Pada suatu kerajaan beberapa abad yang lalu, ada seorang Putri Hujan yang memberi emas putih dua puluh empat karat kepada temannya. Setahun kemudian, ia berharap temannya itu juga memberikan hal yang sama padanya. Namun, hingga hari berganti, semuanya tetap sama. Ia tak mendapatkan apapun. Ia kecewa.
— sihujan
Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman yang bercerita. Dari ceritanya itu aku terkesan untuk membuatnya menjadi tulisan. So, inilah dia.
Sampai saat ini aku masih keliru mengartikan kata pamrih. Apa itu pamrih? Apakah ketika aku memperlakukan orang lain dengan baik, aku pun juga ingin diperlakukan dengan baik oleh orang itu termasuk pamrih? Apakah hanya ketika kita memberikan bantuan lalu kita ingin mendapat imbalan dari perbuatan kita?
Ketika aku mengetik di KBBI online, jawabannya seperti ini. Pamrih adalah maksud yang tersembunyi dalam memenuhi keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Tambah bingung, deh. Lalu, apa itu pamrih?
Buatku dibandingkan kata pamrih, lebih suka menggunakan hubungan timbal-balik. Pamrih ada, namun, aku rasa hubungan timbal-balik lebih baik. Kita balik pertanyaanya dan menjadikan kita sebagai objek. Ketika kita mendapat perlakuan yang baik oleh orang lain, bukankah kita seharusnya juga memperlakukannya dengan baik pula?
Makanya, ketika aku memperlakukan orang dengan baik, menolong orang, atau berbuat kebaikan kepada orang lain, namun, orang itu malah memperlakukanku dengan jahat, aku rasa yang salah bukan aku, kamu atau kalian, tapi orang itu. Entahlah, aku menganggap seharusnya hubungan manusia memang tentang timbal-balik kan? Aku pun mencoba berpikir positif mungkin orang itu tidak mengerti konsep itu.
Lalu, ketika dihadapkan pada persoalan di Putri Hujan di atas itu, aku punya dua versi. Pertama, ini jawaban yang mungkin aku lakukan, karena pada dasarnya sifatku memang seperti ini. Ketika diberi emas putih itu atau hal lain yang membuatku terkesan, aku cenderung mengingat itu dan akan membalasnya nanti dengan balasan yang sama dengan apa yang mereka lakukan. Ini aku lakukan karena aku pikir ini bukan masalah balas-membalas, tapi aku juga ingin orang itu terkesan dan merasakan perasaan yang sama seperti yang ia lakukan padaku.
Kedua, ini jawaban logis sekaligus memberi semangat untuk Putri Hujan. Aku juga mungkin sama dengan dia. Sedih, tapi mencoba berpikir positif. Cara baiknya, kembali mensugesti diri untuk menekan rasa sedih atau kecewa. Berpikir bahwa orang itu bermacam warna-warni. Tidak semuanya harus sama seperti apa yang kita mau. Bisa juga orang itu tak terkesan dengan apa yang kalian berikan. Sebenarnya ini jawaban menyakitkan untuk menekan rasa kecewa, karena mungkin kalian melihat dia begitu terkesan tapi ketika kita berharap mendapatkan hal yang sama malah ia melengos.
Tapi mau bagaimana lagi, bagaimanapun orang memperlakukan kita dengan tidak baik, harapan yang terlalu tinggi pada orang lain pun juga tidak baik. Memang ya, kita dianjurkan ikhlas tanpa berharap apapun. Untuk pamrih, aku beranggapan itu tentang suatu hal jelak. Misalnya gini, aku akan berikan apapun untuk kamu, tapi nanti kamu bantuin aku pas aku ujian.
Mungkin jawaban ini hanya sekedar presepsiku yang mungkin berbeda dari orang lain di luar sana. Jadi, kalau ada yang kurang setuju, mungkin bisa meninggalkan komentar. Bagaimana pamrih versi kalian? Bagaimana tanggapan kalian tentang hubungan timbal-balik?
—
#Day4
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
—
-09Mei2019


Tinggalkan Balasan