“Candy is childhood, the best and bright moments you wish could have lasted forever.” — Dylan Lauren
Apa yang terbayang dalam pikiranmu bila ada yang bertanya, Bagaimana masa kecilmu?
Tentunya, semua orang pasti memiliki masa kecil yang berbeda-beda. Setiap orang juga memiliki memori-memori masa kecil yang tak terlupakan. Aku pun demikian!
Selayaknya anak perempuan lainnya, pasti ada saatnya bermain masak-masakan, bermain boneka bareng teman-teman, atau bermain permainan tradisional seperti petak umpet atau taplak (engklek).
Untuk sekarang ini, susah sekali menemukan anak-anak kecil yang masih mainan seperti itu. Kalaupun ada Gue malah sering ketemu sama anak laki-laki yang main bola di jalan. Beberapa anak perempuan juga masih bermain, tapi malah bermain seperti anak laki alias maen bola. Kalaupun main permainan yang lain pasti hanya merujuk pada main bersama kalau istilah sekarang mah, yang penting kumpul.
Bahkan beberapa hari yang lalu Gue lihat anak kecil perempuan dan laki-laki maen bola! Coba itu kenapa ada anak perempuan maen bola siang-siang?
Kalau adek gue yang masih tergolong anak-anak masih maen boneka-bonekaan walaupun sendiri atau berdua dengan kakaknya yang kedua. Tapi saat-saat ini dia lagi suka banget sama main kartu yang ada batu-gunting-kertas di pojok kartunya.
Buat Gue sendiri memori masa kecil selain bermain bersama teman adalah ketika kedekatan dengan ayah. Setiap saat selalu manggil ayah. Apa-apa ayah – apa-apa ayah. Saya ingat banget sewaktu kecil rambut gue pendek. Gak pernah panjang. Suatu ketika teman-teman gue rambutnya panjang dalam artian sepundak. Gue masih dengan rambut pendek setelinga. Akhirnya Gue nangis ingin berambut panjang dan tetap gak dibolehin. Akhirnya, ayah punya cara jitu biar Gue berhenti nangis. Rambut bagian atas (di atas ubun-ubun) diikat dengan karet rambut yang berwarna-warni. Kalau dulu ayah nyebutnya “pohon kelapa”. Karena keseringan, akhirnya kalau mau minta ikatin rambut bilang ayahnya pasti “bikinin pohon kelapa”
Hal-hal kecil yang sederhana aja masih bisa kita ingat karena ia memang berarti. Kadang kala ada keinginan-keinginan kecil buat balik ke masa kecil cuma karena satu dua hal. Tapi tetap aja yang namanya waktu harus tetap berjalan. Jadikan perjalanan dan pengalaman lalu untuk disimpan dengan baik dan dijadikan pelajaran bila memang itu layak untuk dijadikan pelajaran.
Coba dong komen dan ceritain, Apa sih memori masa kecil kalian yang masih diingat sampai sekarang? 🙂
—
-10Apr2018

Tinggalkan Balasan