Menjadi Terbiasa

Tulisanku tahun ini dimulai dengan kata frustasi dengan keadanku saat itu. Iya saat itu, karena saat ini aku sudah berdamai dengan itu. Bahkan bisa dibilang sudah lebih tenang dari sebelumnya. Ada banyak suara dalam kepala yang rasanya untuk bangun aja tuh nggak sanggup. Takut sama dunia luar, takut sama orang, dan berharap semua cuma mimpi.

Ternyata itu jadi satu tamparan buatku. Mungkin memang saat itu aku terlalu terlena dan terlalu jauh dari yang Punya sampai ujian itu datang bertubi-tubi. Berdamai jadi salah satu caraku buat nerima itu semua. Lebih dekat lagi pada-Nya.

Salah satunya yang akhirnya menjadi rutinitasku adalah mendatangi kajian atau ngaji setiap minggunya. Emang kalau sudah jatuh baru dekat, jangan ditiru ya teman-teman. Tapi nggak apa-apa, aku sudah berdamai dan akan memberikan pengalamanku selama beberapa bulan ini ikut kajian dan mengaji.

Bulan Desember tahun lalu, aku mengunjungi luar batang untuk berziarah. Ditemani ayah, aku memulai perjalanan untuk berdamai. Karena yang terjadi biarkan terjadi, kita hanya harus menerima dan belajar untuk memperbaikinya.

Hamper setiap minggu hingga akhir Desember aku ke sana. Tenang, damai, dan menenangkan. Tiap ke sana nggak kuat buat nangis. Bahkan saat nulis ini pun rasanya mau nangis lagi karena begitu syahdu di sana.

Nggak cuma ikut kajian aja, aku juga mulai rutin (kalau nggak ada halangan) untuk ngaji setiap minggu ke kwitang. Kegiatan mingguan ini memberikan dampak yang positif buat rohaniku. Meskipun saat awal-awal masih kebawa sama kejadian akhir tahun. Masih suka bengong, tapi makin ke sini, jadi semakin damai dan tenang.

Mungkin karena cuma karena ngaji minggu pagi ini yang bikin aku juga bisa bangun lebih pagi dari hari-hari yang biasa. Perasaan yang dulu tiap diajak kaya males banget, terus sekarang malah seringnya nanya mau datang nggak tuh kaya nikmat ibadah akhirnya dikasih lagi. Semoga selalu kaya gini ya.

Pertama kali ke Kajian Ustadzah Halimah Alaydrus

Minggu kedua Januari, aku datang ke kajian Ustadzah Halimah Alaydrus di Istiqlal. Bersama ketiga temanku, aku mengikuti kajian itu dengan tenang. Bahkan aku sengaja datang lebih pagi biar nggak terburu-buru sambil menikmati pagi di hari minggu itu. Hari itu ada acara Maulid Nabi yang khusus untuk Perempuan. Aku sampai sana sekitar setengah tujuh dan sudah ramai banget. Dapet tempat di lantai 5 masjid Istiqlal.

Kajian Ustadz Hanan Attaki

Bulan Januari, untuk pertama kalinya aku datang ke kajian Ustadz Hanan Attaki. Saat itu aku berdua dengan teman membayar kajian dari uang yang sebelumnya diniatkan untuk staycation. Berpindah tujuan karena yang namanya cobaan nggak hadir dengan ketuk pintu.

Disitu nggak cuma ada Ustadz Hanan Attaki, tapi juga ada Ustadz Agam juga yang memberikan nasihatnya. Tema kajian kala itu Gwenchanayo, Aku Nggak Apa-Apa. Dari sana aku dapat banyak insight yang positif tentang menerima ujian dari Allah.

Bahwa kita harus tetap menjadi orang baik dan menerima setiap ujian dari Allah dengan bertahan. Nggak mengeluh, memelas, bahkan membuka aib dengan menceritakan masalah kita ke orang yang nggak perlu.

Saat menunggu pertolongan Allah itu juga menjadi ibadah terbaik. Bisa dengan menguncapkan “YaAllah, Aku nggak apa-apa” “Aku terima yaAllah”. Carilah alasan bertahan, sesuatu yang lebih mahal dari airmata, darah, atau keringat.

Setiap takdir yang datang dari Allah tentunya ada alasannya. Segara sesuatu itu ada waktunya. Lalu, niatkan menunggu itu dengan ibadah.

Bulan Maret, aku Kembali datang ke kajian Ustadz Hanan yang juga diselenggarakan oleh Ayah Amanah dengan tema yang baru yaitu Hilang untuk Healing. Kajian kali ini aku datangi bersama teman yang rumahnya di Tangerang, tempat kajiannya ada di Novotel Tangerang.

Beberapa dari kita sering kali memilih menghilang Ketika sakit atau mendapatkan cobaan. Keputusan itu bukan tanpa alasan, tapi memang menjadi keputusan terbaik yang harus diambil. Hilang itu bisa setahun, dua tahun, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun.

Aku juga sempat merasa perasaan itu Ketika akhir tahun lalu. Takut, nggak berani, merasa dunia kok jahat banget sampai akhirnya menjauh dari dunia luar. Masang dp kosong, hapus aplikasi ig, bahkan menghilang dari orang-orang yang aku kenal dari aktivitas yang aku jalani beberapa tahun ini.

Dalam kajian itu aku sempat mencatat beberapa masukan yang menarik dan menyentuh buatku. Jangan membuktikan atau membandingkan apapun karena bisa bikin capek. Gunakan waktu hilang itu untuk menjadi yang lebih baik bukan untuk membuktikan atau balas dendam ke siapapun. Hilang untuk focus sembuh.

Tumbuhkan rivalitas itu untuk upgrade diri. Maksudnya menjadi proses untuk menaikkan level atau value diri sendiri. Caranya bisa dengan selflove untuk berduaan dengan Allah atau lebih dekat dengannya. Selflove dengan memberikan ruang untuk diri sendiri dan berharga untuk dirimu lalu enjoy menjadi versi terbaikmu.

Karena bisa jadi, orang yang sering mengeluh karena dia udah jauh dari Allah. Bukan masalahnya yang berat tapi hati kita yang rapuh atau tidak disiram dengan zikir. Dengan dekat dengan Allah bukan akan menghilangkan sakitnya tapi akan lebih kuat Ketika menghadapinya.

Karena bisa jadi Allah panggil kamu dengan nikmat kamu nggak datang, malah dikasih lewat ujian dan masalah untuk berdekatan dengan Allah. Naauzubillah. Karena sebaik-baiknya pendosa adalah yang bertaubat.

Bulan Mei tepatnya beberapa hari sebelum miliih buat mundur, aku datang ke kajian Ustadz Hanan yang ada di Tangerang, tepatnya di Masjid Raya Al-A’zhom. Aku tau info itu dari sepupu aku yang kebetulan juga mau datang. Tema kajian saat itu adalah Mengobati Hati yang Lelah. Aku datang naik motor bareng sepupuku.

Perjalanan panjang dari Kebon Jeruk ke Tangerang Kota. Acara yang berlangsung abis Asar itu berjalan dengan lancer meskipun agak kurang kedengeran karena banyak orang tua yang membawa anak kecil ke sana.

Ketika lelah atau sakit, Allah akan menolong kita. Tapi bisa nggak syaratnya satu? Cukup Allah aja yang tau masalahnya. Nggak perlu cerita ke orang-orang. Tapi kalau belum cukup hanya cerita ke Allah berarti kita belum HasbiyaAllah. Tapi panduan ini nggak ditujukan untuk semua masalah. Kadang ada beberapa hal yang memang perlu diluruskan bersama.

Bulan ini, aku kembali datang ke kajian Ustadz Hanan Attaki. Tentunya dengan tema baru atau bisa juga dibilang lanjutan yang kemarin yaitu YaAllah, Why Always Me? Kata Ustadz Hanan, pertanyaan itu bisa muncul karena kita yang lelah dan ragu dengan keajaiban dari ujian yang datang. Bisa juga dianggap karena kita ragu juga dengan pertolongan Allah.

Karena jawabannya itu nggak ada. Lebih tepatnya, ini bukan sesuatu yang perlu kamu tanyakan. Seperti orang diberikan kebaikan ia tidak akan bertanya kenapa, begitu juga ketika diberi ujian. Ketika dia yakin kalau itu akan membawa kepada kebaikan ia tidak akan bertanya “kenapa aku terus”.

Menguji berbeda dari menghukum. Ujian ini datangnya untuk orang yang beriman sedangkan hukuman menjadi balasan untuk orang yang durhaka. Ujian tentunya akan menguatkan, mengajarkan, serta mendidik menjadi lebih baik lagi hingga akhirnya mendapatkan anugerah kebaikan kepada kita. Sedangkan hukuman hasilnya selalu celaka atau hancur.

Ujian ini menjadi salah satu bagian dari kasih sayang Allah karena untuk membentuk kita menjadi lebih baik memerlukan proses yang nggak mudah. Seperti ketika beranjak ke tingkat pendidikan lebih tinggi memerlukan ujian untuk naik kelas, begitu juga hidup. Hidup ini tentang ujian.

Manusia seperti logam yang perlu diuji agar lebih berharga. Seperti kurir yang datang membawa paket, ujian juga datang untuk membawa kebahagiaan. Mindset itu yang perlu dipasang. Tunggulah berita gembira itu dengan sabar.

Jalani saja karena kita nggak bisa milih atau tau kapan waktunya. Bersabar, berharap, dan berdoa. Berbaik sangka kepada Allah dengan bersabar, berharap, berdoa, dan nggak berputus asa. Kuatnya sabar akan sebanding dengan berita gembiranya. InsyaAllah.

Nggak cuma ikut kajian, tahun ini sudah hamper beberapa kali mengunjungi Masjid Istiqlal. Bahkan saat Ramadhan kemarin dua kali ke sana. Alhamdulillah.

Itulah perjalanan spiritual yang aku alami beberapa bulan ini. Memang nggak mudah, tapi jalani saja sambil terus berusaha dan berdoa. Bismillah hari baik itu akan tiba dengan kondiri kita yang lebih baik. Aamiin.

-26Juli2024



5 responses to “Menjadi Terbiasa”

  1. hai mbaaa, aku ikut terharu baca ceritanya. 🤗. Apapun ujian yang waktu itu mba alami, tapi alhamdulillah mba sudah menemukan obatnya.

    dari dulu hingga sekarang pun, aku ga suka mba cerita masalah ke orang lain. Rasanya ga enak. Dan belum tentu dapat solusi. Malah dikuatirkan jd nyebar kemana2. Udh paling bener tahajud jadi tempat curhat ke Allah.

    ditambah mengikuti kajian atau kegiatan agama lain, pasti rasa sakit itu jd cepat sembuhnya 🩷.

    1. Aamiin, terima kasih mba doanya.

      Banyak pelajaran yang aku dapet selama kajian, semoga tulisan ini juga bisa membantu mba ya 🩷


  2. ikut kajian seperti ini bikin hati lebih tenang ya mbak.

    Lagi-lagi kita jadi berserah diri sama Tuhan mengenai masalah yang kita hadapi.

    Aku sendiri termasuk orang yang jarang cerita masalah pribadi ke orang lain, apalagi kalau tau orang itu ga bisa keep rahasia

    1. iya mba alhamdulillah. efeknya bikin pengen lagi ikut kajian karena jd lebih tenang

  3. […] Baca juga: Menjadi Terbiasa […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca