Alunan pemberitahuan kereta dan elusan angin menyapaku kala pintu kereta yang kunaiki terbuka. Mataku langsung menyipit dan mengangkat tangan menghalau cahaya matahari yang cerah pagi ini. Tampaknya matahari pun bersahabat denganku yang kali ini memulai hari dengan mood yang jatuh. Senin. Hari yang mungkin paling dibenci banyak orang. Termasuk aku. Kekesalanku pun meningkat mengingat apa yang terjadi kemarin. Bagaimana bisa hari liburku harus diisi dengan serangkaian tugas tak masuk akal dengan deadline yang hampir menyekik leherku. Menuruni anak tangga Stasiun Tanah Abang, aku mulai terdorong pelan oleh beberapa manusia yang terburu. Mungkin sudah telat masuk kantor. Sepertiku.
Anehnya, aku malah tak berniat lari atau setidaknya berjalan cepat. Jalan pelan seperti biasa. Takku pedulikan gajiku terpotong karena telat, atau mulut pedas perempuan dengan lensa ungu menyala yang akan memberikan ucapan selamat datang. Tepat di depan pintu masuk stasiun, langkahku terhenti. Mengangkat handphone lalu mengecek tukang ojek online yang kupesan. Tak lama, muncul sebuah motor beat merah lengkap dengan pengemudi berjaket hijau khas ojek online. Setelah menerima helm dan memakainya dengan aman, aku menaiki motor tersebut dan menjauhi stasiun.
Selama perjalanan, pikiranku mengelana. Pada saat awal masuk kuliah, saat masuk kantor ketika magang, sampai saat masuk kantor tempatku bekerja saat ini. Semuanya, hampir terasa seperti air mengalir yang tenang. Namun, aku tahu, aku tahu diriku menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Hanya diriku yang tahu kapan itu akan mengacaukan hidupku bahkan orang-orang terdekatku. Abang ojek online masih mengemudi motornya. Pelan sekali dan terasa penuh kehati-hatian. Tak ada inginku untuk berucap minta cepat meskipun ku ingat betul sudah terlalu telat untuk datang ke kantor.
“Hah, biarkan saja”, pikirku.
Izinkan aku untuk merenungi ini. Tentang hari-hariku, tentang pekerjaanku, tentang masalahku, ataupun tentang keinginanku yang tak bisa terucap dengan jelas tapi makin lama makin terasa besar. Ingin mengeluh pun rasanya tak benar. Iya, apa yang harus dibenarkan dari suatu hal yang memang menjadi keputusanku? Tapi… ya muncullah si sisi lain yang mulai nggak bisa diam. Mulai berani berkomentar, tapi tetap tak bisa langsung terucap, jelas karena sisi pengecutku masih tersimpan rapi di sana.
Dari jauh kulihat gedung kantor tempatku bekerja. Dengan iringan suara motor beat abang ojek online makin terlihat gedung yang telah menjadi tempat singgahku selama hampir dua tahun ini. Tepat di depan pagar, motor berhenti. Setelah memberikan helm yang sepanjang jalan kupakai, aku memasuki gedung bercat hijau ini.
Lobby sepi dan lengang. Hanya suara alat masak yang digunakan toko roti di lantai ini yang terdengar. Menguarkan bau roti yang menggelitik indera penciumanku. Nampaknya sebagian karyawan telah berada di posisinya masing-masing untuk mendedikasikan diri pada perusahaan ini. Setelah sampai depan lift, ku tekan tombol panah atas dan menunggu lift hingga tak lama suara dentingan terdengar. Mengambil satu langkah, kutekan tombol angka yang akan membawaku menuju tempatku berperang.
Sambil bergumam mengikuti lagu milik salah satu grup kpop favoritku, kotak besi ini mulai bergerak. Tak lama suara dentingan kembali terdengar dengan iringan pintu di depanku yang mulai terbuka. Menghembuskan pelan, ku langkah kakiku dan siap berperang.
—
Belum juga duduk, dan baru selesai membuka kardigan, belum selesai aku menaruh tas kerja di laci, derap langkah kaki seseorang datang dengan pesan penting yang mengintrupsiku. Pesan itu berisi ajakan alias suruhan untuk mendatangi satu-satunya ruangan yang tepat di tengah ruangan ini. Setelah melihat anggukan kepalaku, perempuan yang lebih muda dariku itu bergegas kembali menuju meja kerjanya. Menyisir kembali dengan pelan rambut yang sudah kurapihkan tadi di dalam lift, ku tarik napas pelan-pelan dan mengeluarkannya lewat mulut. Ini cara biar nggak naik pitam kalau beneran bakal kena semprot. Tapi, masalah nantinya gimana ya kita lihat saja, hahaha.
—
Ruangan berukuran 2×1 meter ini ramai, alias berisik. Padahal ruangan ini hanya berisi aku dan si perempuan berlensa kontak ungu yang sejak 15 menit lalu tak berhenti mengoceh. Ucapan itu seperti air ngalir yang lewat telinga kiri dan keluar lewat telinga kananku. Menemaninya mengoceh, pikiran dan hatiku ikut melatunkan sumpah serapah yang terasa pahit jika kukeluarkan. Tapi nampaknya perempuan di depanku tak akan berhenti mengoceh, membuat lantunan sumpah serapahku makin kotor. Entah dorongan dari mana, aku menyelinap di tengah-tengah ia mengambil napas.
“Udah?” tanyaku. Dia terdiam dan menghentikan aktivitasnya membalik-balik kertas, lalu menatapku dengan dahi mengerut. Mungkin bingung dengan reaksi tak biasaku yang selalu diam dan seperti anak baik yang penurut. Nyatanya selama dua tahun menjadi anak buahnya, dia belum mengerti bahwa, dibalik ketenanganku, ada bom yang sudah ku simpan lama dan sepertinya siap meledak hari ini.
Kuperbaiki tempat dudukku, sambil menyilangkan tangan aku mengangkat kaki kanan dan kutaruh menumpu pada kaki kiri, serta merta menegakkan tubuh. Tak lupa ku dekatkan diri pada meja panjang yang menjadi pembatas percakapan panas ini, dengan senyuman seringai kapas, “Kalau belum, lanjutin aja. Tapi, saya berterima kasih, satu alasan lagi dari banyaknya alasan untuk keluar dari sini.”
Kulihat dia menutup berkas di tangannya. Berdeham pelan, ia lantas memperbaiki tempat duduknya dan melanjutnya ocehannya. Kini bukan lagi tentang kinerjaku yang ia kritik, bukan lagi tentang keterlambatanku, bukan lagi tentang projek yang ku tangani, tapi tentang dirinya yang katanya mengajariku banyak hal, memberiku banyak kesempatan menangani proyek besar, hingga jasa-jasa lainnya yang mungkin dapat membuatku bertahan di sini.
Ku hembuskan napas, pelan lalu tanpa pamit berdiri dan meninggalkan ruangan itu dengan iringan teriakan nyaring wanita yang hampir seusia abangku. Aku jamin suaranya mungkin akan terdengar keluar. Terlihat tak sopan tapi sungguh, aku muak. Aku sudah tak tahan dengan diriku yang setiap hari memaksa untuk tetap tinggal tetapi pikiran dan hati menginginkan pergi. Tak tahan dengan keadaan tak enak dan terlihat baik-baik saja. Karena jelas, meskipun gue seperti kelinci penurut yang lemah, ada macan yang siap keluar dari tempat dia tidur. Dengan tergesa ku arahkan kaki hingga meja kerjaku. Mengambil kembali tas yang ada di laci lalu membawa barang-barang yang tadi sempat ku keluarkan lalu, menenteng tas menuju lift. Cukup. Sudah cukup aku di sini. Kini, saatnya merpati keluar dari sarangnya.
—
-14Desember2021

Tinggalkan Balasan