulah matanya membelalak kaget. Orang yang ia duga mengikutinya berada di depan gang yang tadi ia lewati dengan wajah miris kesakitan. Entah apa yang terjadi, ia terlihat membungkuk dan menatapnya meminta tolong. Tak lama orang itu berbalik dan berjalan menarik kakinya yang nampak berat. Menatap kepergian orang itu lalu mengangkat kepala, ia lihat langit malam yang menghiasi kota ini. Perjalanan jauh yang ia tempuh dengan harapan akan menciptakan akhir bahagia malah mendapat sebuah kenyataan pahit, bahwa kebahagiaan yang ia impikan, nyatanya menyakiti orang lain.
—
-14Juli2021

Tinggalkan Balasan