Trip to Bandung – Nyobain Naik Kereta Lokal ke Bandung Cuma 20-ribuan!

stasiun bandung terbaru
Stasiun Bandung, Desember, 10, 2022

Setelah hampir lima tahun nggak ke Bandung naik kereta, akhirnya minggu kemarin wishlist setelah kerja tercentang, balik ke bandung naik kereta!! Yeayyy!! Beda nih, nggak seperti sebelumnya yang mencoba kereta eksekutif promo-an, sekarang mencoba ke Bandung naik kereta ala backpacker yang murah meriah, alias ke Bandung cuma 12 ribu cuyyy!!

Mungkin cara ini udah banyak dilakukan blogger atau penulis konten lain yang sudah menjajal perjalanan kereta api rute ini. Itu juga yang buat gue semakin penasaran dan akhirnya kesampaian bulan ini. Ada banyak pengalaman seru dan menyenangkan selama kurang lebih 3 hari 2 malam atau lebih tepatnya 2 hari dua malam, karena seharinya habis di jalan 😀

Baca juga: Trip to Bandung — Backpacker Seru di Pusat Kota Bandung

Dimulai awal bulan ini, tiba-tiba seorang teman memberikan kabar kalau dia ingin ke Bandung. Nah, ujug-ujug langsung aja tuh gue spontan ngajak ke Bandung bulan ini. Hari itu rencana, hari itu juga langsung cuss pesen hotel. Temen gue, namanya Nauroh, langsung kirim video toktok yang berisi hotel capsul unik dan murah di Bandung. Setelah liat-liat videonya, langsung jatuh ke Inap Capsule yang ada di Jalan Lengkong. Langsung DP hari itu hahaha. Nggak mikir banget 😀

Singkatnya, seminggu kemudian, gue ngambil cuti dua hari yaitu kamis dan jum’at. Perjalanan dimulai pukul 10 dari Stasiun Kebayoran ke Stasiun Tanah Abang untuk ketemu Nauroh dan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Cikarang. Sesampainya di Stasiun Cikarang sekitar pukul dua belas siang, kami langsung pergi sholat dan makan siang. Saat itu karena emang waktunya mepet, jadi dikejar waktu nggak pake babibu, bahkan mau beli snack aja nggak bisa haha.

Nah, perjalanan dari Cikarang ke Purwakarta naik Kereta Lokal Walahar Express jam 1 lewat 5 menit :” mepet banget kan? Dalam kereta ya seperti pada umumnya kami ngobrol, makan basreng, dari yang mulai mau hujan, sampai yang beneran hujan. Gue yang awalnya pakai sepatu langsung ganti sebelum turun di Stasiun Purwakarta. Setelah sampai sekitar jam 3-an, di Purwarkata keadaan gerimis dan kami sempat foto-foto depan stasiun, beli sempol, dan sholat, lalu langsung berangkat ke Bandung naik Kereta Lokal Garut Cibatuan.

Makin malem, udara semakin dingin, hujan juga belum berenti dan hampir menemani sepanjang jalan menuju Bandung. Dengan suasana dingin begitu, cuaca mendukung banget, beberapa kali kami bicara mau makan malem apa nanti dan hotpot jadi pilihan haha. Sebelumnya, gue pernah tanya ke salah satu kenalan orang Bandung tentang lokasi makanan terdekat dari Inap Capsule. Jawabannya yaitu ada street food di Jalan Lengkong.

Tepat adzan Isya, kami sampai di Stasiun Bandung 🙂 Nggak lama, langsung pesen mobil ojek online untuk ke penginapan. Pas menuju penginapan, ternyata beneran itu jalan ada di depan gedung Apartment Inap Capsule. Karena sebelumnya kami udah tau mau makan hotpot, eh pas nggak jauh dari belokan ke arah penginapan, logo hotpotnya terlihat dan kami langsung excited 😀

Malam itu, setelah menaruh barang dan bersih-bersih, kami keluar untuk melihat berbagai makanan yang ada di Street Food Jalan Lengkong. Ada banyak banget, semuanya dimauin, tapi tujuan utama tetap hotpot haha. Abis makan balik ke penginapan kami mampir dulu, ikut ngantri buat photobox haha. Oh ya, ini street food panjang banget ya. Beneran kaya satu gang sepanjang jalan orang jualan dan penginapan kami di salah satu ujung jalannya haha.

Itulah perjalanan di hari pertama yang banyak kami habiskan di kereta. Ya begitulah namanya juga nyoba kereta murah jadi bukan prioritas haha. Besoknya akan ada perjalanan seru kami di beberapa tempat di Bandung. Tapi izinkan gue berbagi pemandangan dari Hotel Inap Capsule tempat kami menginap. Indah banget ya pemandangannya.

Hari Kedua: Rutenya mulai dari Braga, makan siang di Warung Makan Bu Imas, sholat di Masjid Agung Bandung, sampai keliling kota naik Bandros (Bandung Tour on Bus)

Pagi hari di Bandung dimulai dengan mie instan, teh, beserta udara Bandung abis hujan hahaha. Rencana kami hari itu akan ke daerah Braga buat nyobain satu toko roti dan kopi, lanjut makan siang ke Warung Makan Bu Imas dan sholat zuhur di Masjid Raya. Perjalanan menuju Braga kami pilih naik ojek online motor biar bisa menikmati udara Bandung daripada naik yang mobil. Tapi… ternyata yang datang perempuan, kaya nggak biasa aja dapet ojek online perempuan, dua-duanya pula bukan gue doang. Diperjalanan excited sambil bikin video, lalu hampir ada insiden di perempatan Braga haha. Alhamdulillah nggak apa-apa ya 🙂

Pas awal datang masuk ke Braga City Walk, ternyata masih sepi, baru beberapa toko aja yang sudah buka. Akhirnya kami keluar dan muterin jalan Braga sampai akhirnya memutuskan ke Kopi Toko Djawa. Ke toko kopi tapi bukan beli kopi dan nyobain roti yang mereka jual. Rasa roti cinnamon roll yang gue beli enak, minumannya asem karena lemon atau jeruk nipis. Tapi buat pengalaman ngopi lumayan bagus karena didukung tempatnya yang ada sentuhan klasik seperti rumah lama. Bahkan ada piano yang bisa kita jadikan spot foto haha.

Selanjutnya menjelang zuhur, kita berencana makan siang ke Warung Bu Imas. Kenapa makan dulu? Karena hari itu Hari Jum’at, jadi mikirnya masjid pasti masih dipakai orang Sholat Jum’at, jadi ya kami makan dulu aja. Perjalanan ke Warung Bu Imas jalan kaki dari Braga lumayan jauh sih, walaupun kayanya cuma lurus, belok, lurus, belok lagi, ya itu sih namanya jauh ya wkwk.

Pas nyampai warungnya, gilaaa, ramee bangett. Sampai mikir, bakal dapet tempat nggak ya. Ternyata dari depannya kecil dan penuh, pas masuk lebar banget dan makin ramai. Setelah melewati lorong-lorong seperti rumah yang disekat, kami dapat di bagian ujung dan pas banget sesuai yang kami mau, lesehan. Jadi di Warung bu Imas ini ada pilihan lesehan dan pakai meja makan ya. Sebelum nyari tempat, kami sudah ambil menu dan kertas buat mesan. Sayangnya di kertas menu nggak ada tulisan harga, jadi kami nggak tau kisaran harga, dan memutuskan beli menu ayam bakar dan nasi, tak lupa juga minumannya.

Baca juga: Trip to Solo — Dari Belajar Hingga Bermain. Seru!!

Nggak lama, minuman dan lalapan beserta sambalnya datang duluan. Kami dapat dua sambal, yang pertama sambal terasi, yang kedua sambal lenca(?). Lucunya pas kami aduk-aduk sambal lenca, langsung ngomong, “nggak suka lenca”, “kanyanya nggak enak” “keliatannya aneh”. Bahkan Nauroh mau nyuruh orang buat ngambil itu sambal. Sampai akhirnya ternyata itu malah jadi favorit hahahaha. Karena ramai kami nunggu pesanan agak lama, bukan agak sih, tapi lama yaaa… itu air teh manis hangat dari yang ngebul sampai dingin haha.

Ayam bakarnya penuh warna hitam seperti penuh kecap dan memang rasanya hampir nggak jauh beda dari penampakannya. Ini dia main dishnya, sambal lenca. Wahh gilaa, kuah sambalnya enak dan nggak terlalu pedes. Awalnya gue kira bakal bau pedes atau bau apa, tapi ya ketutup sih kalo makan pakai nasi dan ayamnya. Pas rapi makan, ngomong “untung nggak jadi balikin tuh sambal” wkwk. Ini dia penampakan makan siang kami!

Makan siang di Warung Makan Bu Imas Bandung yang terkenal!

Kami memang sudah melihat area luar warung ini rame dengan berbagai penjualan makanan maupun minuman. Mungkin pas banget juga sama orang balik sholat Jum’at dan makan siang buat yang kerja, jadi berasa ramenya. Lalu, karena abis makan dan kayanya capek juga ya tadi jalan jauh. Akhirnya kami memutuskan naik becak yang mangkal di dekat pertigaan. Naik becak 25 ribu sampai ke Masjid Agung. Yeayy!!

Oh ya, sebelum lanjut. Jadi ya, terakhir ke Bandung dan rencana perjalanan ke Masjid Agung, gue lagi nggak sholat. Terus, sekarang padahal gue udah senang dari pagi pas berangkat bakal sholat di sana, eh ternyata pas di toko kopi, gue malah ketauan nggak sholat. Jadi… lagi-lagi gue cuma bagian nemenin doang 🙂

Selesai Sholat, kami sempat foto-foto dan udaranya nih sudah berasa kaya mau hujan. Adem dan nggak sepanas pas kami berangkat tadi dan selama jalan kaki ke tempat makan. Oh ya, pas mau balik, kami merubah rencana perjalanan yang harusnya sudah balik ke penginapan, tapi kami malah naik bandros atau Bandung Tour on Bus. Awalnya, kirain bakal kaya yang bus tingkat di Jakarta yang gratis, ternyata bayar haha.

Walaupun bayar, kami sama sekali nggak menyesal karena bisa muterin kota Bandung sekali jalan haha. Asik banget sih meskipun nggak berhenti dan turun mobil tapi tour guidenya jelasin beberapa tempat yang kami lewati dengan seru. Berasa kaya naik tj aja muterin Jakarta, ini muterin kota Bandung. Ini dia beberapa tempat yang berhasil gue foto:

Pas banget kami balik ke Masjid Raya, pas banget hujan turun. Untungnya bukan pas kami di bandros, soalnya liat bus kebuka, pasti bakal riweh kalau hujan. Pukul tiga atau empat sore kami jalan sambal payungan ke penginapan. Jalan kaki lagi, btw. Kayanya frekuensi gue jalan pas liburan kemarin banyak banget tuh haha. Sampai di penginapan, sebelum naik ke Inap Capsule lantai 19, kami beli coffe bean dulu di Alfa yang ada di bawah Apartmentnya. Perjalanan hari itu nggak sampai di situ ya. Malamnya kami rencana keluar jam 9 malam buat makan malam. Kali ini, pilihannya jatuh ke makanan Jepang yaitu Ramen.

Kalau dipikir-pikir, selama di Bandung, kenapa nggak nyobain makanan khas sana ya… kaya seblak, mie kocok, atau apa gitu ya, malah makan hotpot dan ramen, makanan yang rekomendasi dari orang Bandungnya cuma makan siang yang di Warung bu Imas… hahaha

Baca juga: Trip to Pulau Seribu — Murah Meriah Mengunjungi Pulau Harapan dan Pulau Kelapa

Hari Ketiga-hari terakhir: Nggak boleh ketinggalan beli oleh-oleh khas Bandung, panic ketinggalan kereta 😀

Pagi hari kedua atau hari ketiga di Bandung, dimulai kembali dengan segelas air hangat. Udara Bandung masih sejuk lepas hujan kemarin dan nampak gunung yang pagi kemarin tidak terlihat. Dari semalem juga kami penasaran, gunung apa yang kami lihat dari penginapan itu. Tak hanya itu, kami juga sempat mencari pasar atau tempat oleh-oleh, dan pagi ini kembali kami bicarakan. Haha. Ternyata tidak jauh dari penginapan ada Pasar Kosambi. Kalau dari informasi google ada berbagai oleh-oleh khas Bandung yang dijual.

Jaraknya nggak terlalu jauh dan masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. So… setelah minum teh kami langsung jalan ke sana sekalian mencari makan pagi. Bandung sabtu pagi nggak terlalu ramai, kalau di Jakarta mirip-mirip suasana minggu pagi haha. Setelah makan dan membeli oleh-oleh, kami balik ke penginapan untuk mandi dan bersiap untuk pulang.

Nah, ada cerita lucu diperjalanan pulang ini. Kemarin balik dari naik Bandros dan menunggu waktu makan malam, kami memutuskan untuk balik ke Jakarta naik kereta seperti perjalanan berangkat. Meskipun kalau dilihat dari waktu pindah kereta akan lebih mepet karena nggak sampai satu jam. Sudah tuh, kami check out abis zuhur, nyari makan siang lalu menunggu keretanya.

Ternyata, di dalam stasiun sudah ramai banget. Beda sama perjalanan pas berangkat yang lebih sepi baik di kereta maupun di stasiun. Naik kereta pertama, Garut Cibatuan agak bikin panik karena kami nggak tau ada apa, itu kereta mundur mulu beberapa kali. Paniknya bukan karena takut keretanya kenapa-napa, tapi takut ketinggalan kereta yang Purwakarta-Cikarang. Mana ramai banget suasananya. Aduh agak riweh banget pas balik tuh.

Sudah nyari alternatif, gue bahkan ngecek bis coba… ternyata pas nanya ke penumpang di depan kami, kereta Garut Cibatuan bakal ganti nama jadi Walahar Express ketika sampai di Purwakarta. Jadi ibaratnya masih kereta yang sama cuma ganti nama aja. Jadi, oke kami nggak perlu panik berarti. Nah, sampai di Purwakarta, kami nggak bisa langsung naik karena mesti tap out keluar dulu. Karena persediaan minum abis, gue bagi tugas sama Nauroh. Dia jaga antrian gue lari beli minum. Itu mepet banget waktunya, mana orang yang mau naik juga banyak. Mau nggak mau ya rebutan 🙁

Sampai di Stasiun Cikarang niatnya mau mampir ke Manggarai, tapi nggak jadi karena udah keburu capek haha. Balik ke rumah gue, karena Nauroh mau menginap dulu semalem. Sampai di rumah sekitar pukul 10-an kayanya, dan sudah pesan nasi goreng haha

Itulah perjalanan tiga hari dua malem yang menyenangkan. Buat gue menyenangkan sih :”. Meskipun keliatannya gitu-gitu aja, tapi yang namanya perjalanan dan momen pertama memang selalu berkesan. Pengen balik lagi, pengen ke sana lebih lama lagi, seminggu kali ya haha. Kaya belum puas tapi sudah harus balik. Nanti tahun depan balik lagi lebih sering, InsyaAllah.

—

-30Desember2022



7 responses to “Trip to Bandung – Nyobain Naik Kereta Lokal ke Bandung Cuma 20-ribuan!”

  1. Niatnya cari jodoh orang Bandung, ini orang Bandungnya malah ke Korea :’)

  2. […] Baca juga: Trip to Bandung – Nyobain Naik Kereta Lokal ke Bandung Cuma 20-ribuan! […]

  3. […] Baca juga: Trip to Bandung – Nyobain Naik Kereta Lokal ke Bandung Cuma 20-ribuan! […]

  4. […] Baca juga: Trip to Bandung – Nyobain Naik Kereta Lokal ke Bandung Cuma 20-ribuan! […]

  5. […] Baca juga: Trip to Bandung – Nyobain Naik Kereta Lokal ke Bandung Cuma 20-ribuan! […]

  6. […] Baca juga: Trip to Bandung – Nyobain Naik Kereta Lokal ke Bandung Cuma 20-ribuan! […]

  7. […] Baca juga: Trip to Bandung – Nyobain Naik Kereta Lokal ke Bandung Cuma 20-ribuan! […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca