Hay… apa kabar?
Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi tak ada satupun yang dapat terucap, bahkan untuk bertanya kabar melalui pesan whatsapp.
Sudah sejak lama rasa kecewa ini tertutup, namun nampaknya dia kembali muncul di beberapa minggu terakhir ini. Kembali mempertanyakan banyak hal, yang lebih banyak tentang, “Kok bisa dia begitu?”
Kukira pertemanan ini bisa kembali erat, nampaknya kau tak sepaham denganku. Kalau orang bilang people come and go, aku harap nggak ada waktu di masa depan ketika kamu kembali datang.
Baca juga: Ternyata Masih jadi Bunglon
Sudah cukup kau pergi dan kembali, sudah cukup membuatku berkhayal dan berharap, karena tak ada sekalipun ucapan kau yang bisa kau tepati.
Entah kau sadar atau tidak, perlakuanmu di akhir obrolan saat itu begitu membekas. Memberikan luka yang entah akan hilang sampai kapan.
Setiap melihat wajahmu di insta storymu atau temanmu yang lain, rasa kecewa itu kembali muncul. Menyesakkan.
Dengan nominal yang tak seberapa itu, kau tukar perlakuan baikmu padaku sebelumnya. Ini bukan masalah nominal, tapi, tentang harga diri dan cara kau memandang pertemanan ini.
Kau begitu bebas di luar sana, bertemu muka dengan banyak orang, tapi tak bisa kau sekedar menghabiskan sedikit waktumu untuk memenuhi janjimu. Apa memang kau yang tak mau bertemu denganku?
Lucu ya, bahkan janji itu kau niatkan atas nama Tuhan. Tapi, kau menggampangkan dan menggantinya dengan mudah.
Baca juga: Bunglon
Aku yang jadi bahan janji itu hanya bisa tertawa getir. Bahkan tak ada satupun maaf darimu. Semudah itu, seharga itukah?
Entah kau sadar atau tidak, kurang dari satu jam nominal itu aku kembalikan. Aku tak butuh. Bukan aku yang berjanji pada Tuhan, tapi kau. Dan kau memperlakukan janji itu dengan gampangan.
Kadang kala, aku berpikir mungkin rasa kecewa ini muncul karena aku yang terlalu berharap bisa bertemu dan bercerita. Tapi, aku tak bisa meminta, tak bisa memaksamu. Meminta penjelasan tentang perlakuanmu pun aku tak mampu.
Aku terlalu takut. Takut kecewa, takut tak dihargai, takut dengan tanggapanmu. Ingin rasanya menyapa, tapi tak ada satupun huruf yang bisaku tulis. Lenyap seperti nyaliku.
Ingatan tentang obrolan akhir itu begitu mencekik. Kau tak sebaik itu, bukan jahat, mungkin kau juga tak sadar dengan apa yang kau lakukan padaku.
Ya, mungkin di sini memang aku yang salah. Terlalu berharap, terlalu mudah. Maaf sudah menyalahkanmu.
—
-8Sep2025


Tinggalkan Balasan