Memulai tahun ini dengan satu keputusan dan rencana yang cukup dadakan. Semua berawal dari akhir tahun saat seorang teman mengajukan nama “Baduy” sebagai destinasi atau perjalanan yang ingin ia lakukan di awal Januari ini.
Dengan berbagai informasi yang coba aku dan teman dapatkan, dan itu nggak banyak, kita akhirnya berangkat dengan penasaran tapi juga deg-deg-an parah mengingat akan melakukan tracking dan keadaan penginapan di sana. So, inilah tulisan perjalanan, Baduy dan Cerita di Dalamnya.
Aku nggak menyangka perjalananku pertama kali di tahun ini mendatangkan banyak pengalaman seru yang luar biasa. Seperti yang aku percaya, setiap perjalanan pasti ada ‘suatu’ hal yang akhirnya dibawa pulang, entah itu cerita seru, sedih, senang, bahkan pengalaman kesasarpun bisa jadi hal yang dibawa pulang lewat sebuah cerita.
Kalau ngomongin Baduy, mungkin bisa ditarik dari awal aku melihat beberapa orang Baduy ketika aku kuliah di Ciputat. Beberapa kali liat orang pakai baju putih, bawa madu, dan nggak pakai sendal. Kata orang-orang itu orang Baduy.
Sampai sebelum temanku mengajukan nama Baduy, aku sama sekali nggak ada niat untuk ke sana bahkan mencari tahu lebih lanjut tentang Baduy. Hanya tau dari beberapa Instagram Travel yang aku follow untuk aku pergi ke kota lain yang membuka open trip ke Baduy. Hanya itu.
Dengan alasan yang tidak dapat disebutkan, akhirnya aku memutuskan ikut dalam trip ini, Saba Budaya Baduy lewat Open Trip Jalur Travel, weekend kemarin tepatnya tanggal 11-12 Januari. Ini dia cerita perjalanannya.
Baca juga: Belajar Membatik di Museum Tekstil Jakarta
Tracking tipis-tipis dan berhasil sampai ke Baduy Dalam
Dari setelah mengajukan dp, aku dan temanku cuma khawatir satu hal, di sana nggak ada MCK. Mencari tahu sampai ngubek tiktok dan youtube buat tahu MCK Baduy Dalam bagaimana dan nggak ketemu, sampai kita sadar kalau, ya di sana nggak bisa pakai elektronik, berarti emang nggak ada dokumentasi yang tersebar.
Setelah bikin strategi buat buang air, bahkan berniat buat nggak buang air sama sekali di sana, ini agak kacau, sampai mendekati hari h kita lupa, kita akan tracking. Akhirnya ke khawatiran itu berpindah. Deg-deg-an sekaligus takut menyulitkan yang lain kalau pace kita berbeda dari yang lain. Tapi so far, perjalanan tracking menuju Baduy Dalam seru dan nggak berasa, apa mungkin karena udah pulang ya jadi tau kalau tracking pulang lebih berat dari awal.
Tracking awal medannya nggak terlalu berat dan lebih pendek, kurang lebih 3 jam atau sekitar 7 km. Trackingnya juga bukan yang buru-buru atau serius, tapi yang seru-seru, beberapa kali kita berhenti buat istirahat, ngobrol, dikasih tau pengetahuan tentang Baduy Luar dan Baduy Dalam, atau sambil foto-foto.
Satu hal yang aku pelajari dari tracking awal ini, aku harusnya lebih siap dengan ke kamar mandi dulu buang air sebelum jalan, soalnya di tengah-tengah jalan, mungkin karena haus dan minum juga, aku kebelet pipis yang nggak ketahanan. Sumpah kek menyesal, kenapa nggak ngosongin dulu sebelum jalan, hahaha.
Baca juga: Trip to Yogyakarta (1) – Berburu Sunset ke Klaten dan Prambanan untuk Pertama Kalinya
Nah, sudah dipastikan, pertama ke sana yang aku lakukan adalah pipis di sungai yang khusus MCK. Jadi buat yang mau menginap di Baduy Dalam, aku saranin pilih Jalur Travel, kenapa gitu? Hahaha, tiba-tiba banget?
Jadi gini, guys, open trip ini punya tour guidenya kenal banget sama Baduy. Kita dikasih tau yang betul-betul tentang Baduy. Bahkan salah satunya adalah orang Baduy Luar yang pernah tinggal di Baduy Dalam, namanya Pak Asmin.
Selain di kasih tau tentang perbedaan sungai mandi dan MCK yang berbeda, kita juga dapat Honje, ini adalah batang kecombrang yang biasa dipakai sebagai sabun mandi oleh Masyarakat Baduy Dalam. Kenapa pakai ini?
Karena salama di Baduy Dalam, selain nggak ada listrik, nggak pakai barang elektronik, juga nggak pakai bahan-bahan yang dapat mencemari lingkungan atau bahan kimia, salah satunya ya sabun-sabun yang biasa kita pakai nggak bisa dipakai di sungai. So, sebagai gantinya, kita dikasih Honje buat mandi.
Oh ya, aku kurang paham dengan open trip lain tapi, pas ketemu orang mandi di sungai mandi mereka pada nggak tau mau buang air di sebelah mana dan bingung karena nggak pakai sabun, sampai akhirnya salah satu peserta trip yang bareng aku kasih sisa Honje yang abis dia pakai buat mandi sore.
Meskipun trackingnya nggak berat, tapi ya namanya badan mungkin agak kaget karena nggak pernah tracking, malamnya kita balurin hot cream hahaha, manusia jompo ini tidur bermandikan hot cream, entah ya ini aslinya boleh nggak, nggak sempet nanya karena udah pegel banget, jadi langsung pakai aja.
Baca juga: Berkunjung ke Foreword Library, Perpustakaan yang Nyaman dan Gratis di Jakarta
Oh ya, open trip ini termasuk sarapan dua kali yang, asliii, enak banget masakan Ambu yang punya rumah, huhu, sayur asemnya sedepp bangett. Bahkan kalau kata yang lain, sambelnya juga enak meskipun nggak pedes.
Setelah makan, kita ngobrol sama Jaro, sebutan buat camat kalau di Baduy Dalam. Selama hampir satu jam lebih kita tanya jawab sama Jaro buat tahu lebih lanjut tentang Baduy Dalam. Ini juga kali ya kelebihan open trip jalurtrevel.id ini, beneran kita diwadahi dalam satu malam itu buat tahu tentang Baduy Dalam lewat orang sananya asli.
Nggak perlu pakai handphone untuk cari tahu ataupun direkam, kita cukup dengerin dan simak lewat pancaindera. Rumor-rumor atau apapun yang banyak diketahui oleh masyarakat luas tentang Baduy Dalam nggak selalu benar, ada yang salah dan akhirnya kita jadi tahu aslinya gimana.
Kalau kata salah satu tour guide kita, “Baduy Dalam bukan ketinggalan zaman, tapi mereka lagi berusaha menjaga”. Menjaga untuk tetap pada aslinya, nggak merubah apapun atau terkontaminasi oleh budaya-budaya luar.
Sebelum melanjutkan ke bagian dua, ini ada foto-foto perjalanan selama tracking di hari kedatangan.











Lanjut bagian dua di sini ya!
Baca juga: Baduy dan Cerita di Dalamnya (2)
—
–14Jan2025


Tinggalkan Balasan