Selesai tanpa Kata, Pergi tanpa Kabar

★🎧˗ˏˋ ꒰ 𝘯𝘰𝘸 𝘱𝘭𝘢𝘺𝘪𝘯𝘨 :: ⌦ Anneth ~~ Mungkin Hari ini Esok atau Nanti ⋆.˚✮🎧✮˚.⋆

Aku pernah mencintaimu dengan begitu besar, sampai aku lupa sama hidupku. Bahagia merasakan waktu yang berlalu di antara kita. Tawa bahagia dan ceritamu jadi pengisi hari-hariku. Sehari tanpamu kaya sayur tanpa garam. Hambar.

Kau selalu jadi orang pertama yang kucari. Hadirmu jadi salah satu alasanku untuk selalu ada di sini dan nggak menyerah. Dulu ketika kita bertemu, aku lupa dengan hidupku. Dengan sedih yang kurasakan hari itu. Dengan rasa kesalku pada dunia. Kau seperti menyerap semua senduku. Kau bayar lunas dengan rasa bahagia.

Aku pernah mencintaimu tanpa syarat. Kau selalu jadi subjek utama yang senang ku perbincangkan pada dunia. Temanku, sahabatku, keluargaku, semua tau tentangmu. Mungkin mereka bosan mendengarnya, tapi aku nggak pernah lelah bercerita tentangmu. Semua harus tau kamu. Titik.

Baca juga: Menunggu Waktu

Kupikir, waktu kita bersama akan abadi. Seperti banyak hal yang telah kuusahakan untukmu dan kau yang masih di sana. Ternyata nggak. Hujan lebat bulan itu membuatku menarik raga dan eksistensiku darimu. Aku menjauh tanpa kalimat perpisahan apapun untukmu. Banyak hal yang berubah, termasuk perasaanku.

Saat hujan nampak jadi gerimis kecil untukku, meski terasa sulit akan ku terobos untuk mendekat kembali. Pulang ke tempatmu. Tapi ternyata, aku salah. Hujan lebat itu berpindah ke tempatmu. Mengacaukan harimu. Kau nggak bisa keluar, dan aku yang nggak bisa mendekat. 

Berjalan waktu, hujan lebat itu masih sama, masih diiringi petir yang menghentak. Perlahan eksistensimu menghilang, ragamu tertutup badai. Apakah ini hukuman untukku yang menjauh darimu? Bahkan aku tak sempat mengucapkan kata maaf.

Baca juga: Kesempatan Memulai Pertemuan Pertama

Rasanya aku ingin egois, sekali saja. Menarikmu dari hujan lebat, lalu menyimpan dan membawamu selalu di sini, di rumahku. Tapi, kau bukan barang. Kau manusia yang ketika lelah akan istirahat. Hujan lebat itu membuatmu lelah. Dan kau memilih pergi.

Jarak yang terbentang terlalu jauh. Jarak yang sulit untukku pangkas. Memisahkan dua raga yang dulu pernah saling mengisi. Berjalannya waktu, aku bahkan meninggalkan banyak hal tentangmu di belakang. Kau hilang membawa semuanya. Aku mungkin nggak benar-benar pergi. Tapi rasanya… waktu ini berbeda. Semua nggak lagi sama.

Sekarang, kita hidup masing-masing. Nggak ada lagi aku dan kamu, kita. Aku yang harus terus hidup dan kau pun juga. Kuterbangkan kata maaf yang tak pernah sempat kuucapkan. Meskipun aku nggak tau kau di mana, aku selalu berdoa kau selalu bahagia. Seperti dulu, saat kau jadi alasanku bahagia.

“Hei, kau tau, aku kangen. Pada banyak hal yang sudah kita lewati bersama dulu. Tapi aku juga tau, aku nggak bisa lagi menggapaimu. Aku tau, aku yang pertama menjauh, tapi… kenapa kau juga tak kunjung kembali?”

-29Sept2024



6 responses to “Selesai tanpa Kata, Pergi tanpa Kabar”

  1. Mungkin dia sudah menikah

    1. kabarnya dia abis didiagnosa kena anxiety sama dokter. jd menghilang (?)

      1. Astaghfirullah

  2. sediiih bacanya 😣. Tapi aku percaya jodoh mba. Kalo memang masih berjodoh, dia pasti akan kembali bagaimanapun caranya ☺

  3. […] Baca juga: Selesai tanpa Kata, Pergi tanpa Kabar […]

  4. […] Baca juga: Selesai tanpa Kata, Pergi tanpa Kabar […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca