“Semua memang harus dicoba untuk tahu, mengerti dan paham bahwa apa yang kita pikirkan tidak selamanya buruk.”
Mungkin itulah, sebaris kalimat yang dapat menggambarkan apa yang aku rasakan saat KKN. Awalnya menolak, begitu malas, bahkan tak ada gairah untuk ikut kegiatan ini. Bukan tanpa sebab, namun, malasnya bertemu orang baru, memutar otak mencari dana untuk biaya KKN, sampai bingung akan melakukan apa aja nanti di kampung orang.
Mungkin ada benarnya, orang-orang yang mengatakan, “Jangan asal ngomong, cobain aja dulu.” lalu, Taraaa!!! Aku merasa tertampar setelah kegiatan ini selesai. Banyak pelajaran dan pesan yang aku dapatkan dari kegiatan yang awalnya aku tolak ini.
Dari kegiatan ini aku belajar, bahwa belajar ikhlas itu susah. Awalnya diri begitu kesal ketika apa yang aku lakuin tak sebanding dengan apa yang mereka kerjakan. Namun, pada berjalannya waktu di sana, aku belajar bahwa bukan lagi waktunya membanding-bandingkan apa yang sudah dikerjakan. Bukan pula waktunya lagi mengungkit apa yang sudah aku beri dan lakukan. Diam dan ikhlaskan semuanya untuk hal-hal baik ke depannya. Susah memang, kadang walaupun mulut ini tak berbicara, kesal dalam hati masih ada. Kuncinya tetap istiqomah dengan apa yang ingin kita capai, salah satunya belajar ikhlas ini.
Baca juga: Berproses Bersama
Lalu, aku belajar sabar dan menerima kekurangan yang ada di sekitarku. Entah sabar menerima dan menghadapi berbagai karakter orang ataupun lingkungan yang tak mendukung. Dulu aku berpikir, walaupun prosesnya sulit, jatuh bangun, aku tetap mendapatkannya. Di sini aku belajar, susahnya mencari air yang saat di Jakarta sering terbuang percuma saat lupa mematikan air. Aku belajar sabar dari beberapa karakter yang berbeda dariku. Aku pikir, belajar menerima karakter orang memang perlu dilakukan terus menerus sepanjang hidup. Karena kita yang kenal dekat saja pernah berantem bagaimana orang yang baru dikenal, potensi konfliknya lebih banyak.
Semua bermuara pada semua ini begitu berharga, baik dari orang-orang baru yang aku temui di desa ataupun teman-teman satu kelompok. Banyak kejadian, suka, duka, dan tawa yang terjalin hingga akhir masa KKN. Semuanya membekas, semuanya tertinggal dalam satu kotak kenangan dalam diri masing-masing. Terima kasih sudah menjadi rumah, tempat berbagi dan atas komprominya selama sebulan ini. Sayang kalian 🙂









Film Dokumenter bisa dilihat di sini: Film Dokumenter – Melihat Lebih Dekat Usaha Yogurt Papa Jo | KKN KABINAT 34 | UIN JAKARTA 2019
—
-8Sep2019


Tinggalkan Balasan