Dua puluh lima tahun, seperempat abad, umur yang kata banyak orang dikenal dengan quarter life crisis. Selamat datang para manusia yang lahir tahun 1998!
Titik balik di mana tumbuh dewasa tidak seindah yang dibayangkan. Tumbuh dewasa dengan banyak tali simpul yang enggan diluruskan. Bukan tentang mengenal diri sendiri dan berdamai dengan keadaan, tetapi faktor luar yang ikut campur dan meramaikan perjalanan di pertengahan umur 20-an ini.
Aku percaya setiap orang punya jalannya masing-masing, punya caranya sendiri, dan tujuannya untuk mendefinisikan kata “bahagia”. Di tengah kegundahan, ada banyak alasan untuk tetap senyum, untuk tetap berjalan, untuk tetap hidup meski krisis ini seakan menghimpit badan.
Ada teman yang meneruskan kuliah, ada teman yang memilih menikah dengan pujaan hatinya, ada teman yang sibuk upgrade diri untuk dapat pekerjaan yang lebih bagus, ada teman yang masih santai dengan pekerjaannya, bahkan ada teman yang mengikuti arus semata biar benang kusut di kepala bisa teralihkan. Katanya rezeki udah ada yang mengatur, nggak akan tertukar dan akan berkurang. Sesuai porsi. Malah seringkali yang kita anggap baik bisa jadi bukan baik menurut Yang Di Atas.
Tujuan itu juga nggak selalu lurus. Hidup, kan, memang untuk menyelesaikan satu masalah untuk masalah yang lain. Kelar satu tumbuh satu. Kadang ada krikil kecil yang mengisi jalan itu. Kebahagiaan yang kamu lihat di sosial media juga bukan kebahagiaan utuh yang selalu didapatkan, lho.
Coba kamu berkaca, seperti halnya kamu yang membagikan momen senang, mereka juga membagikan bagian senangnya saja kok. Karena sedihnya cukup kita rasakan. Cukup dibagikan dalam kolam pesan dengan teman terdekat, atau bahkan hanya didengar oleh tembok yang melihatmu menangis tengah malam.
Itu baru tentang diri sendiri dan mengisi waktu di tengah krisis hidup. Belum tentang orang lain. Orang lain yang kadang bisa jadi motivasi besar untuk tetap hidup atau malah motivasi utama untuk pergi. Pergi jauh, pergi bebas. Setiap orang punya “support system” masing-masing.
Kalau ditanya, “apa alasan kamu tetap hidup?” Bisa jadi jawabannya bukan diri sendiri tetapi orang terdekatmu. Seperti ini, jika kehidupan di luar sana terlalu keras untuk diri sendiri, orang terdekat ini dapat menjadi alasan terbesar untuk tetap menjalankan hidup. Meski terseok-seok tapi akan tetap hidup karena kamu tak ingin meninggalkan mereka sendiri di dunia ini.
Beda lagi kalau orang terdekat malah menjadi haters number one yang menghancurkan rasa senangmu. Rasa capek setelah mencari kebahagiaan langsung naik ketika tahu di dunia ini nggak ada hakmu untuk senang dan bahagia. Rasa senang yang harusnya kamu dapatkan dari hal kecil nggak jadi senang karena mulut yang tak bisa berhenti berkomentar.
Tuntutan yang semakin hari semakin mencekik, rasa lelah yang nggak bisa terbayar untuk diri sendiri, hingga rasanya, kamu memang hidup hanya untuk memenuhi kewajibanmu untuk orang lain. Bukan untuk dirimu sendiri. Membeli barang yang ingin kamu beli, melakukan hal yang ingin kamu lakukan, menyukai apa yang kamu sukai, menjadi salah untuk mereka.
Di umurmu yang sekarang, kebebasan masih belum kamu dapatkan. Semua hal terasa salah, bahkan jika saat kamu lelah dan ingin melepas lelah dengan hal yang kamu inginkan semua terasa salah. Nggak boleh bahagia, nggak boleh senang.
Lalu, apa motivasimu untuk tetap bertahan?
—
–22Juli2024


Tinggalkan Balasan