“Once a year, go someplace you’ve never been before.” – Anonymous
Seperti itulah mimpiku setiap tahunnya. Sesederhana pergi ke rumah teman yang belum pernah dikunjungi. Tak berubah banyak, sih. Tapi setidaknya ada satu hal baru dan tempat baru yang memang belum pernah aku kunjungi. Entah itu seperti halnya kamu menemukan suatu pelajaran dan melukiskan langkah kakimu di sana. Beberapa tahun kemudian kamu akan melihat tempat mana saja yang sudah pernah kamu kunjungi.
“You don’t have to be rich to travel well.” – Eugene Fodor
Itu juga yang akhirnya mendasari gue buat berani pergi ke tempat baru ya walaupun dengan biaya yang murah. Sebisa mungkin mencari yang murah dan terjangkau. Kali ini gue memilih pergi ke sebuah kota yang belum pernah gue datangi sebelumnya, Solo. Kota yang ketika gue ke sana, gue tahu bahwa kota itu kecil. Sama seperti pengemudi mobil di aplikasi online yang gue pesan kala itu. “Solo itu kota kecil.”
Awal Februari gue mengurus semuanya. Dari tiket kereta sampai bayar untuk penginapan. Kali ini gue pergi bertiga dengan teman kuliah, Karmilah dan Yesi. Jadwal berangkat tanggal 13 Februari jam lima sore dan pulang tanggal 16 Februari jam enam sore.
Mulai dari jam dua siang tanggal 13, gue sudah berangkat ke Stasiun Kebayoran untuk nanti naik KA Brantas dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Solojebres. Singkat cerita ini lah beberapa foto dari mulai menunggu kereta si Stasiun Pasar Senen sampai diperjalanan menuju Solo.




Setelah kurang lebih sembilan jam, kami akhirnya sampai di Stasiun Solo Jebres sekitar jam 3 malam tanggal 14 Februari.

Karena kami check-in hotel jam 2 siang akhirnya kami memutuskan untuk menunggu di stasiun hingga subuh. Namun, belum sampai subuh kami sudah diusir alias tidak boleh menunggu sampai subuh dan disarankan untuk menunggu di masjid belakang pasar yang ada di samping stasiun.
Kami saat itu bersama seorang ibu-ibu yang akan pulang ke Klaten akhirnya berjalan ke masjid dan solat subuh di sana. Setelah solat subuh gue tidur-tiduran di masjid itu, sebenarnya nggak tidur-tiduran tapi tidur beneran dan bangun sekitar jam tujuh. Gue mengajak Karmilah dan Yesi untuk jalan-jalan melihat pasar sekalian nyari sarapan. Karena Yesi masih ingin tidur, akhirnya gue dan Karmilah aja yang jalan. Di pasar samping stasiun itu kami akhirnya mendapatkan sarapan dan sebungkus susu madu segar.
Menjelang siang masih dengan tas berat yang kami bawa, kami akhirnya memutuskan untuk ke Monumen Pers Nasional. Inilah beberapa foto yang sempat gue foto di monumen ini.






Setelah puas berkeliling dari lantai bawah sampai ke perpustakaan monumen ini, dan foto-foto di lorong ungu yang terdapat bingkai koran lama, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pura Mangkunegaran. Oh ya, masuk Monumen Pers ini gratis lho ya. Kalian hanya perlu mengisi data diri di komputer yang ada di meja resepsionis.
Berbekal informasi yang kami tanya dari penjual di depan Monumen Pers, kami pun berjalan kaki menuju Pura Mangkunegaran. Sesampainya di sana, kami langsung diarahkan ke loket oleh satpam yang kami temui di depan gerbang. Per orang dikenakan biaya 10 ribu dan ditemani seorang guide yang nanti kam bayar seikhlasnya alias tidak ditentukan, jadi mau kasih berapa aja terserah. Nah ini dia foto-foto saat di Pura Mangkunegaran.









Lepas dari Pura Mangkunegaran, kami langsung menuju penginapan di daerah Keprabon. Setelah itu kamu menghabiskan hari itu di sana karena lelah dan juga Solo yang sore itu diguyur hujan. Kami juga akhirnya memesan makanan lewat aplikasi online karena memang hujan deras.
Setelah Isya, sekitar jam tujuh kami pergi keluar untuk mencari makan. Gue yang penasaran dengan Galabo pun akhirnya mengusulkan ke sana. Nah ini dia suasanya di Galabo yang ternyata berbeda dengan apa yang gue pikirkan, ya karena pikir gue tempat itu mirip Malioboro di Jogja cuma kayanya beda. Gue juga nggak tau pasti Malioboro kaya apa karena memang belum pernah ke sana.

Gue di sana memesan Tengklek Klewer dan ya rasanya lumayan sedap hehe. Tengklek itu semacam iga kambing gitu.
Hari selanjutnya, tanggal 15 Februari, kami berencana untuk mengunjungi daerah Tawangmangu. Awalnya ingin ke Air Terjun Jumog dan Candi Sukuh. Tapi karena mendapat informasi dari pengemudi mobil online yang kita pesan untuk ke Terminal Tirtonadi akhirnya kami memutuskan merubah arah yaitu ke Air Terjun Grojogan Sewu dan Taman Balekembang.
Menuju daerah Tawangmangu, kami naik bis jurusan Solo-Tawangmangu Langsung Jaya. Kami dikenakan tarif 15 ribu per orang. Perjalanan ke sana ditempuh kurang lebih dua jam. Gue suka banget ketika sudah masuk daerah pedesaan menuju naik ke Tawangmangu. Suasana adem dengan banyak sekali padi yang ada di kiri-kanan jalan. Anginnya juga mulai sejuk walaupun hanya merasakan dari jendela bis. Jalan menuju ke sana juga seperti di puncak, meliuk-liuk. 😀

Sampai di Terminal Tirtonadi kami langsung naik mobil angkot yang seperti mobil pribadi untuk menuju lokasi tujuan. Namun, karena menunggu mobil penuh kami akhirnya ditawarkan untuk langsung saja alias hanya kami bertiga aja yang diantar dan dikenakan biaya 40 ribu untuk bertiga. Kami mengiyakan lalu diperjalanan kami bertanya tentang Taman Bale Kembang. Menurut sopir angkot itu, kami akhirnya mengunjungi Bale Kembang dahulu, baru nanti turun ke Air Terjun Grojogan Sewu.
Masuk Taman Bale Kembang kami dikenakan biaya sebesar 20 ribu dan itu sudah diberikan 1 voucher potongan 5 ribu rupiah di wahana yang tertera dalam vouceher serta gratis satu ice cream yang dapat ditukar dari tiket masuk kami. Di taman ini memang ada miniatur ikon negara-negara seperti Menara Eiffel yang bisa kami foto. Setelah itu kami keluar lewat pintu belakang dan membeli beberapa oleh-oleh di tempat penukaran ice cream. Inilah beberapa foto kami di Taman Bale Kembang.





Setelah menukar tiket dan mendapatkan satu buah ice cream gagang berwarna pink, kami sebelumnya sudah menanyakan lokasi untuk ke Air Terjun Grojogan Sewu dan kami berjalan turun sesuai arahan dengan memakan ice cream itu. Padahal suasana dan udara seperti mau hujan dan hidung pun sudah tanda-tanda mau pilek, tapi tetap dimakan ice cream -nya karena enak hehe.
Baru beberapa langkah kami menemukan ada monyet liar dan warga yang melihat mengatakan untuk menghabiskan ice cream terlebih dahulu alias jangan sambil makan, karena nanti menarik perhatian si monyet.
Setelah menghabiskan ice cream kami melanjutkan perjalanan, hingga sesuatu hal tak terduga terjadi. Gue abis buat snapgram si monyet yang ada di sebelah kanan gue. Setelah merekam gue lagi fokus liat rekaman, tiba-tiba Karmilah yang berjalan tak jauh di sebelah kiri gue langsung teriak. Nengok dong itu semua. Gue nengok dan ikutan teriak manggil Karmilah. Ternyata tau nggak?
Goody bag biru punya gue yang dipakai Karmilah ditarik sama monyet yang gue videoin itu. Bapak-bapak yang ada di sana juga ikut mengusir monyet itu. Si monyet lalu lari ke atas genteng rumah atau apa dengan membawa satu kresek permen yang masih banyak -_-
Lalu karena keadaan masih tegang dan masing-masing masih takut ketemu monyet lagi akhirnya kami memutuskan untuk makan siang dulu sekalian mendiamkan pikiran wkwk
Lepas itu, kami persiapan dengan menitipkan goody bag biru dan barang-barang yang tak perlu dibawa turun untuk dititipkan ke warung tempat kami makan. Lalu barang penting semua dimasukin ke dalam tas gue yang akhirnya jadi berat banget itu. Lalu kami membayar tiket masuk seharga 16 ribu rupiah dan mulai turun melewati anak tangga untuk menuju air terjun.
Sesampainya di bawah yang kami niatnya ingin solat di bawah malah tak jadi karena ketika kami sampai langsung di sambut dengan sekumpulan monyet yang mendekati musola alias kita juga yang masih berada di depan musola -_-
Akhirnya kami kembali berjalan lagi untuk turun ke sumber air terjun. Dan inilah foto-fotonya.






Selanjutnya, kami pun kembali, dan memutuskan untuk kembali ke Terminal Tirtonadi dengan berjalan kaki lewat jalan kampung 😀
Sesampainya di Terminal, langsung hujan deras banget yang juga menyebabkan kabut turun. Di perjalanan pulang pun nggak bisa tidur walaupun ngantuk sekali. Sampai di penginapan, malam harinya gue sebelum jam sembilan udah tepar karena ngantuk dan kaki pegel cuyy…
Esok harinya, tanggal 16 Februari, hari terakhir kami pun bersiap packing untuk check-out jam 12 siang. Hari itu, kami mengunjungi Kampung Batik Kauman hanya melewati sih ya, lalu melanjutkan ke Pasar Klewer. Saat sampai pasar masih sepi dan banyak toko yang belum buka, hanya yang sudah ramai bagian kantin. Kami pun makan pagi dulu disalah satu tempat makan itu. Lalu melanjutkan keliling pasar mencari oleh-oleh.
Setelah itu, kami pun keluar dan singgah sebentar untuk melihat Masjid Agung Surakarta. Inilah foto-foto kami dari mulai pasar sampai masjid.








Jika diurut, singkat memang. Tapi, cukup berkesan kok. Banyak banget pelajaran yang bisa gue ambil dari perjalanan ke Solo ini. Banyak banget hal baru yang gue tahu dari kota ini. Ya akhirnya gue tau….
Di hari kedua gue di sana gue berpikir, mungkin gue harus balik lagi ke sana karena satu hal yang tak bisa gue jelaskan. Intinya, gue merasa bersalah karena liburan ini yaa….. gitulah ya. hehe
“If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home.” – James Michener
Jika Kamu menolak makanan, mengabaikan adat istiadat, takut dengan agama lain dan menghindari orang-orang, sebaiknya Kamu duduk manis saja di rumah.
Kata-kata cantik untuk kalian yang ingin pergi jalan-jalan ke tempat baru. Semoga perjalanan kalian membawa kebahagaian juga. 🙂
—
-20Feb2019


Tinggalkan Balasan