Sebelum kita mulai, coba jawab di kolam komentar, kamu tim angkutan umum (Transjakarta, kereta, angkot, MRT/LRT) atau tim kendaraan pribadi?
Nah, beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bertanya, “Lu kan bisa naik motor, Ga. Udah punya SIM juga, kan? Motor yang biasa lu pake juga ada kan, maksudnya nggak dipake sama ayah lu atau orang rumah, kenapa malah naik Transjakarta (selanjutnya ditulis TJ)?”
Sebenarnya itu bukan pertama kalinya aku mendengar pertanyaan itu, udah beberapa kali. Cuma ya, aku lupa sih siapa aja yang nanya hehe 😀
Sebenarnya, pas pertama kali denger pertanyaan ini aku bingung mau jawab apa. Karena awal-awal aku memutuskan untuk naik TJ itu karena takut kecelakaan atau bisa juga dibilang takut mati. Iya sehoror itu alasannya. Aku ingat banget, setelah ban bocor dan mengharuskanku mendorong motor yang lumayan jauh, aku takut akan ada kejadian itu lagi, motor mogok, bensin abis, tiba-tiba motor mati atau yang paling parah kecelakaan motor.
Karena aku nggak punya teman perempuan atau laki-laki yang bisaku telpon secara dadakan dan bisa menjemput secara dadakan juga kaya yang di wattpad-wattpad, alias aku selama ini bergantung pada hal-hal kaya gitu hanya pada ayah, so, aku putuskan akan naik TJ saja, karena nggak mau tiba-tiba nelpon ayah yang lagi kerja atau malah nangis dipinggir jalan. :'(
Tapi, selama setahun alasanku berubah. Setiap mau ke kampus setidaknya harus menyiapkan sejam untuk diperjalan. Berarti mau nggak mau, aku harus udah bangun sejam sebelum jalan, alias dua jam sebelum kuliah dimulai. Ya namanya perempuan, secepat-cepatnya kayanya butuh waktu paling lama sejam apalagi kalau kuliah pagi, harus beberes dulu sebelum berangkat. Kecuali yang udah ngaret banget, bisa lima menit keknya doang buat ke kampus.
Dibalik keselnya TJ yang suka lama, sopir yang jalannya pelan banget, atau penumpang lain yang rese, ada saat-saat di mana aku senang melihat ke arah jalanan dari balik kaca TJ. Saat itulah, pikiranku berkelana bebas. Memikirkan banyak hal. Berhayal sebuah jalan cerita yang kadang romantis, bahkan sampai jalan cerita yang ekstrim sekalipun. Mengingat apa saja yang sudah kulakukan. Menimbang harus mengerjakan yang mana dulu ketika tugas kuliah banyak. Mencoba berpikir lewat sudut pandang orang lain ketika aku berpikir dia jahat. Kadang mengingat kejadian lampau yang bikin kangen sama suasananya, orangnya. Banyak hal, banyak sekali.
Walaupun tubuh dan mataku hanya bertumpu pada satu titik atau terkadang berpindah hanya untuk melihat hal lain, nyatanya pikiranku memang sudah jalan kemana-mana. Atau ketika sedang masanya ujian, entah UTS atau UAS yang soalnya essay, aku lebih bersemangat jalan lebih awal karena mikirnya bisa sekalian baca-baca di TJ walaupun lebih sering nggak bisa dilakuin karena rame banget dan nggak dapet tempat duduk.
Tapi kalau kelas pagi, sejujurnya, kalau sedang masa ujian memang enaknya jalan lebih awal karena udara masih segar, TJ yang kearah lebak bulus masih sepi dan ya kadang malah bukannya baca-baca malah tidur atau pejamkan mata mikirin yang lain. Ahh, aku emang aneh. Ketimbang menggunakan kendaraan pribadi yang buatku bisa mengundur jadwal berangkat dan lebih lama di kasur, aku malah pengen cepet-cepet jalan supaya moodnya bagus pas ngerjain ujian.
So, aku memilih tim angkutan umum alias TJ karena aku bisa berpikir secara bebas tanpa takut akan kenapa-napa hehe. Sejujurnya, aku kangen naik TJ, nggak tau juga apakah masih bisa naik TJ atau nggak, mengingat keadaan sekarang ini. :’(
Kalau kalian, apa alasan kalian milih tim itu?
—
btw, ini dalam sejam ngepos dua tulisan karena tadi nulisnya juga, Alhamdulillah langsung dapat dua tulisan, hehe. Nggak apa-apa ya, terima kasih yang sudah mau baca opini nggak jelas ini 😀
—
-16Juli2020

Tinggalkan Balasan