Skripsi. Satu hal yang pasti akan dihadapi oleh setiap mahasiswa yang akan mengakhiri masa kulianya di jenjang S1. Satu kata yang mungkin untuk sebagian orang terlihat mudah tapi mungkin akan terasa sulit untuk sebagain yang lain. Setiap orang punya perspektifnya masing-masing, ada yang merasa kesulitan terkait teknik dan praktiknya, ada yang merasa kesulitan karena tekanan dari orang luar, kesulitan karena tekanan dari diri sendiri atau malah gabungan antara kedua atau ketiga hal tersebut. Nah, untuk itu, seperti di tulisanku yang sebelumnya, aku menyinggung terkait mentoring, so, di tulisan ini aku akan bercerita tentang mentoring itu dan kenapa aku butuh mentoring.
Jadi, semua bermula setahun yang lalu. Penolakan yang nggak pernah kuduga sebelumnya. Semua seperti di luar kendaliku, bahkan untuk sekedar bertanya ke diri sendiri aja aku takut, “Ini gagal?”. Bengong mulu, nggak mau makan atau tiap makan mual, tiap mau tidur nangis, bangun tidur nggak semangat, mikirin banyak hal kaya kok bisa ditolak, apa yang salah, kenapa bisa ditolak, apa yang kurang, apa usahaku kurang keras, apa aku terlalu percaya sama diri sendiri, terus tiba-tiba nangis gitu aja. Ditambah saat itu, beberapa orang yang biasanya ada di lingkaranku, yang biasa menghiburku, menghilang. Jadi, waktu seminggu beneran tentang diriku sendiri. Seminggu penuh kekosongan, seminggu di rumah doang, nggak berani ketemu orang, lebih banyak di kamar daripada ngobrol sama orang rumah. Butuh seminggu untuk menerima itu. Menerima kalau apa yang sudah aku kerjakan selama kurang lebih sebulan harus berakhir sia-sia. Sampai akhirnya aku coba perjuangin sedikit lagi, walaupun akhirnya tetap sama. Aku harus ulang semua prosesnya.
Seminggu terlewati, dan minggu penuh dengan rasa frustasi muncul. Tiap mau tidur, masang niat besok harus ini-itu harus gini-gitu. Lalu bangun tidur semuanya hilang, bingung mau ngapain, harus mulai dari mana, linglung ini apa kalau kaya gini bener nggak, kaya gitu bener nggak, ujungnya malah nggak ngapa-ngapain. Kembali waktu mau tidur, kesal yang beneran marahin diri sendiri karena “Kenapa kaya gini mulu?”. Capek banget. Hampir dua minggu, setiap harinya aku lewatin seperti itu.
Lalu, harapan itu datang. Dengan modal nekat, dengan keadaan buta sama sekali dengan bahasannya, dengan keadaan mental yang masih naik turun, aku terima ide dari dosen pembimbing akademik. Harapannya cuma satu, menghilangkan rasa frustasiku yang nggak tau harus kaya gimana, nggak tau udah bener belum dan perasaan bingung lainnya. Selanjutnya, hari-hariku diisi dengan mengerjakan proposal, pelan tapi pasti proposal itu selesai selama kurang lebih sebulan.
Tapi, ternyata tekanan penolakan sebelumnya masih menghantui, ditambah dengan beberapa teman yang juga mendapat penolakan saat sempro. Rasa takut itu makin kuat. Takut kalau mendapat penolakan kedua, takut kalau karena penolakan yang kedua malah buatku makin benci ke diri sendiri, takut harus bangun dan bangkit untuk ke tiga kalinya, takut semuanya sia-sia, takut semua waktu yang sudah kuusahakan untuk berhasil malah tak membuahkan hasil yang aku harapkan.
Dan, ya, sudah pasti, salah satu cara supaya nggak ketemu dengan penolakan itu cara paling gampangnya adalah menghindar. Aku tunda untuk sempro, banyak alasan yang kubuat, cuma untuk menutupi rasa takutku, rasa khawatirku. Nyatanya, menunda nggak buatku langsung siap begitu saja. Aku cari tahu kenapa sebelumnya gagal, kenapa temanku ditolak, kenapa temenku diterima, lalu aku perbaiki di diriku. Usaha buat perbaiki proposalnya udah, secara pemahaman ngerasa siap, tapi, balik lagi. Semua ketunda karena pikiranku yang negatif.
Hari Senin pertama di bulan Juli, diteken waktu yang makin menipis di semester itu dengan masih kebanyakan takut, khawatir, sampai aku sendiri nggak tau harus ngelakuin apa biar perasaan itu hilang. Sampai berada dalam perasaan capek banget dengan keadaan kaya gini terus. Sudah tanya teman, udah ketebak juga mereka bakal kaya gimana, aku juga tau cara supaya capeknya hilang ya sempro, biar tau hasilnya. Tapi, aku takut, belum siap kalau hasilnya nggak sesuai harapanku.
Dan ya, akhirnya aku menguatkan diri dan meyakinkan diri kalau nggak apa-apa kalau aku butuh orang yang lebih paham buat bertanya tentang keadaanku ke yang lebih ahli, psikolog di sahabatkariib. Aku daftar, lalu setelah jadwalnya keluar aku cerita masalahku apa, aku dapat banyak masukan dan cara supaya rasa takut ini berkurang, karena emang nggak bisa dihilangkan, cuma bisa mengurangi, seenggaknya aku siap buat melangkah, siap buat sempro.
H-2 sempro, masih di hari yang sama saat aku konsultasi, aku daftar sempro. Setelah dapat pencerahan dan coba mikir kaya gini, “Oke ayo sempro, kalau nggak sekarang nggak tau hasilnya kan? Kita coba” ngomong ke diri sendiri, ditambah dengan berat harus bilang juga, “Kalau… hasilnya nggak sesuai, kalau… kamu dapat penolakan kedua, yaudah, Ga, kita ulang prosesnya dari awal, jangan benci sama diri sendiri, jangan nyalahin Tuhan, jangan nyalahin siapa-siapa. Mungkin… emang jalanmu nggak semulus yang lain,” bilang gitu sambil senyum menyemangati. Nyiapin hal apa yang akan dilakukan kalau ditolak, semata buat menyelamatkan diri sendiri kalau misalnya ditolak, jadi nggak bengong dan nangis mulu kaya yang sebelumnya.
Hari itu datang, 10 Juli 2020, pagi-pagi mual, nggak mau makan sampai akhrinya mama nanya mau makan apa biar aku bisa makan pagi dulu sebelum sempro. Mendekati jamnya, aku nangis, dan tetap berusaha ikhlas kalau semua nggak sesuai harapan. Waktu berjalan hari itu dan terlewati dengan lega. Lega akhirnya proposalnya bisa aku presentasikan dan bisa kasih tau ke dosen, walaupun perasaan takut makin kuat karena harus nunggu pengumuman.
Malemnya, nggak bisa tidur, bengong dikit jadi mikirin hal yang nggak-nggak terus nangis lagi yang sampai sesek napas sambil ngomong banyak hal ke diri sendiri. Sampai aku nggak sadar ketiduran, dan bangun jam satu, kalau nggak salah, dan temanku yan tau keadaanku ngirim chat dan nelpon mau tanya hasilnya dan mau mastiin kalau aku nggak ngelakuin hal aneh. Ya aku udah ngelakuin hal aneh sebelum tidur, nangis meraung-raung sampai sesek napas, dan ternyata usahaku kali ini berhasil. Tuhan liat usahaku, usahaku nggak sia-sia. Lalu proposal itu aku lanjutkan ke tahap skripsi. Semua berjalan lancar walaupun seperti di awal, aku buta banget sama bahasan teorinya, mesti pelajarin dengan bener, nyari buku dan referensi yang susah karena di Indonesia belum ada yang bahas.
Nggak banyak drama tentang diri sendiri yang muncul di awal skripsian, semuanya lebih ke faktor eksternal, sampai akhirnya, dipenghujung pengerjaan skripsi rasa takut itu kembali menghantui. Bulan Januari awal, saking nggak tau udah bener apa belum, aku nekat bilang ke diri sendiri, “Ayolah sidang biar tau salahnya di mana,” masang target Maret harus sidang. Nyatanya itu malah jadi rencana aja. Karena masuk bab 5 dan makin deket waktu selesai aku malah makin takut. Takut disuruh ngulang sidang, takut teorinya nggak cocok apalagi referensinya dikit, takut dibantai sama dosen penguji dan aku nggak bisa jawab pertanyaan mereka, takut ditanya di luar konteks skripsi yang aku tulis, dan banyak ketakutan lainnya. Sampai pada kondisi ngebayangin sidang aja mual.
Dan, ya, lagi-lagi cara paling cepat buat nggak ketemu hal menakutkan itu ya menghindar. Aku menghindar, nggak ngerjain, nggak ngontak dospem sebulan penuh, malah kayanya lebih dari sebulan. Padahal bahasan bab lima tinggal satu sub-bab lagi. Sampai lupa sama target awal tahun, terus mikir yang aneh-aneh kaya, apa mungkin bulan Maret tahun ini bakal kaya tahun lalu, terus akhirnya takut lagi. Jadi target bulan Maret harus sidang hangus yang beneran males banget mikirin sidang karena setakut itu. Akhirnya selama Maret ngerjain sekali doang itu juga cuma dapet satu paragraf 🙁 selebihnya aku malah nyari kesibukan lain.
Lalu, sampai akhirnya mikir nggak bisa gini terus, masa iya mau nyerah udah sejauh ini, akhir Maret, aku nanya temen gimana biar nggak takut sidang, gimana biar semangat lagi ngerjain skripsinya, sampai akhirnya aku dapat jawaban dan aku buat daftar yang harus aku lakukan. Pertama, jelas rapihin skripsinya sampai selesai. Tapi dengan daftar itu malah bikin aku kaya jalan tanpa perasaan. Jadi pikiran takut dan segala macam kek tetep muncul tapi kalau ingat jadwal dan deadline sendiri pikiran itu hilang terus lanjut ngerjain dan sampai akhirnya semua selesai, aku udah harus daftar sidang!
Takut, nggak berani, dan tetapi masih mau menghindar, masih nggak mau sidang. Lalu, buat lebih jelasnya, bisa baca ceritaku yang ini Titik Koma [;] – 2021. Aku mutusin buat daftar mentoring yang kali ini aku pilih mentoring di satupersen. Sebenernya ini udah dijadwalkan dari awal mulai ngerjain lagi setelah sebulan nggak ngerjain apa-apa. Saat itu, aku juga lagi balik ke keadaan saat penolakan pertama, orang yang ada di lingkaranku tiba-tiba menghilang, tempat bercerita hilang. Jadi, aku putusin buat mentoring. Seperti sebelumnya, aku dapat banyak masukan walaupun aku harus mentoring H-1 sidang karena jadwal sidang yang keluar mendadak kaya tahu bulat.
Di mentoring dan konsultasi sebelumnya, aku bisa cerita masalahku tanpa harus dapat respon yang nggak enak, tanpa di judge lebay karena sampai harus kaya gini cuma karena skripsi, aku bisa tau kenapa aku bisa setakut itu, aku bisa tau buat ngurangin rasa takutku. Aku jadi tau bahwa dalam hidup ada hal yang bisa kamu kontrol dan nggak kamu kontrol. Aku jadi tau bahwa dalam hal skripsi yang bisa kamu kontrol adalah paper dan pemahaman kamu. Bukan respon penguji. Pertanyaan penguji mungkin ada yang bisa kamu perkirakan ada yang nggak. Aku di kasih tau teknik pernapasan saat lagi panik atau overwhelmed yang aku pakai sejam sebelum sidang, aku ke atas dan ngelakuin itu sambil memenenangkan diri. Akhirnya, selama sidang aku lebih nyaman dan ngerasa tenang, sesekali ketawa, nggak lupa senyum buat menyamarkan rasa panik dan takutku.
Kalau kamu nggak tau harus kaya gimana menangani dirimu sendiri, khususnya terkait perasaan, mental, udah bertanya ke orang sekitar, udah coba pakai cara yang biasa dan itu nggak mempan, nggak apa-apa kalau kamu mau cari orang yang lebih paham, yang lebih ahli untuk menjawab dan menangani masalahmu. Ke psikolog atau mentoring nggak berarti masalahmu besar banget kok. Masalah kecil kalau punya efek yang parah buatmu juga bakal menganggu, karena tiap orang dalam mendapatkan masalah punya respon dan efek yang berbeda-beda. Nggak perlu berpikir lebay ah gini aja masa ke psikolog, tapi kalau emang nggak bisa meredakan itu kamu mau cari ke mana lagi, kalau-kalau kamu malah berpikir atau bertindak ke arah yang salah. Semangat berjuang buat kalian semua! Semua ini akan berhasil pada akhirnya 🙂
Cerita dan puisi cerita selama pengerjaan skripsi: https://catatansihujan.com/tag/skripsi-sihujan/
—
-11May2021

Tinggalkan Balasan