Terkadang, Kita Butuh Diam Daripada Bercerita

Dulu, aku pikir bercerita jadi salah satu cara buat mengurangi masalah yang kita punya. Mau si pendengar memberi saran atau tidak, yang penting kita cerita dan ngeluarin semua kekecewaan, kebahagian, atau bahkan kemarahan. Nyatanya, semua tak lagi sama.

Terkadang kita butuh diam saja dan resapi kekecewaan ini sendiri. Terkadang kita butuh menyimpan kebahagiaan kita sendiri disaat orang sekitar kita terluka. Terkadang melampiaskan amarah bisa jadi titik awal kita berantem dengan si pendengar yang tak tau apa-apa.

Kali ini, kekecewaan yang aku dapatkan nggak bisa aku bagi. Awalnya memang karena tak ada respon disaat aku butuh respon. Tapi akhirnya aku sadar bahwa respon mereka pasti sama. Lelah dengan respon yang sama, karena kita pun sudah tau kita harus apa untuk memperbaiki kekecewaan ini.

Tapi ini jadi kaya titik balik buat aku diam. Karena banyak bercerita juga cape. Karena banyak bercerita juga jadi susah move on. Karena banyak bercerita juga belum tentu mereka empati dengan apa yang dirasakan.

Diam tetap jadi pilihan kan disaat capek bercerita? Disaat tak ada gunanya bercerita? Disaat tak ada yang peduli!

-9Mar2020



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca