Kusapu pelan keringat di dahiku. Perlahan memakai kembali kacamata yang sebelumnya aku lepas karena mataku yang terasa perih. Sudah berapa hari aku pergi? Sudah berapa lama aku terdampar di sini untuk satu misi rahasia yang belum ku selesaikan? Pertanyaan itu mulai terasa memuakkan kala tak kutemukan jalan keluar yang kucari. Memfokuskan ulang, kulihat peta yang kudapat dari ketua tempatku bekerja.
Suasana sekitar seketika hening kala aku menemukan celah yang bisa kuterobos untuk masuk ke dalam rumah itu. Rumah atau lebih tepatnya gedung pencakar langit berlantai lima puluh. Ceritanya dimulai, ketika aku mendapat sebuah misi rahasia yang langsung datang dari perdana menteri negeri ini. Misi rahasia yang tak bisa kutolak meskipun aku tahu, sesuatu yang berhubungan dengan perdana menteri pastilah bukan hal yang biasa. Jelas! Ini misi pembunuhan!
Setelah menemukan strategi bagus, segera kulipat peta itu, lalu memasukkan ke dalam saku jaketku. Membenarkan letak topi yang kupakai, dengan tangan yang kumasukkan dalam saku jaket, ku melangkah pelan meninggalkan keramaian ini. Menunduk pelan dan pasti, akan ku mulai misi ini malam ini!
—
Mengendap-endap, dengan langkah kaki pelan dan tak terdengar, kunapaki pagar dinding pembatas belakang gedung ini. Saat nampak sebuah kamar yang kutuju, terlintas bayangan dua orang sedang berpelukan dari balik kaca jendela yang sudah kuintai. Perlahan dengan merayap layaknya laba-laba kudekati balkon kamar yang berada persis di atas kamar tersebut. Pelan-pelan turun dan memastikan kamar tersebut kosong atau tidak. Gotcha! Kamar ini kosong. Pelan-pelanku buka pintu balkon tersebut dan masuk ke dalamnya.
Mataku langsung menyusuri ruangan tersebut dan mencari letak ruangan lain yang sudah kulihat dalam peta yang kutaruh di saku jaketku. Bebelok ke kiri kutemukan pintu bercat putih yang sudah kuincar. Menggenggam gagang pintu, kubuka perlahan. Seketika suara bunyi gesekan antara pintu dan lantai terdengar dan suasana gelap gulita kudapati. Perlahan dengan mata terbuka lebar aku melangkah untuk mencari sakelar kontak dengan tangan yang meraba-raba dinding kamar.
Kala tanganku menemukan sakelar kontak, langsung ku tekan dan ruangan seketika terang benderang. Mataku memindai ruangan dan langsung jatuh pada lemari kayu yang ada di sudut ruangan. Perlahan kudekati dan mulai menggeser lemari kayu tersebut. Apa yang aku cari ada di bawah lemari ini.
Kusapu keringat yang muncul di dahi karena beratnya lemari kayu yang harus kudorong itu. Dengan napas yang masih tersegal ku menunduk dan melipat satu kaki untuk melihat lebih dekat sekotak lantai marmer yang menjadi tujuanku. Mengusap kedua telapak tangan seperti membersihkan kotoran, aku menyeringai dan langsung menekan tombol kecil yang tersembunyi di sisi kanan kotak lantai marmer tersebut. Seketika lantai tersebut terbuka, dan menampilkan sebuah lubang sebesar badan, yang bisa kumasuki. Here We Go!
—
Suara benturan keras memasuki indra pendengaranku, setelahnya kurasakan sakit yang menjalar dari pantatku akibat benturan keras itu. Shit! Mengumpat sebal ku elus pantatku yang perih. Lalu perlahan menegakkan badan masih sambal meringis, aku berjalan mengendap di tengah kegelapan ruangan ini. Seperti sebelumnya di ruangan kamar atas, kudekatkan telapak tangan dan mulai meraba-raba dinding. Tak sampai semenit, sudah kutemukan sakelar kontaknya. Kutekan langsung, dan seketika ruangan dengan furnitur berwarna putih memasuki indera penglihatanku.
Memindai kamar perlahan untuk memastikan kamar tersebut kosong. Perlahan kakiku mendekati nakas, sebuah meja kecil di samping tempat tidur, dan melihat bingkai foto yang menampilkan dua sosok. Aku… terasa tak asing dengan salah satu sosok tersebut. Dengan tangan gemetar ku ambil bingkai foto dengan ukiran emas di sisinya, dan tak sadar terduduk kaku di pinggir tempat tidur. Dia… kok bisa dia? Seketika tanganku yang bersentuhan dengan bingkai foto tersebut mengepal kuat seakan ingin meremukkannya atau lebih tepatnya menghancurkan sosok yang ada dalam foto tersebut.
Jadi… dia yang harus kubunuh? Haha, tertawa sarkas, kulempar bingkai foto itu ke tempat tidur, dan berjalan dengan tegas ke arah pintu dengan emosi yang hampir meledak. Thank you, Bos! Akan kuselesaikan misi ini sampai selesai, bahkan menghilangkan bangkai orang tersebut dari dunia ini.
Akanku buat kamu merasakan sakit hatiku, Papah!
—
-20Sept21

Tinggalkan Balasan