Bunglon…
Dulu julukan itu pernah kuberikan padamu. Kau yang mudah berubah secepat bunglon. Tapi ternyata kedatanganmu musim yang lalu tak seperti bunglon yang cepat berubah. Kau… berdiam untuk satu, dua, tiga, empat musim dan menetap begitu melekat pada genggamanku.
Baca juga: Bunglon
Sayangnya, kau tetap bunglon. Kau berubah, secepat setelah kau mengakhiri janjimu. Janji yang, mungkin menurutmu selesai, tapi menurutku tidak. Nggak, sejujurnya aku sudah menerimanya. Tapi… perlakuan burukmu dan banyak pertanyaan yang tak terjawab di kepala membuat pendapatku berubah.
Lucu ya, bahkan untuk hal penting kaya gitu, tak bisa kau tepati. “Btw, coba cek, aku takut kau tak sadar dengan apa yang telah kukembalikan. Aku tak butuh, aku lebih butuh kau tepati janji itu.”
Kau yang menetap untuk waktu yang lebih lama membuat semua perasaanku tak terbendung. Aku begitu menikmati kebersamaan ini. Berbagi dan saling, namun nyatanya tak cukup untuk menahanmu di sini. Kau pergi kembali setelah mengacaukan semuanya.
Kau tau? Banyak hal yang perlu aku sadari dan perbaiki selepas kau pergi. Aku harus kembali terbiasa dan mengatur pikiranku untuk tidak lagi mencoba menghubungimu. Dan… mengatur hidupku untuk menerima kalau semuanya memang sudah waktunya berakhir.
Setelah semuanya selesai kuperbaiki, tolong, jangan pernah kembali hanya untuk singgah lagi. Jangan berlaga seolah kau tak menyakiti apapun. Kalau perlu, biarkan kita menjadi asing. Seperti yang seharusnya.
—
-23Des2024

Tinggalkan Balasan