Cerpen – Aneh, Kita Bahkan Tidak Pernah Dekat

            Sebuah pesan masuk lewat surat elektronik diterima Karin sore itu. Sebuah pesan berisi undangan pernikahan dari salah satu teman sekelasnya saat SMA. Hanya undangan pernikahan namun, efeknya begitu hebat. Bukan karena yang menikah itu adalah mantannya atau bahkan musuhnya, tapi pesan itu menyiratkan sebuah tanda mungkin di sana akan terjadi reuni kecil-kecillan dengan beberapa teman SMAnya. Hal itu sungguh membuat perempuan berkerudung hitam itu gelisah. Sudah sejak lama Karin tak berkomunikasi dengan mereka. Bahkan walaupun Karin dan beberapa dari teman SMAnya saling mengikuti di sosial media, tak lantas membuat mereka kembali akrab. Saat SMA, ia memang suka menyendiri dan tak punya teman dekat.

            Tak lama terdengar suara notifikasi dari aplikasi chat yang biasa ia gunakan. Muncul pesan dari grup kelasnya. Salah satu dari anggota grup bertanya perihal siapa saja yang bisa datang ke pernikahan salah satu teman mereka. Karin yang tak tau akan menjawab apa memilih untuk menutup kembali aplikasi itu. Namun, pikirannya tak lantas berubah, malah saat ini ia seperti kembali terbang pada saat-saat terakhir masa abu-abunya.

            ===

            Pagi hari, 8 tahun yang lalu, di sebuah kelas salah satu SMA Negeri di Bandung….

            Seorang perempuan berkuncir kuda datang dengan tergesa-gesa, “Eh, Karin belum datang ya?” ucapnya yang merupakan teman sekelas Karin, Rina. Wanita itu lalu menormalkan kembali nafasnya setelah berlari dari gerbang sekolah ke kelas karena hampir telar.

            “Belum, nggak tau nih kenapa dia telat. Nggak biasanya,” jawab Fani yang biasa mengobrol dengan Karin.

            “Eh, Ga, menurut lu Karin gimana?” tanya Fani tiba-tiba kepada Aga yang duduk di depannya dan sedang melihat obrolan antara ia dan Rina. Oh ya, hari ini merupakan hari terakhir dari tryout terakhir untuk kelas dua belas. Kelas yang berisi 15 orang itu langsung terdiam kala mendengar pertanyaan Fani. Mereka memusatkan perhatian ke arah belakang kelas untuk mendengar jawaban dari Aga yang merupakan cowok yang pinter dan paling ganteng di kelas. Bahkan Cahyo yang duduk di bangku depan berjalan pelan ke arah belakang tak jauh dari tempat duduk Aga.

            Aga mendengus kesal sebelum akhirnya balik bertanya pada Fani dan balik menghadap ke depan kelas, “Apa-apaan nih? Kok nanya gue?”

            Fani menekuk dahinya bingung, “Lho, kan gue cuma nanya, ya lu tinggal jawab aja.”

            “Ckck. Si Karin baik. Pendiem, pinter juga. Mandiri dia, nggak kaya lu sama cewek-cewek yang lain,” jawab Aga menunjuk beberapa teman ceweknya yang menurutnya tidak mandiri.

            “Cie, Cie, jadi Aga suka sama cewek yang mandiri gitu?” Goda Lani yang tiba-tiba sudah duduk di samping Rina.

            Aga yang mendengar itu langsung bergerak gelisah, “Ya siapa juga yang nggak suka cewek mandiri kan?” tanyanya entah pada siapa, “Udah-udah, balik lu semua ke tempat asal, bukannya belajar, malah godain gue.”

            Tak lama seorang perempuan yang mereka bicarakan terlihat di depan gerbang sekolah. Kelas yang menghadap ke gerbang sekolah membuat Aga dan teman sekelasnya bisa melihat kedatangan Karin. Beberapa temannya mulai kembali menggoda Aga, “Jangan diliatin terus kali!”, “Yailah liatinnya biasa aja dong, Ga!”, atau godaan lain yang membuat seorang Aga salah tingkah.

            Karin yang hari ini sedang sakit namun dipaksakan masuk karena ini tryout terakhir lalu memasuki kelas setelah berpamitan dengan ayahnya yang hari itu mengantarnya. Ia mengernyit dahi nampak bingung dengan teman sekelasnya. Pasalnya, ketika ia masuk kelas, teman-temannya serempak menggodanya dengan kata ‘cie-cie’ yang ia tak tahu maksudnya apa. Tapi walaupun begitu ia melihat satu orang yang nampak gelisah di tempatnya dan menundukkan kepala melihat pada kertas-kertas di depannya.

            “Cie-cie Karin, tadi dianter siapa?” tanya Cahyo yang masih berdiri di depan mejanya.

            “Hah? Dianter ayah, kenapa?” tanya Karin seraya memijat pelan dahinya yang pusing setelah berhasil duduk dengan baik di tempatnya. Nampaknya, pusingnya akan bertambah dengan sikap aneh teman-teman sekelasnya ini.

            “Nggak apa-apa kok,” jawab Cahyo lalu kembali ke tempatnya karena bel yang sudah berbunyi.

            Karin yang tak tahu apa-apa hanya mampu mengingat salah satu temannya yang berbeda dari yang lain. Saat yang lain menggoda, laki-laki itu hanya tersenyum gelisah dan nampak salah tingkah bahkan tak menatap dirinya. Pertanyaan pertama, “Apakah mereka ngomongin aku sebelum aku masuk kelas?”

            ===

            Siang hari, 8 tahun yang lalu, di hari yang sama lepas tryout terakhir…

            Dengan kaki diseret Karin yang keadaanya belum membaik melangkahkan kaki keluar kelas. Setelah tryout, seluruh kelas dua belas akan langsung melaksanakan ujian praktik agama. Untuk itu, Karin yang dari pagi sakit dan dipaksa untuk tetap mengikuti ujian memilih belajar di luar kelas daripada di dalam kelas yang sudah seperti kapal pecah. Beberapa temannya menghapal dengan suara kencang, ada yang lebih memilih bermain game dan berteriak saat kalah, bahkan teman laki-lakinya ada yang iseng menjahili teman perempuannya yang berakhir kejar-kejaran di dalam kelas.

            Namun, nampaknya nasib baik lagi-lagi tak datang padanya. Teman perempuanya yang fokus belajar mengikutinya keluar kelas. Ia yang ingin sendiri dan menyenderkan kepalanya setegak tembok harus rela membagi kursi panjang yang ada di depan kelas dengan temannya yang lain. Sambil memejamkan mata dan mengurut dahinya pelan ia mulai menghapal materi ujian praktik yang akan dilaksanakan setengah jam lagi.

            Setelah menunggu akhirnya giliran kelasnya yang mendapat bagian untuk melaksanakan ujian itu di masjid sekolah. Ujian itu berlangsung per-lima orang siswa. Guru yang akan menguji memberi kebebasan bagi siswa yang sudah hapal boleh mengikuti ujian pertama dan yang lainnya boleh menghapal asal dengan suara pelan dan tidak mengganggu. Selain itu, bagi siswa yang sudah selesai ujian, boleh langsung ke kelas agar tidak mengganggu yang lain. Karin dengan kepala yang berdenyut-denyut tak ragu untuk tunjuk tangan diikuti oleh ke empat temanya yang lain, Rina, Cahyo, Aga, dan Chika.

            Setelah menyelesaikannya ujiannya, Karin, Rina dan Chika langsung menuju kelas. “Lu sakit ya, Rin?” tanya Rina kepada Karin yang berjalan di sebelahnya sambil menunduk. Perempuan yang hari ini rambutnya digerai itu lantas mengangguk menjawab pertanyaannya.

            “Oh, pantes dari tadi pagi digodain nggak nanggepin apa-apa,” ucap Rina.

            Chika yang mendengar mengernyit bingung, dan berucap polos, “Lho, Karin bukannya emang kalau digodain diem aja? Cuma senyum-senyum gitu.”

            Rina yang mendengar langsung menjawab cepat, “Ah lu tadi di ruang sebelah sih. Ruang gue tuh satu kelas godain si Karin, tapi dia diem aja.”

            “Iya, Rin?” tanya Chika melihat ke arah Karin. “Digodain apaan lu?”

            Menunggu Rina membuka pintu kelas, Karin menjawab, “Nggak tau juga gue, yang ada gue bingung malah.” Perempuan yang sudah tak kuat berjalan itu lalu langsung menuju tempat duduknya dan melipat kedua tangannya di atas meja sebelum menyembunyikan wajahnya di sana.

            “Kok bingung sih, Rin?” tanya Chika lagi, perempuan berkerudung itu melangkah menuju tempat duduknya lalu menatap Rina yang masih ada di depan kelas penasaran, “Ada apaan sih? Kok gue ketinggalan?”

            “Jadi tuh, tadi pagi…” belum sempat Rina menjawab, seseorang menggebrak pintu yang membuat ketiga perempuan di dalam kelas kaget. Karin yang sudah akan tidur langsung menegakkan kepala kembali lalu mendengus kesal melihat siapa yang menggebrak pintu itu. Ia lalu kembali pada posisi semula bersiap untuk tidur lagi dan berharap tidak ada yang mengganggunya lagi.

            “Ish. Lu mah kebiasaan ngagetin mulu.” Ucap Chika kesal dari tempat duduknya. “Terus apa, Rin? Lanjutin dong?” tanyanya lagi pada Rina yang sudah duduk di tempat duduknya yang berselang di meja darinya.

            “Nggak ah. Nanti aja. Ada orangnya di sini,” jawab Rina sambil melirik sekilas pada Aga yang berjalan menuju kursinya di belakang. Hal itu tak luput dari pandangan Chika yang membuatnya makin penasaran.

            “Aga? Sama Karin? Anjir lah! Gue pasti udah ketinggalan gosip heboh nih,” ucap Chika dengan suara yang bisa didengar oleh semua orang yang ada di dalam kelas itu. Chika masih memperhatikan Aga yang tiba-tiba berdiri dari tempatnya menuju ke tempat Cahyo yang berada di depan dan beralih melihat Karin yang nampaknya mulai tidur, “Lu nggak niat bisikin gue, Rin?” tanya Chika pada Rina.

            “Nggak mau. Tanya aja noh orangnya langsung,” Jawab Rina seraya menunjuk ke arah Aga. Aga yang mendengar hanya mengernyit dahi seolah-olah bingung namun terlihat senyum miring di wajahnya. “Eh, Ga, si Karin lagi sakit tau, liat noh, orangnya tidur.” Rina mulai kembali menggoda Aga yang ditanggapi ramai oleh Chika dan Cahyo karena penasaran melihat respon Aga.

            Masih dengan senyum miringnya, Aga berjalan mendekati meja Karin, “Karin sakit? Ke UKS aja mending, apa mau dianterin?” setelahnya seperti tak berbuat apa-apa lelaki itu berjalan kembali ke tempat duduknya meninggalkan sorak-sorai dari Chika, Rina, dan Cahyo.

            Karin yang sudah tak bisa tidur sejak ucapan Rina setelah Aga masuk kelas hanya menggeliat pelan pura-pura tidurnya terganggu. Lalu, Pertanyaan kedua, “Apa yang barusan laki-laki itu lakukan? Mereka bahkan nggak dekat, bahkan untuk sekedar ngobrol satu-dua kata aja mereka enggan, ada apa hari ini?”

            ===

            Malam hari, 8 tahun yang akan datang dari hari itu, dalam sebuah pesta pernikahan…

            Akhirnya salah satu teman sekelasnya menikah. Lani menjadi orang pertama dari kelas IPS-2 yang menikah. Karin memutuskan untuk datang setelah beberapa kali menolak datang ke pernikahan teman sekolahnya yang berbeda kelas dengannya. Sebelumnya, teman-teman sekelasnya janjian untuk datang malam hari. Karin juga sudah janjian untuk menjemput Chika yang masih satu blok dengan rumahnya. Di sinilah ia berada. Di sebuah rumah bercat putih, rumah Chika. Sudah lima belas menit ia di sini menunggu pemilik rumah yang sedang dandan. Sambil menunggu ia membuka grup kelasnya untuk melihat siapa saja yang sudah sampai lokasi resepsi pernikahan Lani dan siapa saja yang masih di jalan.

                Cahyo:

                Woyyy, tungguin gue ama Aga meluncur nih.

                Si Aga bawa mobilnya kaya keong, anjir. Lama banget.

                Rina:

                Gue, Fani, Gilang, sama Bima udah sampe nih, tapi masih di depan nunggu kalian yang masih di jalan.

                Gantian ama Cah, lu yang bawa mobilnya. Ngebut buruuu!!!

                Cahyo:

                Orangnya nggak mau!

                Tar sampe sana gemplak aja palanya!

                Gilang:

                Lagian tumbenan amat itu bocah kaya keong biasanya cepet

                Cahyo:

                Gk tau lah ini orang kesambet apaan.

                Chika:

                Gue otw nih dari rumah bareng Karin, tungguin yawww!

                Bima:

                Cah, lu di mana buseettt. Lama bgt katanya jalan dari tadi. Gue mau malming ini.

                Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, Karin dan Chika akhirnya sampai di gedung tempat Lani menggelar resepsi pernikahannya. Sambil berjalan ke arah pintu masuk, Karin melihat sekilas Chika yang sedang menjawab panggilan telepon dari Rina, yang menanyakan keberadaan mereka.

            “Iya sabar, Rin. Gue udah di depan ini. Lari pala lu peyang. Monmaap nih, gue pake heels ya. Karin? Pake flatshoes sih. Udah gue matiin nih, gue udah bisa liat lu.” Chika lalu menutup panggilan itu dengan kasar.

            Setelah menulis di buku hadir, mereka berdua langsung menuju ke arah teman-temannya yang sudah lama menunggu.

            “Ya Ampun Fani, udah lama banget gue nggak ketemu sama lu. Gimana kabar lu?” tanya Chika seraya memeluk Fani pelan. Karin yang berada di belakang Chika memutuskan bersalaman dahulu ke Rani yang nampaknya masih kesal karena menunggu lama.

            “Baik banget, Chik. Lu juga kayanya kabar baik banget, kan?” Fani balik bertanya kepada Chika. Dalam pandangan Karin, ia melihat lelaki itu, nampak asik mengobrol dengan salah satu teman perempuannya.

            “Iya dong pastinya,” ucapnya lalu ia beralih ke arah Aga dan Zifa. “Wih, makin ganteng aja lu,” Goda Chika lalu berjabat tangan. Karin yang telah beralih dari Rani ke Fani juga melakukan jabat tangan kepada teman-temannya yang lain dan berujar meminta maaf karena telah menunggu lama.

            Namun, tanpa teman-temannya sadari, hanya Karin dan Aga yang tidak berjabat tangan. Masih sama seperti delapan tahun yang lalu. Kikuk, kaku, salah tingkah, seolah hanya orang asing yang berada dalam ruang yang sama. Bukan teman sekelas yang seharusnya bertanya kabar karena telah lama tak bertemu. Pertanyaan ketiga, “Bukannya mereka teman sekelas? Kenapa bisa sekaku dan seasing ini?”

            ==

            Aneh, mereka bahkan nggak dekat. Mereka jarang ngobrol bahkan nggak pernah becanda bareng. Mereka juga nampak tak pernah bermusuhan. Bahkan masalah peringkat pun Aga pasti selalu berada di atas Karin. Karin pun juga tak pernah berusaha merebutnya. Setiap ada bukber atau reuni sekelas, Karin yang berusaha untuk tidak datang karena tak siap bertemu. Walaupun ia yakin seharusnya keasingan itu sudah hilang yang berganti saling menyapa seperti teman-temannay yang lain. Namun, nyatanya tetap sama. Setelah 8 tahun tak bertemu kenapa mereka masih seperti orang asing? Seperti orang yang pernah bertengkar dan enggan untuk berdamai? Apa yang telah Karin lakukan? Apa yang salah dengannya sehingga Aga menganggapnya orang asing?

#Day1 #OneDayOnePost30HRDC #WritingChallenge30HRDC #RamadanDitengahPandemi #30HariRamadhanDalamCerita #bianglalahijrah

-24April2020



3 responses to “Cerpen – Aneh, Kita Bahkan Tidak Pernah Dekat”

  1. Karin dan agama benar2 asing atau pura2 asing sbnrnya hehe..
    Keren ceritanya..

    1. Wah.. Makasih ka sudah mau baca hehe. Aga kali ya maksudnya? Aku pikir kayanya Aga tau deh Karin menaruh perhatian hehe

  2. […] Selengkapnya di: Cerpen – Aneh, Kita Bahkan Tidak Pernah Dekat […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca