
Awal bulan maret yang lalu, gue dan teman sempat menikmati film Indonesia yang menurut gue bagus. Awal mula tertarik karena melihat posternya dan dilanjutkan dengan melihat trailernya. Seketika langsung kirim ke teman dan dia pun tertarik. Filmnya yaitu Sekala Niskala (The Seen and Unseen). Ketika itu gue melihat di hari ke enam penayangan. Dari beberapa bioskop yang tayang malah udah ada yang turun layar. Waktu itu di Blok M Plaza masih tayang, dan itu sangat bersyukur banget. Sebelum nonton gue beberapa kali melihat review dari orang-orang. Banyak yang mengatakan film ini bagus dan tak jarang gue temui bahwa ada yang bingung sama jalan ceritanya. Mungkin bisa dibilang gue awal-awal bingung alias salah tafsir hehe
Tapi, gue di sini mau membahas sedikit tentang apa yang gue rasa ketika menonton film ini. Judulnya Sekala Niskala atau artinya nyata dan tidak nyata, diambil dari bahasa Bali. Perasaan pertama saat akan nonton adalah gak sabar. Dari awal bulan Februari udah buat list di handphone untuk nonton film ini. Awal maret udah mulai menyisihkan uang buat nonton film ini. Kebetulan yang sangat baik karena dari sedikitnya layar bioskop yang menayangkan film ini, Blok M Plaza termasuk ke dalamnya. Dekat dari rumah dan tidak terlalu mahal 😀 gue bilang begitu karena layar bioskop yang di Jakarta didominasi oleh tempat-tempat yang besar seperti di PIM dan Plaza Senayan.
Awal mulai film masih biasa aja. Menit ke menit mulai berasa apa yang dikatakan oleh beberapa orang yang mereview tentang film ini. Magis dan artistik. Yang gue kagum dari cerita ini adalah pengambilan gambarnya yang keren banget. Sinematography bagus banget. Apalagi ketika Tantri menari dihadapan bulan, dan itu diambil dari posisi belakang badan Tantri.
Kalau tentang jalan cerita jangan ditanya lagi. Udah banyak orang yang mereview cerita ini. Masih ada beberapa adegan yang gue ingat sampai sekarang. Gue merinding kala masuk malam hari. Entah karena mungkin si Tantri akan bertemu Tantri saat malam hari. Yang gue kagum adalah ketika Tantri makan telur, karena dia gak suka kuning telur ketika dia makan itu telur gak ada kuningnya. Seketika gue langsung merasa bahwa kembar tuh emang saling melengkapi banget yaa…
Gue sama teman gue pas keluar bioskop malah diskusi tentang film ini. Yang sama dari gue dan dia adalah itu film ketika scene malam yang harus meraba-raba adegannya bila tidak kelihatan. Gue tau banget ini kayanya karena mata gue yang bermasalah hehe. Tapi si Nana, teman gue itu, dia udah paham sama alurnya, sedangkan gue masih harus nelaah lebih baik lagi. 😀
Yang gue lihat dari jumlah penonton ketika layar ini turun malah dibuat bertanya-tanya. Apakah ornag Indonesia tidak tau film sebagus ini. Bahkan sebelum tayang di Indonesia film ini sudah meraih berbagai perhargaan di luar negeri. Tapi kenapa di Indonesia antusiasnya sedikit. Bahkan cepet banget turun layarnya. Ada apa dengan penonton film Indonesia?
Gue berterima kasih banget buat Kamila Andini dan crew yang bisa mengangkat nama Indonesia di luar negeri. Selain itu, terima kasih juga buat filmnya yang luar bisa ini. Gue tau udah telat banget. Tapi gak ada salahnya kan gue apresiasi film ini?
Sekian cerita gue tentang nonton Sekala Niskala dan gue harap akan ada lagi film-film seperti ini.
—
-06Apr2018

Tinggalkan Balasan